Dadang Kahmad Tawarkan Konsep “Jalan Ketiga”

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dadang Kahmad.
www.majelistabligh.id -

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan dunia digital, posisi agama kembali diuji. Menjawab tantangan tersebut, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dadang Kahmad, menegaskan pentingnya sikap adaptif agar agama tetap relevan tanpa kehilangan kedalaman spritualnya.

Pesan tersebut disampaikannya saat meluncurkan buku terbarunya berjudul Muhammadiyah dan Masa Depan Agama di Universitas Muhammadiyah Bandung, Senin (5/10/2026). Karya ini lahir dari refleksi mendalam atas 45 tahun pengabdiannya, baik sebagai kader aktif Muhammadiyah maupun Guru Besar Sosiologi Agama di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dadang menyoroti tren historis di mana setiap revolusi pengetahuan selalu memicu keraguan terhadap masa depan agama. Mulai dari Revolusi Industri berbasis positivisme, era komputasi, hingga gelombang AI saat ini, kekhawatiran bahwa teknologi akan menggeser peran agama terus berulang.

Dalam mengamati dinamika tersebut, ia memetakan tiga respons masyarakat beragama terhadap modernisasi:

  • Kelompok Penolak (Ortodoks Ekstrem): Menutup diri dari sains dan teknologi, serta memilih mempertahankan pola hidup masa lalu secara kaku.
  • Kelompok Sekuler (Asimilatif): Terlalu larut dalam kemajuan sains hingga mengabaikan peran spiritualitas. Pandangan bahwa rasionalitas dapat menyelesaikan segala persoalan ini mendasari maraknya fenomena agnostisisme dan ateisme.
  • Kelompok Adaptif (The Middle Way): Menempuh jalan tengah dengan mempertahankan keteguhan akidah dan ibadah, namun sangat terbuka memanfaatkan teknologi untuk muamalah dan kemaslahatan umat.

Menurut Dadang, kelompok ketiga inilah yang menjadi jawaban penting bagi masa depan agama. Pendekatan ini menempatkan sains bukan sebagai lawan, melainkan sebagai sarana penunjang dakwah dan kemanusiaan.

Ia juga menegaskan bahwa pendekatan adaptif ini sejalan dengan spirit Islam Berkemajuan yang diusung pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan. Sejak awal berdiri, Muhammadiyah konsisten menerapkan puritanisme dalam akidah sekaligus modernisme dalam kehidupan sosial.

Melalui buku ini, Dadang berharap masyarakat dapat menjadikan ajaran agama sebagai panduan dinamis yang senantiasa tanggap terhadap akselerasi zaman. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search