Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengkritik tajam sejumlah paradoks keberagamaan di Indonesia. Meski mayoritas penduduk beragama Islam, fakta di lapangan menunjukkan masih maraknya praktik korupsi yang berlangsung secara masif, sistematis, dan terstruktur.
Hal ini disampaikan Haedar dalam acara Hari Bermuhammadiyah (HBM) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), di Gedung Cendekia UMJ, Sabtu (5/9/2026).
“Ini menunjukkan bahwa tingkat keberagamaan kita belum berbanding lurus dengan kejujuran, termasuk dalam mencari rezeki yang halal,” tegasnya seraya mengutip Surah As-Saff ayat 3 tentang murka Allah terhadap mereka yang tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan.
Selain korupsi, Haedar menyoroti etika bermasyarakat di ruang digital. Mengacu pada riset Microsoft mengenai rendahnya tingkat kesopanan warganet Indonesia, ia menyayangkan perbedaan pendapat di media sosial yang sering kali dibalas dengan lontaran kasar dan jauh dari nilai al-akhlaq al-karimah.
Problem ini makin diperparah oleh rendahnya budaya literasi, kelemahan daya kritis, serta kurangnya kesadaran ilmu pengetahuan yang membuat masyarakat gampang menelan informasi mentah-mentah tanpa verifikasi (tabayyun).
“Orang yang berakal, cerdas, dan berilmu adalah mereka yang mampu mendengarkan berbagai pandangan, lalu memilih yang terbaik,” tutur Haedar.
Menjaga Kepercayaan Publik
Di sisi lain, Haedar Nashir menegaskan bahwa tingginya kepercayaan masyarakat terhadap Muhammadiyah harus dijawab dengan penguatan dakwah dan tajdid yang mencerahkan, mencerdaskan, serta memajukan kehidupan.
Tingginya legitimitasi publik ini merujuk pada temuan survei Litbang Kompas tahun 2024 yang mencatat 91 persen responden menaruh kepercayaan positif kepada Muhammadiyah. Angka senada (91–92 persen) juga ditemukan dalam riset Lembaga Kebijakan Publik Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di kalangan milenial dan Gen Z, khususnya terkait peran Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan dakwah.
Menurut Haedar, capaian tersebut menjadi modal penting di tengah maraknya sikap skeptis generasi muda terhadap peran agama dalam kehidupan modern. Skeptisisme itu timbul akibat fenomena konflik bernuansa agama serta perilaku sejumlah tokoh dan organisasi keagamaan yang dinilai kurang memberikan keteladanan.
“Hasil survei ini membuktikan Muhammadiyah konsisten sebagai organisasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan yang mampu merawat kehidupan beragama di tengah masyarakat,” ujar Haedar. (*/tim)
