Jangan Panik: Ikhtiar Pangan dalam Perspektif Islam

Jangan Panik: Ikhtiar Pangan dalam Perspektif Islam
*) Oleh : Ishom el-Saha
Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten
www.majelistabligh.id -

Jangan Panik! Pesan bijak ini sangat relevan disampaikan kepada masyarakat luas, menyusul imbauan dari sejumlah negara di dunia, seperti Inggris dan negara-negara Uni Eropa. Pemerintah di sana meminta warga negaranya menyimpan pasokan makanan dan minuman untuk 72 jam ke depan guna menghadapi situasi darurat.

Imbauan ini bukanlah tanda bahwa bencana atau krisis pangan pasti segera terjadi, melainkan langkah mitigasi untuk menekan risiko ketika keadaan darurat mengganggu aktivitas dan distribusi kebutuhan pokok.

Mitigasi berupa ikhtiar pangan sejatinya telah lama diajarkan dalam Islam. Pentingnya perencanaan mitigasi—sebagaimana konsep modern saat ini—tercantum dalam Al-Qur’an Surah Yusuf ayat 47–49. Nabi Yusuf a.s. memberikan strategi menghadapi tujuh tahun masa subur yang disusul tujuh tahun masa paceklik. Hasil panen perlu dikelola dan disimpan dengan baik agar masyarakat mampu bertahan melewati masa sulit.

Kisah ini menegaskan bahwa persiapan dilakukan saat kondisi masih stabil, bukan setelah krisis melanda. Persediaan pangan bukan sekadar menyimpan makanan, melainkan mengelola sumber daya, mengendalikan konsumsi, dan menjaga keberlangsungan hidup.

Prinsip tersebut sangat relevan bagi keluarga Indonesia. Menyediakan pasokan makanan tahan lama, air bersih, dan kebutuhan dasar secukupnya merupakan langkah rasional untuk mengantisipasi potensi bencana alam atau gangguan distribusi. Kita tidak perlu menunggu keadaan darurat untuk mulai bersiap.

Rasulullah saw juga mengingatkan:

“Barang siapa di antara kalian merasa aman di rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia beserta isinya telah diserahkan kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi)

Pesan ini mengajarkan kita untuk mensyukuri kebutuhan mendasar sekaligus mengelolanya secara bertanggung jawab. Tawakal bukan berarti pasif menghadapi risiko. Sebaliknya, ikhtiar adalah bagian dari tanggung jawab manusia dalam menjalani kehidupan.

Menyiapkan persediaan secukupnya bukanlah meramalkan bencana. Sebagaimana kita menabung bukan karena pasti akan kehilangan pekerjaan, kita menyiapkan perlengkapan darurat bukan karena yakin musibah akan datang. Kita melakukannya karena sadar bahwa masa depan penuh ketidakpastian.

Pemahaman ini penting digaungkan agar masyarakat tidak panik dan berorientasi pada kepentingan pribadi semata—apalagi sampai memborong atau menimbun barang (panic buying) demi keuntungan sendiri.

Kesiapsiagaan dalam Islam juga memuat dimensi solidaritas. Ketika Ja’far bin Abi Thalib gugur, Rasulullah saw meminta para sahabat menyiapkan makanan bagi keluarga almarhum yang sedang berduka (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Teladan ini mengingatkan bahwa menghadapi musibah bukan hanya urusan pribadi. Ada tanggung jawab sosial untuk membantu sesama, baik melalui dapur umum, bantuan pangan, maupun pendampingan bagi kelompok rentan.

Oleh karena itu, persiapan tidak boleh berujung pada penimbunan. Belilah kebutuhan sesuai keperluan dan kemampuan, perhatikan masa simpan bahan makanan, serta hindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Masyarakat juga perlu mematuhi panduan dari BNPB, BPBD, dan BMKG sesuai potensi ancaman di wilayah masing-masing. Mempersiapkan pasokan kebutuhan dasar untuk tiga hari bisa menjadi titik awal yang disesuaikan dengan kondisi keluarga dan tingkat risiko setempat.

Kebijakan negara lain hendaknya dijadikan bahan pembelajaran, bukan sumber kecemasan. Rekomendasi persediaan 72 jam tidak otomatis menandakan perang atau krisis pangan global akan terjadi. Indonesia perlu memperkuat kesiapsiagaan berbasis risiko nyata, diiringi komitmen pemerintah dalam menjaga kelancaran distribusi serta ketahanan pangan nasional.

Mari kita bangun keluarga yang sigap tanpa kehilangan ketenangan, masyarakat yang waspada tanpa mudah terprovokasi, serta lingkungan yang saling menolong saat kesulitan melanda.

Bersiaplah tanpa panik, berhematlah tanpa menimbun, dan bertawakallah tanpa meninggalkan ikhtiar. Sebab, kesiapsiagaan sejati bukan hanya tentang kemampuan bertahan di masa sulit, tetapi juga kesediaan untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan mengulurkan tangan bagi sesama. || sumber: kemenag

 

Tinggalkan Balasan

Search