Dari Kisah Ashabul Kahfi ke Panggung Usaha: Membaca Ulang Sumpah Pemuda bagi Generasi Kini

Dari Kisah Ashabul Kahfi ke Panggung Usaha: Membaca Ulang Sumpah Pemuda bagi Generasi Kini
*) Oleh : H Imam Sugiri, ST, MM
Mahasiswa Program Doktoral Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) & Ketua Lembaga Pengembang UMKM PW Muhammadiyah Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Setiap 28 Oktober kita kembali mengenang ikrar para pemuda tahun 1928: satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Namun peringatan yang berulang setiap tahun menyimpan bahaya: ia bisa menjadi ritual tanpa makna, sekadar upacara dan unggahan ucapan di media sosial. Karena itu, Sumpah Pemuda perlu terus dibaca ulang agar semangatnya tetap hidup dan menjawab tantangan zaman.

Tulisan ini mencoba membaca Sumpah Pemuda melalui dua cermin: kisah Ashabul Kahfi dalam Al-Qur’an dan cara generasi muda hari ini memandang dunia usaha, khususnya UMKM, sebagai jalan ikut membangun bangsa—tanpa melupakan pentingnya pendidikan dan riset.

Ashabul Kahfi: Keteguhan Pemuda di Tengah Arus Zaman
Al-Qur’an menyebut para penghuni gua itu dengan istilah fityah, sekelompok pemuda. “Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka” (QS. Al-Kahfi: 13).

Mereka hidup di bawah penguasa yang zalim dan masyarakat yang menekan keyakinan. Pilihan mereka bukan ikut arus, melainkan teguh memegang nilai, meski harus menyingkir ke dalam gua.

Ada tiga pelajaran penting dari kisah ini. Pertama, keteguhan nilai: pemuda menjadi kekuatan perubahan ketika memiliki pegangan moral yang kokoh. Kedua, kebersamaan: mereka tidak berjalan sendiri, melainkan sebagai komunitas yang saling menguatkan. Ketiga, kesadaran akan perubahan zaman: ketika terbangun setelah ratusan tahun, mereka mendapati dunia telah berubah total. Uang perak yang mereka bawa menjadi tanda bahwa mereka berasal dari masa yang telah lewat.

Pelajaran ketiga ini sering terlupakan. Kisah Ashabul Kahfi mengingatkan bahwa nilai harus dijaga, tetapi cara hidup dan cara berjuang harus menyesuaikan zaman. Pemuda yang teguh namun tidak membaca perubahan berisiko “tertidur” ketika dunia bergerak cepat.

Benang Merah dengan Sumpah Pemuda 1928
Para pemuda 1928 memiliki kemiripan dengan Ashabul Kahfi. Mereka hidup di bawah kekuasaan kolonial yang menekan, tetapi memilih teguh pada cita-cita kemerdekaan. Mereka berhimpun dari Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Celebes, dan berbagai perkumpulan lain, lalu melampaui sekat kedaerahan menjadi satu kesadaran kebangsaan.

Dalam kacamata sosiologi, Emile Durkheim membedakan solidaritas mekanik—yang bertumpu pada kesamaan asal, suku, dan tradisi—dengan solidaritas organik yang bertumpu pada saling ketergantungan dalam masyarakat yang beragam. Sumpah Pemuda adalah lompatan dari solidaritas kedaerahan menuju solidaritas kebangsaan yang lebih luas. Para pemuda tidak menghapus identitas daerah, tetapi menempatkannya dalam rumah bersama bernama Indonesia.

Bedanya, jika Ashabul Kahfi menyingkir ke gua untuk menyelamatkan iman, pemuda 1928 justru keluar ke ruang publik untuk menyatukan bangsa. Keduanya sama-sama menunjukkan bahwa pemuda adalah penjaga nilai sekaligus penggerak sejarah.

Generasi Kini dan Panggung Dunia Usaha
Hari ini medan perjuangan telah berubah. Penjajahan fisik sudah berakhir, tetapi tantangan baru hadir: lapangan kerja yang terbatas, persaingan global, ketimpangan ekonomi, dan ketergantungan pada produk luar. Di tengah situasi ini, semakin banyak anak muda memandang dunia usaha, khususnya UMKM, bukan lagi sebagai pilihan terakhir, melainkan pilihan sadar untuk berkontribusi.

Perubahan cara pandang ini menarik secara sosiologis. Dahulu, keberhasilan anak muda kerap diukur dari status sebagai pegawai negeri atau karyawan perusahaan besar. Kini, generasi muda tumbuh bersama teknologi digital, media sosial, dan lokapasar daring. Mereka melihat bahwa usaha kecil bisa menjangkau pasar luas, membuka lapangan kerja, dan memberi kebebasan berkarya.

Pilihan menjadi wirausaha juga mencerminkan nilai kemandirian—sesuatu yang sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda: berdiri di atas kaki sendiri.

