Apa Arti Belajar di Era Kecerdasan Buatan

Apa Arti Belajar di Era Kecerdasan Buatan
*) Oleh : Dr. Jaharuddin
Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta.
www.majelistabligh.id -

Jika AI dapat memberikan jawaban, manusia justru perlu semakin terampil menilai jawaban. Apakah jawaban itu benar? Apa dasarnya? Apakah buktinya cukup? Apa yang tidak dijelaskan? Apa keterbatasannya? Apa akibatnya jika jawaban itu diterapkan? Mesin dapat menghasilkan kemungkinan, tetapi pertanyaan tentang kebenaran, tanggung jawab, kepantasan, dan kemanfaatan tetap membutuhkan manusia.

Karena itulah peran dosen sedang bergeser. Dosen tidak lagi harus menjadi orang yang paling cepat memberikan jawaban. Ia perlu menjadi seseorang yang membantu mahasiswa belajar bertanya dengan benar. Ia bukan hanya penyampai informasi, tetapi penjaga kedalaman. Bukan hanya pemberi tugas, tetapi pembentuk cara berpikir. Bukan sekadar pemeriksa jawaban, tetapi pembimbing dalam memahami bagaimana pengetahuan dibangun, diuji, dikritik, dan dipertanggungjawabkan.

Seorang pendidik tidak kehilangan makna hanya karena mesin mengetahui lebih banyak informasi. Nilai seorang dosen bukan terletak pada jumlah informasi di kepalanya, tetapi pada kemampuannya membantu manusia lain menemukan makna dari pengetahuan. Teknologi dapat membantu menjawab “apa”. Ilmu membantu menjelaskan “bagaimana”. Filsafat mengajak kita bertanya “mengapa”. Kemanusiaan kemudian meminta kita mempertimbangkan “untuk siapa” dan “untuk apa”.

Ilmu tanpa kedalaman dapat berubah menjadi hafalan. Teknologi tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi jalan pintas. Kepintaran tanpa nilai dapat berubah menjadi bahaya. Dan pendidikan tanpa jiwa dapat meluluskan banyak orang tanpa sungguh-sungguh membentuk manusia. Karena itu, di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, tugas terbesar pendidik bukan sekadar berlari mengejar teknologi. Tugasnya adalah memastikan bahwa di tengah kecepatan itu manusia tidak kehilangan arah.

Pada akhirnya, ketika kecerdasan buatan membuat jawaban semakin mudah diperoleh, yang menjadi semakin berharga adalah pemahaman, kebijaksanaan, integritas, kejernihan berpikir, dan kemampuan menimbang kebenaran. Di sanalah pendidikan menemukan kembali alasan keberadaannya. Dan di sanalah seorang dosen menemukan kembali martabat profesinya, bukan sebagai manusia yang mengetahui segala sesuatu, tetapi sebagai manusia yang membantu manusia lain memahami bagaimana mengetahui, mengapa perlu mengetahui, dan untuk apa pengetahuan itu digunakan.

Tujuan akhir pendidikan bukanlah membuat manusia memiliki semua jawaban. Tujuannya adalah membentuk manusia yang, ketika berhadapan dengan sebuah jawaban, memiliki kejernihan akal untuk mengujinya, kehalusan rasa untuk memahami dampaknya, keberanian hati untuk mempertanggungjawabkannya, dan kebijaksanaan jiwa untuk menggunakannya bagi kebaikan.

Ketika mesin semakin pintar menjawab, pendidikan harus semakin serius mengajarkan manusia untuk berpikir, memahami, dan menjadi bijaksana. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search