Jejak Ahad PahingMu: Dari Pengajian Berpasaran Hingga Penggerak Umat

Pengajian Ahad Paing selalu dihadiri banyak jemaah. (ist)
www.majelistabligh.id -

Di sebuah rumah sederhana yang berdiri persis di sebelah Masjid Al Manar, Dusun Nglencong, Desa Kauman, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, hidup seorang lelaki uzur yang tak pernah henti memikirkan syiar Islam. Dialah Hadi Purnomo. Di usianya yang telah menginjak 75 tahun, mantan guru SMP Muhammadiyah 2 Ngawi ini tersenyum sumringah setiap kali mengenang perjalanan panjang dakwah di tanah kelahirannya.

Kisah itu bermula pada tahun 2009. Berawal dari keprihatinannya melihat geliat dakwah yang masih redup, Hadi menggagas sebuah majelis ilmu yang dinamai Pengajian Ahad PahingMU di Masjid Al Manar. Penamaan “PahingMU” bukanlah tanpa alasan, melainkan bentuk kearifan lokal dalam membaca kebiasaan masyarakat setempat.

“Masyarakat desa sini itu sering lupa tanggalan masehi, tapi kalau hari pasaran Jawa pasti hapal di luar kepala. Jadi kami sepakat pakai Ahad Pahing, supaya warga selalu ingat jadwal mengaji tanpa perlu melihat kalender,” kenang Hadi Purnomo sembari terkekeh pelan.

Hadi Purnomo, perintis pengajian Ahad Paing di Nglencong, Ngawi. (aw)
Hadi Purnomo, perintis pengajian Ahad Paing di Nglencong, Ngawi. (aw)

Pemilihan hari Pahing juga mempertimbangkan ritme ekonomi warga. Di wilayah tersebut, hari pasaran telah terbagi secara alami: hari Pon merupakan jadwal Pasar Desa Jagir, Wage untuk Pasar Ndua Cepoko, sementara Legi adalah waktu ramai Pasar Jagir dan Ndua. Hari Ahad Pahing menjadi celah waktu terbaik saat warga tidak terserap oleh aktivitas pasar.

Perjuangan awal tak berbuah manis seketika. Pada masa-masa perintisan, jamaah yang hadir usai shalat Subuh bisa dihitung dengan jari, hanya berkisar 20 hingga 25 orang. Namun, Hadi dan para pengurus masjid tak patah arang.

Strategi dakwah pun terus diperbarui. Untuk menarik minat masyarakat, pengurus berikhtiar mendatangkan penceramah-penceramah kondang dari Surabaya, Gresik, dan sekitarnya.

Tugas berat berburu penceramah handal tersebut dipercayakan kepada Kiai Yoyon Mudjiono, tokoh desa setempat yang bekerja di Surabaya. Ikhtiar ini membuahkan hasil luar biasa. Nama majelis ini kian harum, bahkan tokoh-tokoh besar bersedia hadir membagikan ilmu. Salah satunya adalah Kang Suyoto, yang kala itu masih menjabat sebagai Bupati Bojonegoro.

Kehadiran Pengajian Ahad PahingMU juga memperkuat fungsi Masjid Al Manar sebagai pusat peradaban desa. Awalnya, tapak tanah masjid ini merupakan tanah wakaf dari putra-putri Mbah H. Zainal, seorang tokoh Muhammadiyah setempat.

Prosesi ijab kabul wakaf diterima oleh Shihabudin, Kepala Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Nglencong kala itu, untuk diperuntukkan bagi jamaah MIM Nglencong dan SMP Muhammadiyah 2 Ngawi.

Masjid ini menjadi saksi bisu dinamika sosial keagamaan di Kecamatan Sine. Wilayah yang dahulu didominasi oleh penganut aliran Tarekat Sattariyah, lambat laun mulai terbuka dan tertarik dengan pendekatan dakwah Muhammadiyah yang santun.

Sebagai penanda sejarah bertautnya tradisi dan pembaharuan, di dalam masjid kini berdiri kokoh sebuah mimbar tua bertuliskan “moehammadijah” dalam ejaan lama.

“Melihat jamaah PahingMU yang datang sekarang sudah lebih dari 400 orang, rasanya bahagia sekali. Harapan saya sederhana, semoga ini menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir,” tutur Hadi penuh haru.

Kini, riuh ratusan jamaah yang memadati Masjid Al Manar setiap Ahad Pahing menjadi bukti nyata bahwa kesederhanaan ikhtiar yang dirawat dengan konsistensi mampu menggerakkan tatanan sosial masyarakat menuju kebaikan. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search