Bila kita belajar hablunminallah, belajar juga hablunminannas, supaya bisa menghargai orang lain dan memanusiakan manusia. Itulah tujuan mengenali diri, tidak usah pakai bahasa ketuhanan yang terlalu tinggi, kalau ada yang lapar kita tutup mata.
Ia menegaskan bahwa hubungan dengan Allah (ḥablun min Allāh) tidak bisa dilepaskan dari hubungan dengan sesama manusia (ḥablun min an-nās). Dalam Al-Qur’an, banyak ayat yang menekankan keterkaitan keduanya:
1. QS. An-Nisā’ [4]:36
۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ
Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.
Allah memerintahkan untuk beribadah hanya kepada-Nya, lalu langsung disambung dengan perintah berbuat baik kepada orang tua, kerabat, yatim, miskin, tetangga, dan sesama.
2. QS. Al-Mā‘ūn [107]:1-7
اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ ࣖ
Artinya:
1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim
3. dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.
4. Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat,
5. (yaitu) yang lalai terhadap salatnya,761)
761) Melalaikan salat mencakup lalai akan waktu dan tujuan salat serta bermalasan dalam mengerjakannya.
6. yang berbuat riya,762)
762) Riya adalah melakukan sesuatu perbuatan tidak untuk mencari keridaan Allah, tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.
7. dan enggan (memberi) bantuan.
Shalat seseorang bisa kehilangan makna bila ia lalai terhadap yatim dan enggan menolong orang miskin.
3. QS. Al-Ḥujurāt [49]:10
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.
4. QS. Āli ‘Imrān [3]:112
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ
Artinya: Kehinaan ditimpakan kepada mereka di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka pasti mendapat murka dari Allah dan kesengsaraan ditimpakan kepada mereka. Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.
Makna ayat-ayat ini:
* Hablun min an-nās adalah bukti nyata dari iman: akhlak, kepedulian sosial, dan menjaga silaturahmi.
* Allah menegaskan bahwa ibadah ritual tidak cukup tanpa kepedulian terhadap manusia.
* Hubungan dengan sesama adalah jalan menuju ridha Allah, karena manusia adalah khalifah di bumi.
Makna filosofisnya:
* Ibadah ritual tanpa kepedulian sosial bisa menjadi kosong, karena Allah menuntut keadilan, kasih sayang, dan amanah dalam kehidupan sehari-hari.
* Hablunminannas adalah cermin kejujuran hablunminallah. Jika seseorang benar-benar dekat dengan Allah, maka ia akan memancarkan akhlak mulia kepada manusia.
* Sebaliknya, mengabaikan manusia berarti mengingkari amanah Allah, sebab manusia adalah khalifah di bumi.
Dengan kata lain, jalan menuju Allah melewati manusia: doa, dzikir, dan shalat harus berbuah pada kepedulian, keadilan, dan kasih sayang.