Angka-angka resmi memperkuat gambaran ini. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM sebagaimana dikutip Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan, jumlah UMKM Indonesia mencapai sekitar 64,2 juta unit usaha dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 61,07 persen atau senilai Rp8.573,89 triliun.

UMKM juga menyerap sekitar 117 juta pekerja atau 97 persen dari total tenaga kerja yang ada. Publikasi Data Makro UMKM Kementerian UMKM mencatat porsi PDB UMKM terhadap PDB nasional berada pada kisaran 58 hingga 61 persen sepanjang periode 2020–2024, dan mencakup hampir seluruh unit usaha di Indonesia.

Dengan kata lain, UMKM adalah tulang punggung ekonomi rakyat. Ia menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, bertahan di masa krisis, dan dekat dengan kehidupan masyarakat bawah. Ketika pemuda membangun usaha, ia tidak hanya mencari nafkah, tetapi juga memperkuat jaringan ekonomi lokal: petani mendapat pembeli, tetangga mendapat pekerjaan, dan produk daerah naik kelas. Inilah bentuk nyata nasionalisme ekonomi.

Dalam pengalaman mendampingi pelaku UMKM di Jawa Timur, saya melihat semangat ini tumbuh kuat. Banyak anak muda memulai usaha kuliner, kerajinan, fashion muslim, pertanian modern, hingga jasa digital. Namun saya juga melihat tantangan yang berulang: modal terbatas, manajemen sederhana, kualitas produk yang belum konsisten, legalitas, serta akses pasar yang sempit. Semangat saja tidak cukup.

Jangan Tertidur: Pendidikan dan Riset sebagai Fondasi
Di sinilah pelajaran Ashabul Kahfi menemukan relevansinya. Pemuda yang berwirausaha tanpa terus belajar akan seperti membawa “uang perak lama” ke pasar yang telah berubah. Produk yang laku hari ini belum tentu laku esok hari. Teknologi, selera konsumen, dan aturan pasar bergerak sangat cepat.

Karena itu, memilih jalan usaha tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan pendidikan. Sebaliknya, pendidikan adalah bekal agar usaha tumbuh berkelanjutan. Wirausaha muda membutuhkan pengetahuan tentang keuangan, pemasaran, teknologi, hukum, dan kepemimpinan. Ilmu membuat usaha tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas.

Riset juga perlu menjadi budaya. Riset tidak selalu berarti laboratorium canggih. Membaca kebutuhan konsumen, menguji produk, mencatat data penjualan, membandingkan pesaing, dan mencari bahan baku yang lebih baik adalah bentuk riset sederhana yang sangat menentukan. Di tingkat yang lebih luas, perguruan tinggi perlu menghubungkan penelitian dengan kebutuhan UMKM, sehingga ilmu tidak berhenti di jurnal, tetapi hadir dalam produk dan kesejahteraan rakyat.

Muhammadiyah sejak awal memberi teladan perpaduan ini. KH. Ahmad Dahlan adalah pedagang sekaligus pendidik dan pembaru. Gerakan dakwah, pendidikan, dan ekonomi berjalan beriringan. Etos ini relevan bagi pemuda masa kini: berdagang dengan ilmu, belajar untuk memberi manfaat, dan berusaha dengan nilai.

Peran Negara dan Masyarakat
Semangat pemuda perlu didukung ekosistem yang sehat. Pemerintah perlu memastikan akses pembiayaan yang mudah dan adil, penyederhanaan perizinan, perlindungan dari persaingan tidak sehat, serta keberpihakan pada produk dalam negeri. Program pemberdayaan tidak cukup berhenti pada pelatihan seremonial, tetapi harus disertai pendampingan berkelanjutan dan akses pasar.

Perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dan dunia usaha besar juga memiliki tanggung jawab. Kemitraan antara industri besar dan UMKM, inkubator bisnis di kampus, serta jejaring komunitas pemuda dapat mempercepat lahirnya wirausaha muda yang tangguh. Pemuda tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri, sebagaimana Ashabul Kahfi pun saling menguatkan dalam kebersamaan.
Memperbarui Sumpah

Sumpah Pemuda 1928 adalah janji untuk bersatu demi kemerdekaan. Hari ini, janji itu perlu diperbarui menjadi tekad untuk bersatu demi kemandirian dan kesejahteraan bangsa. Pemuda masa kini dapat memaknainya dengan teguh pada nilai seperti Ashabul Kahfi, bersatu melampaui sekat seperti pemuda 1928, dan bekerja nyata melalui usaha yang dibangun dengan ilmu dan riset.

Bangsa ini tidak membutuhkan pemuda yang hanya pandai berikrar, tetapi pemuda yang sanggup bekerja, belajar, dan memberi manfaat. Jangan sampai generasi kita terbangun dari “tidur panjang” dan mendapati dunia telah meninggalkan kita. Mari bangun sekarang, belajar sekarang, dan berkarya sekarang—untuk Indonesia. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search