Mengenal Perguruan Tapak Suci itu tidak sulit, cukup dengan melihat atribut seragam yang dipakai, serta ikrar yang diucapkan sebelum latihan: “Dengan Iman dan Akhlak saya menjadi kuat, tanpa Iman dan Akhlak saya menjadi lemah”.
Perguruan yang bernaung di bawah panji Muhammadiyah ini, kiprahnya di lapangan telah jauh melampaui sekat-sekat internal Persyarikatan. Ia kini telah tumbuh menjadi bagian dari ekosistem pencak silat nasional yang terbuka bagi siapa saja, lintas iman dan lintas generasi.
Di arena prestasi dunia, perguruan ini konsisten melahirkan atlet yang mewakili Indonesia di ajang resmi. Mulai dari SEA Games, Asian Games, hingga Kejuaraan Dunia. Di sana, yang mereka harumkan adalah nama bangsa dan negara, bukan sekadar atribut organisasi.
Di jaringan internasional, Tapak Suci juga telah berkembang di berbagai negara, dari Asia seperti Malaysia, Singapura, dan Timor Leste, hingga Eropa seperti Belanda dan Jerman, serta kawasan Timur Tengah dan Afrika. Menariknya, anggota dan murid di cabang-cabang luar negeri itu banyak yang berasal dari masyarakat setempat.
Inilah sisi lain dakwah berkemajuan. Kiprah Muhammadiyah yang selama ini dipandang hanya mengurusi masjid, sekolah, rumah sakit, atau kampus yang bertebaran di penjuru tanah air, ternyata juga hadir di gelanggang olahraga pencak silat yang mendunia.
Ironisnya, kiprah di dalam negeri belum terasa sebanding dengan prestasi di panggung dunia itu. Namanya belum cukup membumi di banyak lingkungan di luar Persyarikatan.
Jika perguruan silat lain yang tidak bernaung di bawah organisasi kemasyarakatan tertentu saja bisa diterima sampai ke pelosok desa, bahkan menjadi ekstrakurikuler di sekolah dan unit kegiatan mahasiswa di kampus, lantas mengapa Tapak Suci yang prestasinya sudah lintas negeri masih terasa canggung menapakkan kaki di tempat yang sama?
Pertanyaan ini tidak bermaksud mengerdilkan kiprah Tapak Suci. Bukan pula berarti tidak ada denyut aktivitas. Faktanya, di tingkat satuan pendidikan Tapak Suci sudah hadir sebagai ekstrakurikuler, di kampus negeri maupun swasta, hingga ke beberapa sekolah Islam.
Bahkan di level nasional, Tapak Suci juga bukan sekadar peserta. Dalam berbagai Kejuaraan Nasional antar perguruan yang digelar IPSI, hingga ajang PON, Tapak Suci kerap menjadi langganan juara umum. Sebut saja di Surabaya, Makassar, Pesawaran, hingga Probolinggo.
Kerja sama dengan pemerintah pun sudah terjalin. Tapak Suci dipercaya Kementerian Pertahanan dalam pembinaan karakter bangsa. Bahkan Jenderal Listyo Sigit Prabowo, saat menjabat Kapolri dianugerahi sebagai Anggota Kehormatan pada Muktamar XVI di Semarang.
Hanya saja, kehadirannya itu belum sepadan dengan prestasinya. Sebagai salah satu dari 10 Perguruan Historis yang menjadi penopang IPSI, seharusnya namanya sudah dikenal luas.
Sebagai perguruan yang memiliki sejarah panjang, Tapak Suci pada dasarnya bersifat terbuka. Di bawah koordinasi IPSI, perguruan ini selalu ambil bagian dalam setiap kejuaraan di tingkat nasional maupun daerah sebagai ikhtiar turut berkontribusi menjaga pencak silat menjadi warisan budaya bangsa.
Di sisi lain, Tapak Suci juga memiliki ciri khas yang menjadi kekuatannya. Pembinaan fisik dan karakternya menjadi kurikulum pembeda dengan perguruan silat lain. Artinya, setiap anggota memiliki jalur yang jelas untuk meraih prestasi, tetapi tidak lantas melupakan akhlak mulia sebagai tameng diri menjaga dari sifat dan perangai buruk.
Sayangnya, jika kita tengok realitas hari ini, aktivitas perguruan ini justru lebih banyak di lingkungan AUM sendiri. Latihan Tapak Suci paling hidup di sekolah dan kampus Muhammadiyah. Di luar itu, jangkauannya masih terasa terbatas.
Padahal kalau dilihat ke luar negeri, ceritanya justru berbalik. Tapak Suci tumbuh subur di berbagai belahan dunia. Pada Kejuaraan Dunia Tapak Suci setahun yang lalu saja, ajang itu diikuti ratusan pesilat dari 24 negara. Tentu ini bukan angka kecil untuk ukuran sebuah perguruan silat.
Lalu apa yang bisa kita pelajari dari perkembangan di mancanegara? Salah satunya, perguruan ini bisa hadir di tengah masyarakat yang beragam. Yang ditawarkan bukan semata identitas organisasi, melainkan nilai yang bisa diterima siapa saja: olahraga, karakter, persaudaraan, dan akhlak. Nama Tapak Suci sendiri sudah punya daya tarik, tanpa harus selalu didahului embel-embel “Putera Muhammadiyah” di setiap awal komunikasi.
Karena itu, perlu ada komitmen bersama, dari tingkat pimpinan pusat hingga ranting, bahwa Tapak Suci adalah perguruan pencak silat anggota IPSI yang sah dan terbuka untuk masyarakat luas.
Secara prinsip, tidak ada alasan untuk membatasi jangkauannya hanya di lingkungan AUM Muhammadiyah. Sebagaimana perguruan historis lainnya, ia memiliki tempat yang sama untuk hadir di sekolah umum, kampus negeri, hingga institusi negara. Kehadiran di sejumlah negara pada Kejuaraan Dunia 2025 kemarin menjadi bukti empiris bahwa Tapak Suci dapat diterima oleh masyarakat yang beragam.
Maka dari itu, Tapak Suci perlu datang dengan tawaran yang paling mendasar: olahraga, pembinaan disiplin, dan pembentukan akhlak. Dalam hal ini, identitas sebagai Ortom Muhammadiyah tidak perlu disembunyikan, namun tidak harus selalu menjadi pintu masuk di awal. Yang paling penting adalah memastikan ruh keislaman yang berkemajuan itu tetap hidup dan terasa di setiap sesi latihan.
Sebab, Tapak Suci tidak dilahirkan untuk sekadar dipajang sebagai panji kebanggaan di sudut ruang tamu gedung Persyarikatan. Ia dilahirkan untuk menjadi bagian penting dari gerakan seni dakwah yang hadir dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
Kini waktunya Tapak Suci mengepakkan kedua sayapnya dan terbang ke luar padepokan melintasi penjuru negeri. (*)
