Tuhfah Santri: Antara Ngaji dan Jago AI

Tuhfah Santri: Antara Ngaji dan Jago AI
*) Oleh : Prof Triyo Supriyatno
Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
www.majelistabligh.id -

Santri hari ini tidak lagi hidup di dunia pesantren yang terpisah dari hiruk-pikuk globalisasi. Mereka bukan sekadar penghafal kitab kuning di bawah sinar lampu teplok, tetapi juga generasi yang tumbuh di tengah derasnya arus teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan revolusi data. Maka, muncul pertanyaan yang semakin aktual: mungkinkah seorang santri tetap “alim” dalam kitab sambil “jago” dalam AI?

Pertanyaan ini bukan sekadar paradoks antara tradisi dan modernitas, melainkan peluang untuk membangun jembatan antara spiritualitas dan sains, antara akal dan wahyu. Jika dikaji secara mendalam, santri yang menguasai AI bukanlah bentuk penyimpangan dari nilai pesantren, melainkan manifestasi baru dari ijtihad intelektual Islam dalam merespons zaman.

Santri dan Tradisi Keilmuan yang Adaptif

Sejarah Islam mencatat bahwa tradisi keilmuan tidak pernah statis. Ketika umat Islam berjaya pada masa Abbasiyah, ulama-ulama besar seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan Al-Farabi bukan hanya ahli tafsir atau fikih, tetapi juga ilmuwan, matematikawan, dan filsuf. Mereka memandang ilmu bukan sesuatu yang bertentangan dengan agama, melainkan jalan menuju makrifat kepada Allah.

Tradisi pesantren yang diwariskan di Nusantara sejatinya mewarisi semangat yang sama. Ngaji dalam makna terdalam bukan sekadar membaca teks, tetapi menafsir kehidupan dengan panduan wahyu.

Al-Qur’an sendiri berulang kali menegaskan pentingnya ilmu dan akal. Allah berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar [39]: 9).

Ayat ini menegaskan bahwa keutamaan ilmu tidak terbatas pada ilmu agama semata, melainkan mencakup segala pengetahuan yang membawa manusia pada pengenalan terhadap kebesaran Allah. Maka, belajar AI pun bisa menjadi bagian dari ibadah ilmiah bila diniatkan untuk kemaslahatan umat.

Kiai-kiai besar Nusantara seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan telah menegaskan pentingnya keterbukaan terhadap ilmu dunia. KH Ahmad Dahlan bahkan memadukan ilmu agama dan sains modern dalam sistem pendidikan Muhammadiyah. Spirit itulah yang seharusnya menjadi ruh gerakan santri abad ke-21.

AI Sebagai “Kitab Baru” Peradaban

AI kini menjadi bahasa baru dunia. Dari kesehatan, ekonomi, pendidikan, hingga dakwah—semuanya tersentuh oleh kecerdasan buatan. Dalam konteks keislaman, AI sudah mulai digunakan untuk membaca teks hadis, menganalisis tafsir, bahkan memprediksi arah kiblat dengan akurasi tinggi.

Namun, AI hanyalah alat. Yang menentukan arah penggunaannya adalah manusia—dan di sinilah pentingnya kehadiran santri. Santri yang jago AI berarti santri yang mampu memanusiakan teknologi. Ia tidak terjebak pada efisiensi semata, tetapi menanamkan etika, nilai, dan makna spiritual dalam setiap inovasi.

Bayangkan jika pesantren memiliki AI lab yang dikembangkan oleh para santri sendiri. Mereka bisa merancang sistem pembelajaran Al-Qur’an berbasis suara, menganalisis naskah kuning dengan OCR (optical character recognition), atau membangun chatbot dakwah yang lembut bahasanya namun dalam hujahnya.

Ini bukan sekadar mimpi futuristik, melainkan jihad intelektual yang sangat mungkin diwujudkan. Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad).

Dengan AI, santri bisa menghadirkan manfaat lebih luas bagi umat. Mengembangkan teknologi berbasis nilai Islam menjadi bentuk nyata khairunnas anfa’uhum linnas di era digital.

Ngaji dan AI: Jalan Tengah Intelektual Muslim

Bagi sebagian orang, AI mungkin dianggap ancaman bagi tradisi spiritual. Ada kekhawatiran bahwa generasi santri menjadi terlalu “digital” dan kehilangan kekhusyukan. Namun, persoalan utamanya bukan pada teknologinya, melainkan pada mindset pendidikannya.

Santri yang jago AI tetap bisa ngaji dengan tawadhu’, selama teknologi diposisikan sebagai sarana, bukan tujuan. Dalam istilah sufistik, AI hanyalah wasilah, bukan ghayah. Sama seperti pena, komputer, atau kitab cetak yang dulu juga dianggap “asing”, namun akhirnya menjadi alat dakwah yang ampuh.

Dengan bimbingan kiai dan etika pesantren, santri bisa membangun relasi yang sehat dengan teknologi. Mereka belajar menggunakan AI tanpa terjerumus pada takabbur intelektual, serta memanfaatkan algoritma untuk kemaslahatan umat.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).

Hadis ini tidak membatasi jenis ilmu, sehingga mencakup juga penguasaan ilmu-ilmu modern seperti AI, asalkan membawa manfaat dan tidak melanggar prinsip syariah.

Etika Digital dan Akhlak Santri

Dalam Islam, ilmu tanpa adab adalah kesesatan. Maka, santri yang menguasai AI harus tetap berpegang pada prinsip al-‘ilmu bila adabin kasy-syajari bila tsamarin — ilmu tanpa adab seperti pohon tanpa buah.

Etika digital menjadi keharusan baru di era ini. Santri perlu memahami data ethics, keadilan algoritma, dan keamanan privasi, sebagaimana mereka memahami halal-haram dalam fiqh muamalah.

Pesantren dapat mengambil peran besar dengan menanamkan nilai-nilai maqashid syariah dalam pengembangan teknologi: menjaga agama (hifzh ad-din), jiwa (hifzh an-nafs), akal (hifzh al-‘aql), keturunan (hifzh an-nasl), dan harta (hifzh al-mal). Dengan demikian, AI menjadi sarana untuk menegakkan kemaslahatan, bukan sumber kerusakan.

Pesantren 5.0: Integrasi Spiritual dan Digital

Untuk menjawab tantangan ini, dunia pesantren perlu melakukan transformasi kurikulum yang kreatif dan progresif. Program santri digitalpreneur, pelatihan coding islami, atau riset interdisipliner antara AI dan ilmu tafsir bisa menjadi terobosan strategis.

Pesantren tidak boleh tertinggal. Sebab, jika dulu santri berperan dalam perjuangan kemerdekaan melalui pena dan mimbar, kini mereka dituntut berjuang melalui data dan algoritma. “Jihad intelektual” masa kini adalah menciptakan solusi digital yang membawa rahmat bagi semesta.

Tuhfah Santri: Kecerdasan yang Membumi dan Menyala

Santri jago AI bukanlah wacana futuristik, melainkan panggilan zaman. Sebagaimana Al-Qur’an menegaskan:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).

Santri yang ngaji dan jago AI berarti santri yang berilmu dan beriman sekaligus. Ia tidak hanya membaca kitab, tetapi juga menafsirkan dunia. Ia tidak sekadar menghafal ayat, tetapi juga mengolah data untuk kebaikan umat.

Mereka inilah pewaris sejati ulama masa depan—yang menjaga agama dengan ilmu, dan menjaga peradaban dengan teknologi. Karena pada akhirnya, AI hanyalah alat, tapi santri adalah nur peradaban. (*)

Tinggalkan Balasan

Search