Mendidik anak di era modern sering kali membuat orang tua terjebak di antara dua kutub; terlalu keras (otoriter) atau terlalu bebas (permisif). Di tengah kegalauan, muncullah konsep Gentle Parenting sebagai solusinya. Menariknya, jauh sebelum istilah ini populer, Rasulullah SAW telah mencontohkan pola asuh yang mengedepankan kasih sayang tanpa kehilangan wibawa dan ketegasan.
Landasan Kasih Sayang
Fondasi utama gentle parenting ala Rasulullah adalah koneksi emosional. Beliau tidak segan menunjukkan kasih sayang secara fisik di depan umum, sesuatu yang dianggap tabu oleh masyarakat arab saat itu.
Dikisahkan dalam sebuah hadits:
عَنْ أبي هريرة – رضي الله عنه – : قال : «قَبَّلَ رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- الحسنَ بنَ عَليٍّ ، وعنده الأقْرَعُ بنُ حابس التميميُّ ، فقال الأقرعُ : إِن لي عَشْرة من الوَلَد ما قَبَّلْتُ منهم أحدا ، فنظر إِليهِ رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- ثم قالَ : مَن لا يَرْحَمْ لا يُرْحَمْ».أَخرجه البخاري، ومسلم،
Rasulullah SAW mencium Al-Hasan bin Ali, sementara di dekat beliau ada Al-Aqra’ bin Habis. Al-Aqra’ berkata, “Aku punya 10 anak, tapi tak satu pun yang pernah aku cium, Rasulullah memandangnya dan bersabda: “Siapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi” (HR. Bukhari dan Muslim).
Lembut dalam Proses, Tegas dalam Prinsip
Banyak yang salah paham bahwa menjadi lembut berarti membiarkan anak berbuat sesukanya. Rasulullah mengajarkan kelembutan pada proses penyampaian, namun tetap teguh pada prinsip nilai.
Salah satu contoh ketegasan mendidik yang terlihat saat Nabi melihat Umar bin Abi Salamah (anak tirinya) makan dengan tangan berpindah-pindah di nampan. Nabi tidak membentak, melainkan memberikan instruksi yang jelas dan tenang:
يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
“Wahai anakku, sebutlah nama Allah (baca bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada di dekatmu”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari sini kita melihat, bahwa Rasulullah SAW menerapkan sikap tegas (aturan makan harus tertib), namun disampaikan dengan cara yang lembut (panggilan sayang dan instruksi logis). Inilah esensi dari gentle parenting; fokus pada solusi serta pendidikan, bukan pada hukuman atau rasa malu.
Validasi Emosi dan Mendengarkan
Rasulullah SAW merupakan sosok pendengar yang luar biasa. Beliau sering kali merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi anak-anak saat berbicara (eye level contact). Beliau juga memvalidasi kesedihan anak kecil, seperti saat beliau menghibur seorang anak bernama Abu Umair ketika burung pipit peliharaannya mati. Beliau tidak meremehkan perasaan anak tersebut, melainkan hadir secara utuh untuk turut berempati.
Mengapa harus Lembut
Kekerasan dalam mendidik hanya akan melahirkan kepatuhan semu yang didasari rasa takut. Sebaliknya, kelembutan akan melahirkan kepatuhan yang didasari cinta serta kesadaran.
Sebagaimana sabda Nabi SAW:
يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ، وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ
Artinya. Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah SWT itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Dan Allah SWT memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan kepada kekerasan dan tidak pula diberikan kepada selainnya. (HR. Muslim, no.2593).
Oleh karena itu mendidik ala Rasulullah adalah mendidik dengan hati. Beliau mengajarkan bahwa anak manusia merupakan manusia utuh yang butuh dihormati martabatnya. Dengan meneladani beliau, kita belajar bahwa menjadi orang tua yang lembut bukan berarti lemah, dan menjadi tegas bukan berarti harus kasar.
Kelembutan adalah kunci untuk membuka pintu hati anak, sehingga nilai-nilai kebaikan yang kita tanamkan dapat tumbuh menjadi kokoh. (*)
