Kementerian Agama (Kemenag) bekerja sama dengan UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan Pelatihan Moderasi Beragama bagi 60 peserta pilihan dari berbagai wilayah Indonesia. Kegiatan yang berlangsung selama tujuh hari, 26 Oktober hingga 1 November 2026, ini bertujuan mencetak fasilitator Andal guna memperluas praktik keberagamaan yang rukun dan inklusif.
Pelatihan ini merupakan kolaborasi Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) serta Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbangkom) Kemenag, dengan dukungan dana abadi pendidikan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Bagi UIN Bandung, ini menjadi kali ketiga kampus tersebut dipercaya sebagai perguruan tinggi penyelenggara setelah 2023 dan 2025.
Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kemenag, Muhammad Ali Ramdhani, menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan fondasi utama dari delapan program prioritas Kemenag 2024–2029 yang terangkum dalam Asta Protas.
“Dari delapan program prioritas Kemenag, kerukunan dan moderasi beragama ditempatkan paling awal. Tanpa kehidupan beragama yang rukun dan moderat, program-program lainnya tidak akan berjalan dengan baik,” ujar Ali Ramdhani.
Pria yang akrab disapa Kaban Dhani ini menambahkan, para peserta yang terdiri atas guru, dosen, dan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag merupakan ujung tombak dalam merealisasikan Asta Protas di lapangan.
“Asta Protas tidak akan bermakna jika hanya berhenti sebagai dokumen. Bapak dan Ibu yang hadir di sini adalah ujung tombak yang akan menghidupkannya di madrasah, kampus, dan kantor layanan,” tegasnya.
Menurut Kaban Dhani, seorang fasilitator moderasi beragama wajib membekali diri dengan kecerdasan intelektual dan emosional. Selain menguasai materi, fasilitator dituntut cerdas berkomunikasi, peka terhadap dinamika sosial, serta bijak menyampaikan pesan sesuai konteks masyarakat.
Selama tujuh hari pembekalan, para peserta digembleng untuk memetakan potensi konflik dan intoleransi sejak dini di lingkungan kerja masing-masing. Mereka juga dilatih merumuskan strategi kontekstual agar nilai moderasi beragama dapat diterapkan nyata—baik dalam proses belajar-mengajar, riset akademis, maupun layanan publik.
Melalui pelatihan ini, Kemenag dan UIN Bandung berharap nilai-nilai kerukunan dan cinta kemanusiaan tidak berhenti di ruang kelas, melainkan menular ke lingkungan keluarga dan masyarakat luas demi terciptanya ekosistem keberagamaan yang damai dan bermartabat. (*/tim)
