Kalau kita sudah diberi jabatan di situ kita bisa lulus atau tidak. Kalau kita tidak punya jabatan, tidak punya pangkat, tidak punya kekayaan, pokoknya power kita tidak punya, belum teruji kita. Apakah kita orang baik atau sebaliknya?
Kalau kita punya jabatan, power, kekuatan, kekayaan, biasanya kita berubah. Kita merasa paling benar, kita merasa yang harus didengar, semua tindakan kita, itu adalah yang paling benar, orang lain itu tidak sebenar kita atau orang lain bahkan salah, itu ujiannya.
Ketika kita punya kedudukan, kita punya power, kita punya kekayaan (uang), kita bisa tetap humble, kita bisa tetap menolong orang, kita bisa berfikir lurus, tidak terlalu sensitif mendengarkan bisikan-bisikan orang, itu lolos kita.
Jadi ujian itu ketika kita punya jabatan, kalau nggak punya jabatan, kita nggak akan pernah diuji. Kami nggak pernah korupsi?. Karena kamu nggak punya kesempatan. Kami nggak pernah mendholimi orang?. Karena kamu nggak punya power. Tapi coba kalau kamu punya power dan kamu tidak melakukanya, baru kamu berhasil dengan ujian tersebut.
Ujian yang sebenarnya ketika kita diberi jabatan bukanlah sekadar kemampuan memimpin atau mengatur orang lain, melainkan bagaimana kita menjaga amanah di tengah godaan kekuasaan, harta, dan popularitas. Jabatan adalah cermin: ia memantulkan siapa diri kita sebenarnya, apakah kita tetap rendah hati, adil, dan jujur, atau justru tergelincir oleh hawa nafsu.
Dimensi Ujian Jabatan
* Amanah vs. Pengkhianatan
Jabatan adalah titipan, bukan milik pribadi. Ujian terletak pada apakah kita menunaikan amanah itu dengan benar atau menyalahgunakannya.
* Pelayanan vs. Kekuasaan
Apakah jabatan dijadikan sarana melayani umat, atau sekadar alat untuk memperkuat gengsi dan kepentingan diri?
* Integritas vs. Korupsi
Ujian terbesar adalah menjaga hati tetap bersih dari korupsi, suap, dan manipulasi, meski peluang terbuka lebar.
* Kesederhanaan vs. Kemewahan
Jabatan sering menggoda untuk hidup berlebihan. Ujian adalah tetap sederhana, dekat dengan rakyat, dan tidak terbuai fasilitas.
* Syukur vs. Sombong
Apakah jabatan membuat kita semakin bersyukur dan tunduk pada Allah, atau justru sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain?
Perspektif Qur’ani
Allah berfirman:
۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini menegaskan bahwa jabatan adalah ujian amanah dan keadilan. Siapa yang lulus, akan mendapat pahala besar; siapa yang gagal, bisa terjerumus dalam kehinaan.
Karena jabatan tidak menciptakan wajah baru, ia hanya memantulkan siapa kita sebenarnya.
* Jika hati kita jernih, jabatan akan memantulkan pelayanan, keadilan, dan kasih sayang.
* Jika hati kita keruh, jabatan akan memantulkan kesombongan, kerakusan, dan pengkhianatan.
Dalam Qur’an, amanah jabatan disebut sebagai sesuatu yang berat, sampai langit, bumi, dan gunung enggan memikulnya (QS. Al-Ahzab: 72).
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.
Itu artinya jabatan adalah cermin ujian terbesar: apakah kita tetap amanah atau justru zalim.
Ayat Al-Qur’an yang paling jelas menjelaskan bahwa jabatan, kedudukan, dan kekuasaan adalah ujian sesungguhnya terdapat dalam QS. Al-An‘am ayat 165
وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ الْاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْۗ اِنَّ رَبَّكَ سَرِيْعُ الْعِقَابِۖ وَاِنَّهٗ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ
Artinya: Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu beberapa derajat atas sebagian (yang lain) untuk menguji kamu atas apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat hukuman-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Makna ayat ini:
* Jabatan dan kedudukan bukanlah keistimewaan semata, melainkan ujian dari Allah.
* Allah meninggikan sebagian orang dengan pangkat atau kekuasaan untuk melihat apakah mereka amanah, adil, dan tidak zalim.
* Siapa yang gagal, akan mendapat siksa; siapa yang lulus, akan mendapat ampunan dan rahmat.
Kesimpulan
* Ujian jabatan bukan sekadar kemampuan memimpin, tetapi apakah kita mampu menjaga amanah, berlaku adil, dan tidak tergoda oleh kekuasaan.
* Jabatan adalah cermin: ia memantulkan siapa diri kita sebenarnya.
* Siapa yang menjadikan jabatan sebagai sarana pelayanan akan lulus ujian; siapa yang menjadikannya alat kesombongan akan gagal.
