Sering kali orang memandang jurusan keguruan dan kependidikan, termasuk Pendidikan Agama Islam maupun pendidikan umum, sebagai pilihan “cadangan”. Tidak sedikit yang berkata, “Kalau tidak keterima di jurusan favorit, ya masuk pendidikan saja.” Padahal, di balik anggapan sederhana itu, tersembunyi peran besar yang justru menentukan masa depan bangsa. Inilah ironi: yang paling penting justru paling sering disepelekan.
Kita hidup dalam masyarakat yang masih mengukur keberhasilan dari profesi bergaji tinggi atau status sosial tertentu. Dokter, insinyur, atau pebisnis sering dianggap lebih bergengsi. Sementara guru, dosen, dan pendidik sering dianggap “biasa saja”. Padahal, semua profesi hebat itu lahir dari tangan seorang pendidik. Tanpa guru, tidak ada dokter. Tanpa pendidikan, tidak ada kemajuan.
Jurusan kependidikan bukan sekadar tempat belajar mengajar. Ia adalah ruang pembentukan karakter, akhlak, dan peradaban. Di sinilah seseorang dilatih bukan hanya untuk menguasai ilmu, tetapi juga menyampaikan, membimbing, dan membentuk manusia lain. Ini bukan pekerjaan ringan, melainkan tanggung jawab besar yang menyentuh masa depan generasi.
Dalam perspektif Islam, pendidikan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
*يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ*
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu dan orang yang mengajarkannya memiliki kedudukan mulia. Maka, bagaimana mungkin jurusan pendidikan dianggap remeh, sementara ia adalah jalan menuju kemuliaan tersebut?
Lebih dari itu, Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya ilmu dan peran penyampainya. Dalam sebuah hadis disebutkan:
*خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ*
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Hadis ini bukan hanya tentang menghafal atau membaca, tetapi juga tentang proses transfer ilmu. Mengajar adalah amal mulia yang pahalanya terus mengalir. Maka jurusan Pendidikan Agama Islam, khususnya, memiliki dimensi dunia dan akhirat sekaligus.
Namun, realitasnya, banyak yang masih menganggap jurusan pendidikan sebagai pilihan “mudah”. Ini adalah kesalahan besar. Menjadi pendidik justru membutuhkan kesabaran, kreativitas, kecerdasan emosional, dan tanggung jawab moral yang tinggi. Tidak semua orang mampu berdiri di depan kelas dan membentuk karakter siswa.
Pendidikan umum maupun pendidikan agama sebenarnya saling melengkapi. Pendidikan umum membentuk kemampuan berpikir kritis, sains, dan teknologi. Sementara pendidikan agama membentuk nilai, moral, dan arah hidup. Keduanya ibarat dua sayap yang membuat manusia bisa terbang dengan seimbang.
Negara Indonesia sendiri menempatkan pendidikan sebagai hal yang sangat penting.
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat (1) disebutkan:
“Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.”
Dan ayat (3):
“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional…”
Pasal ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar pilihan individu, tetapi kewajiban negara dan hak rakyat. Maka jurusan kependidikan sejatinya berada di jantung pembangunan nasional.
Ironisnya, meskipun diakui penting oleh negara dan agama, profesi guru masih sering kurang dihargai secara sosial maupun ekonomi. Ini yang membuat sebagian orang ragu memilih jurusan ini. Padahal, jika dilihat dari dampaknya, profesi pendidik adalah investasi jangka panjang bagi peradaban.
Sering kali yang tidak terlihat dianggap tidak penting. Hasil kerja seorang guru tidak langsung terlihat seperti gedung atau uang. Namun ia tampak dalam karakter, sikap, dan masa depan anak didiknya. Dan itu jauh lebih berharga daripada sekadar materi.
Memilih jurusan pendidikan berarti memilih jalan pengabdian. Ini bukan sekadar karier, tetapi panggilan jiwa. Orang yang masuk ke dunia pendidikan harus siap menjadi teladan, bukan hanya pengajar. Ia harus mampu mendidik dengan hati, bukan sekadar menyampaikan materi.
Maka pertanyaannya bukan lagi “mana yang lebih penting?” antara pendidikan agama atau umum. Keduanya penting, tergantung pada peran yang ingin diambil. Yang lebih penting adalah kesadaran bahwa pendidikan itu sendiri adalah fondasi utama kehidupan.
Jika generasi muda terus menganggap remeh jurusan pendidikan, maka kita sedang menyiapkan masa depan yang rapuh. Namun jika kita mulai menghargainya, maka kita sedang membangun peradaban yang kuat dan berkarakter.
Akhirnya, jurusan kependidikan bukanlah pilihan terakhir, melainkan pilihan sadar bagi mereka yang ingin meninggalkan jejak besar. Bukan tentang popularitas, tetapi tentang kebermanfaatan. Karena sejatinya, yang paling penting dalam hidup bukanlah apa yang kita dapatkan, tetapi apa yang kita berikan untuk orang lain. (*)
