The Saturnight: Kajian Gen Z, Pemuda yang Dirindukan Surga

The Saturnight: Kajian Gen Z, Pemuda yang Dirindukan Surga
www.majelistabligh.id -

#Menghidupkan Malam di Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran

Langit malam Buduran terasa lebih ramah dari biasanya. Angin berembus pelan, membawa kesejukan yang menyapa halaman Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran. Lampu-lampu masjid memantulkan cahaya hangat, berpadu dengan semangat para pemuda yang perlahan memenuhi ruang—bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi juga dengan hati yang rindu pada makna. Di bawah naungan malam yang tenang itulah, The Saturnight kembali digelar, menjadi oase ruhani bagi generasi muda yang mencari arah dan tujuan hidup.

Kajian The Saturnight edisi ke-5 ini diselenggarakan oleh Takmir Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran bersama Ar-Royyan Youth Squad, dan berlangsung pada Sabtu (10/1/2026) malam  i Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, Sidoarjo. Acara ini kembali membuktikan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah ritual, tetapi juga ruang tumbuh, ruang dialog, dan ruang harapan bagi Gen Z.

Mengusung tema “Pemuda yang Dirindukan Surga”, kajian kali ini diisi oleh Arfandi, pemuda asal Medan, alumni Pendidikan Tarjih Muhammadiyah. Dengan gaya penyampaian yang lugas, jernih, dan membumi, Arfandi mengajak para peserta merenungi satu pertanyaan besar: Sosok Pemuda Bagaimana yang dirindukan Surga?

Dalam pemaparannya, Arfandi menegaskan, pemuda yang dirindukan surga bukanlah mereka yang hanya dipenuhi aktivitas, tetapi mereka yang bertumbuh dengan kesadaran iman dan tanggung jawab. Ia merumuskan lima karakter pemuda yang dirindukan surga, berlandaskan Al-Qur’an, hadis, dan kisah-kisah teladan.

Pertama, pemuda yang bertumbuh dalam ibadah kepada Allah. Arfandi menjelaskan bahwa pemuda memiliki dinamika nafsu lawwamah yang labil dan mudah berubah, sehingga justru masa muda adalah fase paling bernilai ketika digunakan untuk mendekat kepada Allah. Ia mengutip hadis Nabi tentang “wa syābbun nasyā’a fī ‘ibādati rabbih”, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Rabb-nya.

Kedua, pemuda yang menjaga kehormatan diri, yakni berani mengatakan ‘tidak’ pada kemaksiatan. Arfandi menguatkan poin ini dengan hadis tentang seorang laki-laki yang diajak berbuat zina oleh perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, namun ia menolak seraya berkata, “innī akhāfullāh”—sesungguhnya aku takut kepada Allah.

Ketiga, pemuda yang dapat membawa perubahan. Ia mencontohkan sosok monumental Muhammad Al-Fatih, yang pada usia 21 tahun berhasil menaklukkan Konstantinopel.

“Ini sebuah bukti bahwa usia muda bukan penghalang untuk menorehkan perubahan besar bagi peradaban,” ujarnya.

Keempat, pemuda yang berbakti kepada orang tua. Dalam suasana yang hening dan penuh refleksi, Arfandi mengangkat kisah Uwais Al-Qarni, seorang pemuda yang keutamaannya menjulang tinggi di langit karena baktinya kepada ibunda. ” Sebuah pengingat bahwa keridhaan Allah berkelindan erat dengan keridhaan orang tua,” tandasnya.

Kelima, pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid. Arfandi mengutip sabda Rasulullah tentang qalbuhu mu‘allaqun fil masājid—hati yang selalu terikat dengan masjid. “Mereka bukan hanya hadir, tetapi menjadikan masjid sebagai pusat orientasi hidup, tempat kembali, dan sumber ketenangan,” tambahnya.

Seluruh poin tersebut dirajut dalam hadis tentang tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya.
” سَبعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ، الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا ففَاَتْ عَينَاهُ”
Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Imam yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, seorang yang hatinya bergantung ke masjid, dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah. Dan seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.

Hadis ini menggema kuat, seolah menegaskan bahwa jalan menuju surga terbuka lebar bagi pemuda yang mau menata iman, akhlak, dan peran sosialnya. Peserta kajian tampak larut menikmati setiap pemaparan materi. Raut wajah yang serius sesekali berganti senyum dan anggukan tanda setuju, menandakan pesan-pesan dakwah diterima dengan hati yang terbuka.

Di tangan mereka, segelas kopi dingin yang dibagikan panitia menjadi pelengkap suasana malam—mengusir kantuk, menambah semangat raga, dan menambah semangat untuk tetap setia menyimak hingga akhir.

Menjelang penutupan acara, suasana kian cair dan hangat. Athiya, selaku MC, mengajak para peserta mengikuti games yang seru dan penuh tawa. Kebersamaan pun semakin terasa—mencairkan sekat, mempererat ukhuwah, dan menegaskan bahwa dakwah Gen Z bisa hadir dengan cara yang menyenangkan tanpa kehilangan kedalaman makna.

The Saturnight bukan sekadar kajian malam. Ia adalah denyut harapan, bukti bahwa masjid masih dan akan selalu menjadi rumah bagi pemuda. Di Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, malam itu, Gen Z tidak hanya mendengarkan kajian—mereka sedang menata langkah, agar kelak layak menjadi pemuda yang benar-benar dirindukan surga. (bilqies qurrati ayun)

Tinggalkan Balasan

Search