Musibah dan bencana seolah menjadi tamu tetap di negeri ini. Banjir datang hampir setiap musim hujan, longsor merenggut nyawa di daerah perbukitan, gempa mengguncang rasa aman masyarakat, sementara krisis sosial terus menggerogoti sendi kehidupan.
Banyak yang menyebut semua itu sebagai faktor alam atau kesalahan teknis. Namun dalam pandangan iman, musibah tidak pernah hadir tanpa makna. Ia bisa menjadi teguran Allah atas dosa yang diabaikan dan dinormalisasi.
Allah berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menegaskan bahwa kerusakan yang meluas bukan sekadar peristiwa alam, melainkan adanya keterlibatan manusia di dalamnya. Musibah adalah bahasa langit ketika peringatan tidak lagi digubris.
Dosa yang Dianggap Biasa dan Kerusakan yang Menggunung
Masalah besar negeri ini bukan hanya dosa, tetapi hilangnya rasa bersalah terhadap dosa. Korupsi dianggap lumrah, kebohongan publik dimaklumi, manipulasi data disebut strategi, dan kezaliman dibungkus dengan dalih aturan. Ketika dosa tidak lagi membuat gelisah, maka ia berubah menjadi budaya.
Kita menyaksikan bagaimana hutan digunduli tanpa nurani, sungai dipersempit oleh bangunan, dan lingkungan dikorbankan demi keuntungan sesaat. Saat hujan deras turun dan banjir meluap, sering kali manusia lupa bahwa air hanya mengikuti jalur yang telah dirusak oleh tangan manusia itu sendiri.
Rasulullah menyampaikan :
“Apabila kemaksiatan telah merajalela pada suatu kaum, lalu mereka tidak mencegahnya, maka hampir-hampir Allah menimpakan azab secara merata kepada mereka.”
(HR. Abu Dawud)
Hadis ini mengingatkan bahwa diam terhadap kemungkaran adalah bagian dari dosa itu sendiri. Ketika masyarakat memilih aman dan nyaman, sementara kezaliman dibiarkan, musibah bisa menjadi peringatan yang menyentuh semua lapisan.
Amanah yang Dikhianati dan Bencana yang Ditanggung Bersama
Salah satu dosa paling berbahaya adalah pengkhianatan terhadap amanah, terutama amanah kepemimpinan. Kekuasaan yang seharusnya menjadi alat pelayanan malah berubah menjadi sarana kepentingan. Tata ruang dilanggar, izin dikeluarkan tanpa kajian, keselamatan rakyat dikalahkan oleh keuntungan.
Tidak sedikit bencana yang terjadi bukan murni karena alam, tetapi karena keputusan manusia yang mengabaikan keadilan dan tanggung jawab. Longsor terjadi karena lereng kehilangan penjaganya. Banjir meluas karena sungai kehilangan haknya. Rakyat kecil pun menjadi korban pertama.
Allah berfirman:
“Dan takutlah kalian terhadap fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kalian saja.”
(QS. Al-Anfal: 25)
Di ayat ini Allah menyampaikan bahwa kezaliman struktural tidak pernah berdiri sendiri. Ketika dosa dilembagakan dan dibiarkan, dampaknya akan menyeret banyak pihak, termasuk mereka yang merasa tidak terlibat langsung di dalamnya.
Musibah sebagai Peringatan dan Jalan Kembali
Islam tidak mengajarkan sikap putus asa. Tidak setiap musibah berarti murka Allah. Bagi orang beriman, musibah bisa menjadi penghapus dosa dan pengangkatan derajat.
Rasulullah bersabda:
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah hapuskan sebagian dosanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Namun, ketika musibah datang berulang, meluas, dan disertai rusaknya moral serta hilangnya rasa takut kepada Allah, maka musibah itu patut dibaca sebagai teguran kolektif.
Allah berfirman:
“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan kalian.”
(QS. Asy-Syura: 30)
Ayat ini menyimpan harapan besar. Allah tidak langsung membalas semua dosa. Musibah justru menjadi tanda bahwa pintu taubat masih terbuka.
Solusi dari bencana bukan hanya pembangunan fisik, tetapi taubat kolektif, mulai dari pemimpin hingga rakyat. Dari kebijakan hingga perilaku sehari hari. Taubat yang diwujudkan dalam kejujuran, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama serta dengan alam.
Allah menjanjikan:
“Sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi.”
(QS. Al-A’raf: 96)
Musibah dan bencana yang menimpa negeri ini bukan sekadar peristiwa alam, tetapi cermin kondisi moral manusia. Ia bukan untuk menyalahkan korban, melainkan untuk mengajak semua pihak bercermin. Jika dosa terus dinormalisasi, musibah bisa menjadi bahasa Allah yang paling keras. Namun jika taubat dihidupkan dan amanah ditegakkan, harapan untuk keselamatan negeri ini masih terbuka lebar. (*)
