Ada masa ketika seseorang datang ke sekolah atau perguruan tinggi karena di sanalah pengetahuan berada. Buku tidak mudah diperoleh, sumber informasi terbatas, dan guru atau dosen menjadi pintu yang menghubungkan mahasiswa dengan dunia yang belum mereka kenal. Seorang pendidik berdiri sebagai orang yang mengetahui lebih dahulu, ia menjelaskan, mahasiswa mencatat; ia bertanya, mahasiswa menjawab. Pengetahuan bergerak dari satu kepala menuju kepala yang lain, dan selama bertahun-tahun pola itu terasa wajar.
Hari ini, keadaan berubah sangat cepat. Mahasiswa dapat menemukan definisi sebelum dosen selesai menjelaskannya. Mereka dapat meminta mesin menerangkan teori dengan bahasa yang lebih sederhana. Soal yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik. Kecerdasan buatan dapat menulis, menghitung, menganalisis data, menyusun presentasi, bahkan membangun argumentasi. Apa yang dahulu sulit diperoleh kini tersedia dengan mudah, cepat, dan hampir tanpa batas.
Perubahan ini membawa pendidikan pada sebuah pertanyaan mendasar, jika jawaban dapat diperoleh begitu mudah, lalu apa arti belajar? Pertanyaan ini seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman. Justru di sinilah pendidikan mendapat kesempatan untuk menemukan kembali alasan terdalam keberadaannya. Ketika jawaban semakin mudah diperoleh, pendidikan harus menunjukkan bahwa belajar jauh lebih dalam daripada sekadar mampu menghasilkan jawaban.
Mungkin selama ini kita terlalu lama menyamakan belajar dengan kemampuan menjawab soal. Kita merasa mahasiswa telah belajar ketika ia mampu mengulang teori dengan benar. Kita merasa pengajaran berhasil ketika seluruh materi telah selesai disampaikan. Kita merasa tugas dosen tuntas ketika semua slide telah dibahas dan semua ujian telah dinilai. Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah setelah belajar, cara mahasiswa melihat persoalan juga berubah?
Pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya menambah isi kepala. Pendidikan seharusnya membentuk cara seseorang memahami dunia, menilai bukti, mempertanyakan asumsi, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan pilihannya. Karena itu, seorang dosen membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar penguasaan materi. Ia perlu memahami jiwa dari ilmu yang diajarkannya, bukan hanya apa yang diketahui, tetapi bagaimana pengetahuan itu dibangun, mengapa ia dapat dipercaya, apa batasnya, dan untuk apa ilmu tersebut digunakan.
Di sinilah filsafat ilmu menemukan maknanya yang nyata. Filsafat ilmu bukan sekadar hafalan tentang ontologi, epistemologi, aksiologi, atau nama para filsuf. Ia bukan pula hiasan intelektual agar seorang dosen terlihat lebih akademis. Filsafat ilmu adalah keberanian untuk bertanya lebih dalam sebelum mengajar orang lain, Apa sebenarnya yang sedang saya ajarkan? Mengapa mahasiswa perlu mempelajarinya? Apa yang membuat pengetahuan ini layak dipercaya? Apa keterbatasannya? Dan apa akibatnya jika pengetahuan ini digunakan tanpa kebijaksanaan?
Lebih jauh lagi, seorang pendidik perlu bertanya, manusia seperti apa yang ingin dibentuk melalui ilmu yang saya ajarkan? Pertanyaan ini mudah tenggelam di antara kurikulum, capaian pembelajaran, nilai, akreditasi, dan berbagai tuntutan administratif. Semua itu penting, tetapi pendidikan tidak boleh kehilangan manusia. Kita tidak sedang mengajar kurikulum kepada kurikulum. Kita sedang berhadapan dengan manusia yang memiliki rasa ingin tahu, kecemasan, harapan, kelemahan, dan masa depan.
Mahasiswa hari ini juga hidup dalam dunia yang sangat ramai. Perhatian mereka diperebutkan oleh notifikasi, media sosial, video pendek, pekerjaan, hiburan, dan berbagai tuntutan hidup. Karena itu, ketika mahasiswa tampak sulit berkonsentrasi, kita tidak selalu harus tergesa-gesa menyalahkan generasinya. Bisa jadi ruang belajar memang sedang bersaing dengan dunia yang jauh lebih cepat, interaktif, dan menarik. Tantangan dosen bukan meratapi perubahan tersebut, melainkan memahami perubahan tanpa kehilangan arah pendidikan.
Di sinilah seorang pendidik dituntut mampu berubah tanpa kehilangan prinsip. Metode boleh berubah, teknologi boleh berganti, bentuk tugas boleh diperbarui, dan cara menjelaskan boleh disesuaikan. Namun tujuan terdalam pembelajaran tidak boleh hilang. Pemahaman terhadap filosofi ilmu menjadi seperti kompas, ia tidak menentukan satu jalan yang wajib ditempuh, tetapi membantu kita tetap mengetahui arah ketika medan berubah.
Kecerdasan buatan membuat kebutuhan ini semakin mendesak. Kita dapat membuat aturan mengenai penggunaannya dan menentukan batas-batas tertentu. Namun masa depan pendidikan tidak dapat dibangun hanya dengan ketakutan terhadap teknologi. Pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar, “Bagaimana agar mahasiswa tidak menggunakan AI?”, tetapi “Apa yang tetap harus mampu dilakukan mahasiswa meskipun AI tersedia?”
Jika sebuah mesin dapat menghitung, apakah mahasiswa masih harus belajar menghitung? Mungkin iya, jika proses menghitung diperlukan untuk membangun pemahaman. Namun mungkin tidak selalu, jika tujuan yang lebih tinggi adalah menafsirkan hasil dan mengambil keputusan. Jika AI dapat menulis esai, mahasiswa tetap perlu belajar menulis, tetapi bukan hanya agar mampu menghasilkan seribu kata. Mereka perlu belajar membangun gagasan, memeriksa bukti, mempertanyakan asumsi, membedakan fakta dari opini, dan mempertanggungjawabkan kesimpulan.
