Belajar Dari Tanah

Belajar dari tanah
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan
www.majelistabligh.id -

Belajarlah dari tanah. Tetap diam walaupun diinjak injak. Tapi jika waktunya tiba, tanah mampu mengubur orang-orang yang belum pernah menginjaknya. Hidup tak perlu terlalu serius, sesuatu itu tak perlu dipaksa, jalani seperti air yang mengalir, saat gembira kita tertawa, saat senang kita tersenyum, saat sedih kita renungkan, saat salah kita perbaiki, saat dimarahi kita dengarkan, saat diuji kita bersyukur, saat dihina kita abaikan.

Tanah bukan hanya tempat berpijak, tapi juga guru yang diam-diam mengajarkan banyak hal. Mari kita gali beberapa pelajaran mendalam dari tanah:

Nilai-Nilai Kehidupan dari Tanah
* Kerendahan hati
Tanah selalu berada di bawah, namun darinya tumbuh segala kehidupan. Ia mengajarkan bahwa kerendahan bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang menopang.

* Kesabaran dan ketabahan
Meski diinjak-injak, tanah tetap diam. Ia menunggu waktunya untuk memberi hasil, menunjukkan bahwa kesabaran akan berbuah manis.

* Kemampuan menyerap dan memberi
Tanah menyerap air, menyimpan nutrisi, lalu memberikannya kembali kepada tumbuhan. Ia mengajarkan pentingnya menjadi wadah kebaikan dan sumber manfaat.

* Keadilan alam
Tanah tak membeda-bedakan siapa yang menginjaknya. Ia menerima semua, lalu mengembalikan sesuai amal dan benih yang ditanam.

Refleksi Spiritual
Dalam tradisi Islam, manusia diciptakan dari tanah. Ini bukan sekadar asal-usul biologis, tapi juga pengingat akan:
* Fitrah kesederhanaan dan kehambaan
* Keterikatan dengan bumi sebagai amanah
* Kembali kepada tanah sebagai akhir perjalanan dunia

Ada satu ayat yang sangat kuat secara spiritual dan filosofis tentang belajar dari tanah, yaitu:
QS. Thoha: 55
۞ مِنْهَا خَلَقْنٰكُمْ وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً اُخْرٰى
Darinya (tanah) itulah Kami menciptakanmu, kepadanyalah Kami akan mengembalikanmu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkanmu pada waktu yang lain.

Makna mendalam dari ayat ini:

* Asal-usul manusia: Kita berasal dari tanah, yang mengajarkan kerendahan hati dan kesadaran akan fitrah penciptaan.

* Kematian dan kebangkitan: Kita akan kembali ke tanah, lalu dibangkitkan darinya. Ini mengingatkan kita akan siklus kehidupan dan pentingnya persiapan spiritual.

* Kesetaraan hakiki: Semua manusia berasal dari unsur yang sama, sehingga tidak ada ruang untuk kesombongan atau superioritas.

Belajar dari tanah secara simbolik:

* Tanah yang subur melambangkan hati yang terbuka terhadap ilmu dan hikmah.

* Tanah yang tandus menggambarkan hati yang tertutup dan tidak menerima kebenaran.

* Tanah juga menjadi media tayammum, simbol kesucian dan kemudahan dalam ibadah.

1. Teologi Tanah: Kesadaran Asal dan Tujuan

* Asal-usul yang sama: Semua manusia berasal dari tanah—menghapus ilusi superioritas dan menanamkan kesetaraan hakiki.

* Kembali ke tanah: Kematian bukan akhir, tapi transisi menuju kehidupan akhirat. Ini mengajak kita untuk hidup dengan kesadaran akan pertanggungjawaban.

* Kebangkitan dari tanah: Tanah menjadi saksi dan medium kebangkitan, menegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah satu fase dari perjalanan ruhani.

2. Ekologi Spiritual: Merawat yang Menumbuhkan

* Ayat ini terhubung erat dengan ayat sebelumnya (Ṭāhā: 53–54), yang menyebut tanah sebagai tempat tumbuhnya tanaman dan penghidupan makhluk hidup.

* Tanah bukan sekadar materi, tapi amanah yang harus dijaga. Merusaknya berarti mengkhianati fitrah penciptaan dan keseimbangan ilahi

3. Refleksi Diri: Kerendahan Hati dan Kesadaran Diri

* Tanah itu rendah, diinjak, tapi darinya tumbuh kehidupan. Ini mengajarkan:

* Kerendahan hati sebagai jalan menuju kemuliaan.

* Kesadaran akan kefanaan sebagai pemicu untuk hidup bermakna dan berorientasi akhirat.

4. Etika Sosial: Menolak Kesombongan

* Karena kita semua berasal dari unsur yang sama, tidak ada ruang untuk kesombongan, diskriminasi, atau penindasan.

* Ayat ini menjadi dasar spiritual untuk membangun masyarakat yang inklusif, adil, dan saling menghormati.

Tinggalkan Balasan

Search