Takdir Ajal Tidak Menunggu Waktu

Takdir Ajal Tidak Menunggu Waktu
*) Oleh : Agus Rosid
Jemaah Masjid Baitul Fadli Gunung Anyar Tambak Surabaya.
www.majelistabligh.id -

Awalnya kita bersyukur. Ketika ada keluarga yang sakit mendadak itu langsung mendapat penanganan setiba di rumah sakit. Melihat dokternya cekatan dan peralatan serba lengkap, hati merasa tenang. Timbul keyakinan, setelah ini semuanya akan kembali pulih seperti sedia kala.

Benar saja, selang beberapa waktu setelah mendapat perawatan, ia sudah bisa diajak bicara. Dengan senyum yang melemah, ia berkata lirih, “Sudah enakan.”

Kalimat sederhana itulah yang sering kali membuat kita lengah. Saat kantuk dilepas sejenak di sela lelah mendampingi, tiba-tiba diri tersentak. Seorang dokter membangunkan dengan suara pelan, menyampaikan kabar yang membuat air mata seketika turun menetes: nyawa keluarga kita tidak tertolong.

Kita mengira rumah sakit dan tenaga medis profesional bisa menyelamatkannya. Ternyata tidak. Di titik itu, dokter hanya bisa pasrah. Seluruh peralatan canggih tak mampu menunda ajalnya, walau hanya sedetik.

Peristiwa nyata seperti ini kerap dialami banyak orang, menyadarkan betapa rapuhnya semua sandaran selama ini. Manusia sering bersandar pada kepandaian dokter, pada kecanggihan alat medis, dan pada besarnya biaya yang sanggup dibayar.

Dan begitulah kecenderungan kita sebagai manusia. Ketika musibah datang tiba-tiba, ketika orang terkasih terbaring di antara hidup dan mati, hati seringkali goyah. Di saat kalut itu, kita panik mencari sandaran yang terlihat di depan mata, hingga tanpa sadar lupa mengetuk pintu pertolongan Allah, padahal Dia-lah yang menggenggam takdir.

Lupa bahwa dokter hanya mengobati, bukan menentukan hidup dan mati. Alat hanya membantu, bukan menahan takdir. Sesungguhnya ada batas yang tidak bisa dilampaui oleh ilmu manusia, yaitu batas yang telah Allah tetapkan.

Sering kali kita merasa ajal itu masih jauh. Padahal, ajal tidak pernah membuat janji. Ia tidak menunggu kita siap.

Allah telah mengingatkan dengan sangat jelas dalam Al-Qur’an: “Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula memajukannya.” (QS. An-Nahl: 61).

Ayat ini benar-benar kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Siang tadi masih duduk bersama keluarga, bercengkerama, bercerita tentang bagaimana ia menjaga pola hidup agar kondisi badan tetap prima dan tidak gampang sakit. Namun malamnya, justru ia lebih dulu memenuhi panggilan Sang Khalik.

Itulah takdir, penuh misteri. Tidak pernah ada yang tahu kapan, di mana, dan dengan cara bagaimana akhir kehidupan kita di dunia ini.

Dari sini barulah kita paham bahwa harta dan jabatan yang dikejar setiap hari, yang membuat kadang lupa waktu, lupa keluarga, bahkan sampai melalaikan kewajiban, ternyata tidak mampu untuk menebus perpanjangan usia.

Jika demikian, lantas untuk apa harta itu kita sombongkan? Untuk apa jabatan dan kuasa kita banggakan?

Pertanyaan seperti itu pernah menyadarkan diri Khalifah Bani Abbasiyah, Harun Ar-Rasyid. Suatu hari, sang Khalifah meminta segelas air untuk diminum. Di sampingnya, duduk seorang ulama zuhud bernama Ibnu As-Sammak.

Sebelum air itu diminum, Ibnu As-Sammak bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, seandainya air itu tidak bisa kau dapatkan kecuali harus dibeli dengan separuh kerajaanmu, apakah engkau akan membelinya?”

“Tentu, akan aku beli,” jawab Harun.

“Minumlah,” kata Ibnu As-Sammak.

Setelah beliau selesai minum, sang ulama bertanya lagi, “Wahai Amirul Mukminin, seandainya air yang sudah kau minum itu tertahan di perutmu hingga kau tidak bisa buang air, dan kau harus menebusnya dengan separuh sisa kerajaanmu agar bisa keluar, apakah akan kau tebus?”

“Tentu, akan aku tebus,” jawab Harun.

Maka Ibnu As-Sammak berkata, “Wahai Amirul Mukminin, lihatlah kerajaan yang nilainya tidak lebih dari seteguk air yang masuk dan seteguk air yang keluar. Lalu untuk apa engkau banggakan dan sombongkan kerajaan itu?”

Seketika, menangislah Harun Ar-Rasyid.

Kisah itu menampar kesadaran kita: jika untuk seteguk air yang masuk dan keluar saja seluruh kerajaan rela dipertaruhkan, lantas bagaimana mungkin harta, takhta, dan teknologi bisa menahan ajal jika Allah sudah menetapkan waktunya? Saat momen itu tiba, tidak ada ruang untuk negosiasi. Tidak ada celah untuk intervensi.

Di titik inilah kita menyadari pentingnya amal sebagai bekal. Sebab ketika ajal datang, yang tersisa bukan apa yang kita simpan, melainkan apa yang telah kita titipkan sebagai kebaikan.

Harta akan dinikmati anak keturunan kita. Rumah megah akan dihuni orang lain. Jabatan akan segera digantikan. Bahkan jasad kita sendiri akan segera ditinggalkan oleh mereka yang paling kita cintai. Yang ikut masuk ke liang lahat hanyalah amal.

Sayangnya, kita sering sibuk menyiapkan bekal untuk hidup yang belum tentu lama, namun lalai menyiapkan bekal untuk mati yang sudah pasti datang.

Maka, selagi Allah masih memberi kita kemudahan mereguk air, selagi napas masih mengalir keluar-masuk tanpa bantuan alat, itulah waktu terbaik untuk berbenah. Jangan menunggu sakit, jangan menunggu sempat.

Semoga kepergian orang-orang tercinta menjadi pengingat yang lembut: bahwa hidup ini bukan tentang berapa lama kita tinggal, melainkan tentang seberapa siap kita untuk pulang. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search