Hadapi Perubahan Zaman, Muhammadiyah Rungkut Ajak Umat Islam Perkuat Iman dan Kendali Diri

Hadapi Perubahan Zaman, Muhammadiyah Rungkut Ajak Umat Islam Perkuat Iman dan Kendali Diri
www.majelistabligh.id -

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital, umat Islam diingatkan untuk tetap menjadikan ibadah sebagai tujuan utama kehidupan. Pesan tersebut disampaikan dalam Pengajian Ahad Pagi Muhammadiyah Rungkut bertema “Islam dan Perubahan” yang digelar di Masjid Al Anwar Muhammadiyah Rungkut, Ahad (18/10/2026).

Pengajian yang berlangsung pukul 06.30–08.00 WIB tersebut menghadirkan Ustadz H M. Ismul Muchlis, M.Pd., Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Rungkut.

Dalam tausiyahnya, Ismul Muchlis mengawali materi dengan mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat Allah SWT. Menurutnya, rasa syukur tidak cukup diucapkan melalui lisan, tetapi harus diwujudkan dengan menggunakan nikmat yang diberikan Allah untuk melakukan ketaatan.

Ia juga mengingatkan bahwa manusia kerap menilai kebahagiaan berdasarkan terpenuhi atau tidaknya keinginan. Padahal, sesuatu yang tidak sesuai harapan bisa jadi justru menjadi jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Kalau kita senang, kita bersyukur. Kalau kita susah, kita bersabar,” demikian pesan yang ditekankan dalam pengajian tersebut.

Teknologi Berkembang, Ibadah Jangan Tertinggal
Memasuki materi inti, Ismul Muchlis mengajak jamaah memahami perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat, mulai dari era industri, komputerisasi, digitalisasi, hingga perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kemajuan teknologi telah memberikan kemudahan dalam mengakses informasi, memperoleh pengetahuan, dan menjalankan berbagai aktivitas. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan apabila tidak disertai kemampuan mengendalikan diri.

Menurutnya, perubahan zaman tidak boleh membuat umat Islam lalai terhadap hakikat penciptaan manusia, yakni untuk beribadah kepada Allah SWT.

Sebaliknya, teknologi seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperluas manfaat, meningkatkan kualitas amal saleh, serta mempermudah pelaksanaan ibadah.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan juga bagaimana manusia mampu mengarahkannya untuk kebaikan.

Jaga Lisan, Jari-Jemari dan Hati
Salah satu tantangan kehidupan digital adalah penggunaan media sosial yang tidak terkendali. Jika dahulu perkataan buruk disampaikan secara langsung, kini hal serupa dapat menyebar melalui unggahan, komentar, pesan dan berbagai bentuk interaksi digital.

Oleh karenanya, jamaah diajak untuk menjaga lisan sekaligus jari-jemari agar tidak terjerumus dalam perilaku ghibah atau menggunjing, fitnah, dan namimah atau adu domba.

Selain menjaga perkataan, umat Islam juga perlu merawat hati. Dalam Islam, hati memiliki kedudukan penting karena berkaitan erat dengan perilaku dan kualitas amal seseorang.

Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menegaskan akan pentingnya menjaga kebersihan hati agar perilaku lahiriah juga terjaga. Umat Islam pun diingatkan untuk menghindari sifat riya, yakni melakukan atau menampilkan amal demi mendapatkan pujian dan pengakuan manusia.

Sebab, nilai suatu amal tidak semata-mata ditentukan oleh penampilan luarnya, tetapi juga oleh keikhlasan niat yang mendasarinya.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, melainkan hati dan amal mereka.

Dengan demikian, menjaga hati menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan zaman. Kecanggihan teknologi dan kemudahan menampilkan diri di ruang digital tidak seharusnya membuat seseorang terjebak dalam budaya pamer dan mengejar pengakuan.

Mengelola Waktu agar Tidak Kehilangan Kesempatan Beramal
Selain menjaga lisan dan hati, jamaah juga diajak untuk pandai mengatur waktu. Setiap aktivitas hendaknya diawali dengan ibadah dan doa agar kehidupan sehari-hari senantiasa berada dalam kesadaran untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Waktu, menurut pesan yang disampaikan dalam pengajian tersebut, merupakan kesempatan berharga yang tidak boleh dihabiskan untuk hal-hal yang sia-sia. Sebab, kehidupan dunia memiliki batas, sedangkan setiap manusia akan kembali kepada Allah SWT dengan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya.

Oleh karena itu, perkembangan teknologi semestinya membuat manusia semakin produktif dalam kebaikan, bukan justru semakin jauh dari ibadah dan tanggung jawab spiritual.

Pengajian Ahad Pagi Muhammadiyah Rungkut ini menjadi momentum refleksi bagi umat Islam untuk menyikapi perubahan secara bijak. Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan kecerdasan buatan, penguatan iman, pengendalian diri, keikhlasan, serta pengelolaan waktu tetap menjadi bekal penting.

Pesan utamanya jelas: zaman boleh berubah, teknologi boleh semakin canggih, tetapi iman dan orientasi ibadah harus tetap terjaga. Dengan begitu, kemajuan tidak hanya menghadirkan kemudahan hidup, tetapi juga menjadi jalan untuk memperbanyak amal saleh dan meraih rida Allah SWT.

Di akhir pengajian, tak lupa PCM Rungkut melalui LKSA Muhammadiyah Rungkut menggelar santunan rutin kepada anak asuh non-asrama, janda miskin dan dhuafa. (m. ainul yaqin ahsan)

 

Tinggalkan Balasan

Search