Didik Suhardi: Madrasah Muhammadiyah Harus Mandiri, Tangguh, dan Berani Bertransformasi

Didik Suhardi: Madrasah Muhammadiyah Harus Mandiri, Tangguh, dan Berani Bertransformasi
www.majelistabligh.id -

Ketua Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, menegaskan bahwa kepala madrasah Muhammadiyah harus memiliki visi jauh ke depan, membangun tim yang solid, serta berani keluar dari zona nyaman.

Kemandirian, ketangguhan, dan daya saing global menjadi kunci agar madrasah tidak sekadar menjalankan rutinitas, melainkan mampu bertransformasi menjadi lembaga pendidikan unggulan.

Pesan tersebut disampaikan Didik saat membuka Pendidikan Khusus Kepala Madrasah (Diksuskamad) Region Jawa Tengah 3 di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Karanganyar, Ahad (1/11/2026). Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari, 1–4 November 2026, dan diikuti oleh para kepala madrasah dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Didik Suhardi: Madrasah Muhammadiyah Harus Mandiri, Tangguh, dan Berani Bertransformasi
Pimpinan Majelis Dikdasmen PNF dan peserta Pendidikan Khusus Kepala Madrasah (Diksuskamad) Region Jawa Tengah 3.

Mengusung tema “Menguatkan Mutu untuk Mewujudkan Madrasah Muhammadiyah Unggul Berwawasan Global,” pembukaan acara turut dihadiri jajaran Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, pimpinan daerah dari Blora, Pemalang, dan Pekalongan, Kepala BBGTK Karanganyar, serta tamu undangan lainnya.

Fondasi Kemandirian dan Visi Bersama

Dalam sambutannya, Didik menekankan bahwa kemandirian madrasah tidak bisa dicapai seorang diri oleh kepala madrasah. Kemandirian lahir dari kerja sama tim yang kompak, solid, komunikatif, dan kolaboratif. Karena itu, kepala madrasah wajib memastikan seluruh warga sekolah memahami visi dan misi lembaga.

“Visi tidak boleh hanya tersimpan dalam dokumen atau dipahami oleh kepala madrasah semata. Visi harus menjadi kesadaran bersama yang diterjemahkan ke dalam tanggung jawab setiap individu, mulai dari guru hingga tenaga kependidikan,” ujar Didik.

Ia memperkenalkan tiga pertanyaan mendasar dalam manajemen strategis yang perlu terus dikomunikasikan, yaitu where are we now, where do we want to go, how do we get there? (Di mana posisi kita sekarang, ke mana kita akan menuju, dan bagaimana cara mencapainya?).

Dengan pembagian tugas yang jelas—siapa mengerjakan apa dan bagaimana target diukur—visi lembaga dapat menjadi panduan kerja yang terukur dan dievaluasi bersama.

Lebih lanjut, Didik mengingatkan agar seluruh kebijakan pengelola madrasah berorientasi pada peserta didik. Terkait model pembiayaan, ia mengajak pengelola untuk membangun sistem yang sehat dan berkelanjutan. Kebiasaan menggratiskan seluruh layanan pendidikan perlu ditinjau kembali tanpa mengabaikan kepedulian sosial bagi siswa dari keluarga prasejahtera.

Ia mencontohkan bagaimana sekolah Islam dan bertaraf internasional mampu menarik minat masyarakat karena menawarkan mutu tinggi. “Masyarakat bersedia berinvestasi dalam pendidikan ketika kualitasnya jelas. Tantangannya adalah bagaimana madrasah Muhammadiyah membangun kepercayaan tersebut tanpa meninggalkan komitmen sosialnya,” imbuhnya.

Inovasi dan Keunggulan Kompetitif

Sementara itu, Irwan Akib mengingatkan bahwa pengelolaan madrasah yang berjalan “biasa-biasa saja” akan membuat lembaga tertinggal. Madrasah harus melakukan lompatan pemikiran melalui kreativitas, inovasi, dan diferensiasi agar memiliki keunggulan kompetitif.

Menurut Irwan, persaingan antarsekolah harus dipandang sebagai dorongan untuk terus memperbaiki diri, bukan sebagai ancaman. Madrasah juga dituntut berwawasan global serta membangun komunikasi yang harmonis dengan guru, orang tua, dan pimpinan persyarikatan guna menghindari gesekan akibat perbedaan cara pandang.

Terkait kesehatan finansial, Irwan menyarankan penerapan skema subsidi silang yang proporsional. Selain itu, ia menekankan pentingnya komunikasi publik yang efektif.

“Keunggulan lembaga perlu ditampilkan secara transparan—mulai dari proses pembelajaran, kualitas guru, hingga prestasi siswa—karena biaya tinggi tanpa mutu tidak akan menarik minat masyarakat,” jelasnya.

Menjaga Identitas dan Profesionalisme

Pada kesempatan yang sama, Iwan Junaedi, Wakil Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah yang juga Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, menekankan pentingnya menjaga identitas dan ruh perjuangan Muhammadiyah. Madrasah merupakan bagian dari amal usaha persyarikatan yang pengelolaannya harus bersinergi secara profesional dengan pimpinan di tingkat cabang, daerah, hingga wilayah.

Iwan menegaskan bahwa hubungan antara kepala madrasah dan pimpinan persyarikatan harus dilandasi koordinasi yang sehat, bukan pertentangan kewenangan. Ia mencontohkan pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang harus menjadi tanggung jawab kepala madrasah sesuai ketentuan, disertai tertib administrasi dan pendataan melalui sistem seperti EMIS.

“Madrasah tidak boleh hanya bergantung pada bantuan pemerintah atau terus-menerus mengeluhkan keterbatasan. Hak dan peluang tetap diperjuangkan, tetapi kemandirian lembaga harus terus dibangun,” tegas Iwan.

Dakwah Pendidikan yang Berdaya Saing

Menutup rangkaian pembukaan, Pimpinan Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, Agus Sholeh, menyimpulkan bahwa pemaparan dari para narasumber saling melengkapi arah kepemimpinan madrasah ke depan.

Didik Suhardi meletakkan fondasi melalui visi dan transformasi; Irwan Akib mendorong inovasi dan kepercayaan publik; sementara Iwan Junaedi mengingatkan pentingnya tata kelola profesional yang berakar pada nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah.

Melalui Diksuskamad ini, para kepala madrasah diharapkan tidak sekadar membawa pulang tambahan wawasan manajerial, melainkan keberanian nyata untuk membawa perubahan: maju tanpa kehilangan jati diri, mandiri tanpa memutus hubungan persyarikatan, serta profesional dalam mengemban idealisme dakwah pendidikan. || agus sholeh

 

Tinggalkan Balasan

Search