Hidup hedonis dan serakah membuat seseorang terkadang tidak memperhatikan dalam mencari rezeki yaitu tentang halal dan haramnya pekerjaan tersebut.
Seorang Muslim dalam bekerja ikhtiar mencari harta kekayaan tidak perlu terlalu banyak akan tetapi yang penting harta kekayaan itu cukup dan berkah agar bisa beribadah dengan khusyuk dan salatnya bisa berdiri dengan tegak.
Akan datang suatu masa ketika itu manusia tidak memperdulikan lagi hasil usahanya dari yang halal atau haram.( Alhadits)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا عْلَمُوْۤا اَنَّمَاۤ اَمْوَا لُكُمْ وَاَ وْلَا دُكُمْ فِتْنَةٌ ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗۤ اَجْرٌ عَظِيْمٌ
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 28)
Harta kekayaan yang dimiliki oleh seorang muslim hendaknya dalam keadaan halal dan berkah, jangan sampai mengambil milik orang lain apalagi milik negara.
Sungguh sangat memalukan jika ada orang yang punya jabatan fungsional dan penghasilan cukup tetapi masih suka iseng dan tidak malu untuk loncat pagar lalu mencuri, korupsi dan berlaku curang dengan mengambil kekayaan negara.
Mentadaburi ayat ayat berikut ini untuk mendapatkan pemahaman tentang harta kekayaan berkah, melimpah dan cara memperolehnya yang legal dan penuh tanggung jawab.
Harta kekayaan itu tanggung jawabnya dua, dari mana diperoleh dan kemana dibelanjakan dalam perhitungan hisab di hari kiyamat.
1. Orang orang yang tidak mau dilalaikan oleh bisnis duniawi
رِجَا لٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَا رَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِ قَا مِ الصَّلٰوةِ وَ اِيْتَآءِ الزَّكٰوةِ ۙ يَخَا فُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَا لْاَ بْصَا رُ
“Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual-beli dari mengingat Allah, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamaot),”
(QS. An-Nur 24: Ayat 37)
لِيَجْزِيَهُمُ اللّٰهُ اَحْسَنَ مَا عَمِلُوْا وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ ۗ وَا للّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَآءُ بِغَيْرِ حِسَا بٍ
“(mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 38)
2. Bisnis jangan sampai lupa kepada Allah SWT
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَا لُكُمْ وَلَاۤ اَوْلَا دُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-Munafiqun 63: Ayat 9)
3. Selalu bersyukur dan senang berbagi
اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَ قَا مُوا الصَّلٰوةَ وَاَ نْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَا نِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَا رَةً لَّنْ تَبُوْرَ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi,”
(QS. Fatir 35: Ayat 29)
