Konsistensi dalam membangun budaya berbahasa kembali membuahkan hasil manis. Tegar Al Ayman, siswa SMP Muhammadiyah 13 Panceng (Hamas School), sukses meraih Medali Perak (Silver Medal) pada ajang bergengsi Muhammadiyah Education Awards (ME Awards) 2026 untuk kategori Essay Bahasa Arab.
Capaian ini membuktikan bahwa sekolah umum berbasis non-pesantren pun mampu mencetak generasi yang mahir dan percaya diri berbahasa Arab.
Di babak final, Tegar tidak hanya diuji lewat tulisan esainya yang bertajuk:
كيف نصبح قادة المحمدية في المستقبل
Bagaimana kita menjadi pemimpin Muhammadiyah di masa depan?
Tetapi juga harus mempertahankan gagasannya di hadapan dewan juri. Dengan tenang dan lancar, Tegar menjawab seluruh pertanyaan juri menggunakan bahasa Arab secara langsung.
“Awalnya saya tidak menyangka bisa melangkah sejauh ini hingga meraih medali perak. Pengalaman ini sangat berharga dan menguji kepercayaan diri saya,” ungkap Tegar.
Dalam esainya, ia menekankan bahwa kepemimpinan Muhammadiyah masa depan tidak sekadar mengejar jabatan, melainkan amanah pelayanan yang mengintegrasikan iman, ilmu, dan akhlak.
Keberhasilan Tegar tidak lepas dari ekosistem yang dibangun sekolah melalui program harian Shobahul Lugho (Bahasa Pagi). Digelar rutin setiap pagi usai salat Dhuha, program ini membiasakan para siswa berkomunikasi sederhana dalam bahasa Arab. Program ini juga berjalan selaras dengan kegiatan Tahfidzul Qur’an untuk menguatkan karakter religius siswa.
Gagasan di balik program ini diinisiasi oleh pengurus Hamas School alumni Universitas Al-Azhar Kairo, Abdullah Wasian, Lc. Menurutnya, menciptakan lingkungan berbahasa Arab tidak harus selalu bergantung pada status pondok pesantren.
“Pembelajaran bahasa Arab tidak harus berada di lingkungan pesantren. Sekolah non-pondok pun bisa, asalkan dibangun lewat pembiasaan yang konsisten. Bahasa tidak hanya dibaca di buku, tetapi didengar, diucapkan, dan dipraktikkan,” jelas Abdullah Wasian.
Dalam pelaksanaannya, Shobahul Lugho didampingi oleh Ustaz Moh. Tholaat Wafa, alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, yang membimbing siswa secara bertahap hingga berani tampil dalam kehidupan sehari-hari.
Apresiasi tinggi datang dari berbagai pihak. Ustadzah Azza selaku pembina menegaskan bahwa medali perak ini merupakan simbol dari keberanian, konsistensi berlatih, dan kemampuan mempertanggungjawabkan gagasan di panggung nasional. Rasa bangga juga diutarakan Uswatun Hasanah, ibunda Tegar, yang menyampaikan terima kasih atas ruang tumbuh yang diberikan pihak sekolah.
Bagi Hamas School, Shobahul Lugho bukan sekadar program kebahasaan, melainkan ikhtiar membentuk generasi Muhammadiyah yang berwawasan luas, berakhlak mulia, dan siap memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas. Dari pembiasaan sederhana setiap pagi di Panceng, Gresik, tumbuh keberanian yang melahirkan prestasi di tingkat nasional. (*/tim)
