Kala gerak sinodis Syakban sudah sempurna, Ramadan-pun tiba. Umat Islam menyambut Ramadan dengan gegap gempita. Ragam bentuk penyambutannya ada; Tarhib Ramadan, Targhib Ramadan, Songsong Ramadan, Kajian Jelang Ramadan.
Umat Islam bersuka cita menyambut Ramadan. Tentunya pula mempersiapkan diri dengan berbekal ilmu dan tazkiyatunnufus. Ramadan penuh makna, cerita dan aneka kuliner juga.
Yang pasti dalam hadis hadis Nabi Muhammad Saw, dalam Ramadan tersimpan mutiara kebaikan. Apakah klaim semata mutiara kebaikan itu? Dengan amat sedikit bekal yang dimiliki penulis, mari mutiara kebaikan itu ditelusuri jejak hadis Nabi Saw yang dihimpun dalam tiga kitab hadis induk.
Imam Malik dalam Kitab Al-Muwaththa` meriwayatkan hadis :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah, sesungguhnya ia berkata: “Jika tiba (masuk) bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, serta setan-setan dibelenggu”
Dalam Kitab Tanwir al-Hawalik Syarh ‘ala Muwaththa` Malik yang disusun oleh Al-Imam Jalal ad-Din ‘Abd Ar-Rahman bin Abi Bakr As-Suyuthi asy-Syaf’iy dijelaskan bahwa ini merupakan hadis mauquf. Dikutipkan juga pendapat Ibn Abdi al-Barr bahwa hadis mauquf ini bukan merupakan ra`y (pendapat atau pikiran), kecuali merupakan persoalan yang ketentuannya berasal dari hukum Allah dan Rasul-Nya.
Kita mengenal Kitab Al-Jami’al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasul Allah Shalla Allahu ‘alaihi wa Sallam wa Sunanihi wa Ayyamihi, yang lazim disingkat dengan Al-Jami’ ash-Shahih dan yang popular dengan sebutan Shahih al-Bukhari karya Imam Al-Bukhari. Dalam kitab ini ada dua hadis Nabi saw. Kedua hadis Nabi saw ini bersumberkan dari sahabat Abu Hurairah.
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ
Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda : “Apabila bulan Ramadan datang, maka pintu-pintu surga dibuka”
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ
Rasulullah saw. bersabda : “Apabila datang bulan Ramadan, niscaya pintu-pintu langit (surga) dibuka sedang pintu-pintu neraka Jahannam ditutup dan syetan – syetan dibelenggu”.
Imam Muslim dalam Shahih Muslim meriwayatkan dari jalur periwayatan sahabat Abu Hurairah. Dalam bab Keutaman Bulan Ramadan terdapat dua (2) hadis Nabi saw, yakni :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ
Sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda : “Apabila datang bulan Ramadlan, niscaya pintu-pintu surga dibuka sedang pintu-pintu neraka ditutup dan syetan – syetan dibelenggu”.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ
Rasulullah saw. bersabda : “Apabila bulan Ramadlan sudah masuk (ada), niscaya pintu-pintu Rahmat dibuka sedang pintu-pintu Jahannam ditutup dan syetan – syetan dibelenggu”.
Hadis Nabi Muhammad saw. yang berisi mutiara Ramadan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab al-Musnad li al-Imam Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal (disyarah dan diberikan catatan indeks oleh Ahmad Muhammad Syakir) bersumberkan dari sahabat Abu Hurairah, ia berkata :
لَمَّا حَضَرَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا قَدْ حُرِمَ
Hadis di atas ini bisa diterjemahkan secara (bebas): Tatkala Ramadan tiba Rasulullah saw. bersabda : “Sungguh bulan Ramadan datang kepada kalian. Suatu bulan Ramadan yang diberkahi (mubarak). Allah mewajibkan kepada kalian (untuk) berpuasa di bulan Ramadan ini.
Demikian pula dalam bulan Ramadan ini pintu pintu surga dibuka dan juga pintu pintu Jahim ditutup serta syetan syetan dibelenggu. Dalam bulan Ramadan ini pula terdapat satu malam yang (nilainya) lebih baik daripada seribu bulan. Siapapun yang tidak mendapatkan kebaikan satu malam itu, sungguh dia tidak mendapatkannya.
Hadis ini dikutip oleh oleh Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaif al Ma’arif fi ma li Mawasim al ‘Ami min al Wazhaif yang ditahqiq oleh ahli ilmu Yasin Muhammad as-Sawas (kitabnya hasil unduhan di google.com) dengan redaksi yang ada perbedaan sedikit :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
Hadis di atas ini bisa diterjemahkan secara (bebas), yakni Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah saw. bersabda yang memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya : “Sungguh bulan Ramadan datang kepada kalian. Bulan Ramadan merupakan bulan yang diberkahi (mubarak). Allah mewajibkan kepada kalian (untuk) berpuasa di bulan Ramadan ini. Demikian pula dalam bulan Ramadan ini pintu pintu surga dibuka dan juga pintu pintu neraka Jahim ditutup serta syetan syetan dibelenggu. Dalam bulan Ramadan ini pula terdapat satu malam yang (nilainya) lebih baik daripada seribu bulan. Siapapun yang tidak mendapatkan kebaikan satu malam itu, sungguh dia tidak mendapatkannya.
Keterangan sanad sanadnya shahih juga disematkan pada hadis ini. Setelah hadis ini dikutipkan perkataan: “Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis ini merupakan dasar atau hal pokok tentang ucapan penuh kesenangan sebagian mereka kepada sebagiannya tentang bulan Ramadan”. ‘Abdul ‘Aziz al Muhammad as Salman dalam kitabnya al-Manahil al-Hisan fi Durus Ramadan wa Yalihi Du’a Khatm al-Qur`an juga menuliskan hadis ini.
Dari hadis Nabi saw yang dikutip dalam kitab Lathaif al Ma’arif fi ma li Mawasim al ‘Ami min al Wazhaif , diksi tabsyir Ramadan menemukan relevansinya. Diksi ini tidak terletak pada matan hadis, tapi merujuk penggambaran atau narasi sahabat Abu Hurairah r.a. yang menyampaikan hadis bentuk qoul dari Rasulullah saw. wallahu a’lam bishshawab. (*)
