Ketika Keunggulan Menjadi Ancaman dalam Organisasi

Ketika Keunggulan Menjadi Ancaman dalam Organisasi
*) Oleh : Dr. Jaharuddin,
Dosen FEB Universsitas Muhammadiyah Jakarta.
www.majelistabligh.id -

Akibatnya dapat lebih mahal daripada turnover seorang pegawai. Orang-orang mulai melakukan rasionalisasi terhadap potensi mereka sendiri. Mereka masih hadir, tetapi membawa versi yang lebih kecil dari kemampuan mereka. Mereka mengetahui kesalahan tetapi memilih diam. Mereka mempunyai ide tetapi menunggu orang lain mengambil risiko. Mereka mampu bekerja jauh lebih baik tetapi memahami bahwa tambahan kualitas tidak selalu menghasilkan tambahan penghargaan.

Pada tahap inilah sebuah organisasi tidak lagi hanya kehilangan talent; ia mulai kehilangan keberanian kolektif. Bahaya terbesar bukan ketika orang terbaik pergi. Bahaya terbesar adalah ketika orang terbaik tetap tinggal tetapi belajar untuk tidak lagi memberikan yang terbaik.

Tetapi refleksi yang adil juga harus diarahkan kepada high performer. Kompetensi tidak memberikan kekebalan moral. Kinerja tinggi tidak membuat seseorang otomatis benar dalam seluruh aspek. Seseorang dapat sangat cemerlang secara teknis sekaligus buruk dalam koordinasi, melelahkan orang lain, meremehkan kolega, mengabaikan proses, atau menggunakan kecerdasannya sebagai alasan untuk tidak belajar tentang manusia.

Organisasi keliru bila menganggap semua perbedaan sebagai ketidakcocokan; tetapi seorang high performer juga keliru jika menganggap setiap resistensi sebagai bukti bahwa orang lain iri kepadanya. Kalimat “mereka tidak suka saya karena saya terlalu bagus” harus dicurigai sama seriusnya dengan kalimat manajemen “dia bagus, tetapi tidak cocok dengan budaya kita.” Keduanya dapat benar. Keduanya juga dapat menjadi cara elegan untuk menghindari introspeksi.

Karena itu, pertanyaan yang paling penting bukan “siapa yang salah?”, melainkan “apa yang sebenarnya sedang terjadi?” Keunggulan harus diverifikasi dengan data, bukan hanya perasaan diri. Kritik harus diterjemahkan ke perilaku konkret, bukan disembunyikan dalam label kabur seperti “tidak kolaboratif”, “kurang humble”, atau “terlalu idealis”.

Organisasi yang sehat membutuhkan bukti dari berbagai sumber, hasil kerja, kualitas, dampak, konsistensi, penilaian rekan, stakeholder, serta biaya sosial yang memang dapat dibuktikan. Hanya dengan demikian kita dapat membedakan tiga hal yang sering tercampur, orang unggul yang sungguh ditekan, orang unggul yang memang mempunyai masalah interpersonal, dan orang yang merasa unggul tetapi tidak memiliki bukti objektif yang cukup.

Solusinya karena itu tidak boleh berupa nasihat dangkal, “jangan terlalu menonjol.” Menyuruh orang kompeten mengecilkan dirinya agar diterima adalah pemborosan manusia. Tetapi solusi juga bukan mengajarkan high performer untuk mengabaikan konteks sosial. Yang dibutuhkan adalah menjaga standar sambil meningkatkan kemampuan menerjemahkan standar itu ke dalam relasi. Kualitas tidak perlu diturunkan; cara menghadirkannya dapat diperbaiki.

Orang yang mempunyai jawaban benar tetap perlu mengetahui kapan berbicara, bagaimana menyampaikan kritik tanpa mempermalukan, bagaimana membuat perubahan terasa sebagai kemenangan bersama, dan bagaimana mengubah superioritas personal menjadi kapasitas kolektif. Keunggulan yang matang bukan hanya mampu berkata, “Saya dapat melakukannya lebih baik,” tetapi juga mampu membuat orang lain berkata, “Dengan kehadirannya, kami semua menjadi lebih baik.”

Tanggung jawab yang lebih besar tetap berada pada organisasi dan pemimpinnya. Pemimpin harus mampu membedakan ancaman terhadap ego dari ancaman terhadap institusi. HR harus membangun mekanisme evaluasi yang tidak sepenuhnya bergantung pada satu pintu kekuasaan. Kriteria performance perlu cukup jelas untuk mengurangi ruang bagi narasi politik yang sewenang-wenang. Feedback harus spesifik dan dapat diuji. Talent yang unggul perlu diberi ruang sekaligus kewajiban untuk mentransfer pengetahuan. Tim perlu dihargai bukan hanya karena siapa yang menjadi bintang, tetapi juga karena seberapa jauh kemampuan terbaik seseorang berubah menjadi kemampuan bersama. Sebuah organisasi belum benar-benar berhasil mengelola talent hanya karena mampu menemukan orang hebat; ia berhasil ketika kehadiran orang hebat itu memperbesar kapasitas sistem, bukan memperbesar kecemasan sistem.

Pada akhirnya, fenomena ini mengajarkan sesuatu yang lebih dalam daripada persoalan politik kantor. Ia berbicara tentang kedewasaan manusia ketika berhadapan dengan keunggulan orang lain. Tidak semua orang yang lebih baik daripada kita sedang merendahkan kita. Tidak semua kritik terhadap cara lama merupakan penghinaan terhadap orang yang membangunnya. Tidak semua bawahan yang lebih pintar sedang mengambil kursi atasannya. Kematangan organisasi mulai terlihat ketika prestasi orang lain tidak harus diterjemahkan sebagai penurunan harga diri kita sendiri.

Ukuran budaya unggul karena itu bukan banyaknya slogan tentang excellence. Ukurannya adalah apa yang dilakukan organisasi ketika excellence sungguh-sungguh muncul dan mengusik keseimbangan lama. Organisasi yang rapuh akan berusaha memulihkan kenyamanan. Organisasi yang dewasa akan memeriksa apakah ketidaknyamanan itu membawa informasi. Yang pertama bertanya, “Bagaimana membuat orang ini lebih mudah menyesuaikan diri?” Yang kedua bertanya, “Apakah keberadaan orang ini sedang menunjukkan sesuatu yang perlu kita pelajari?”

Perbedaan kedua pertanyaan itu tampak kecil, tetapi menentukan masa depan institusi. Sebab peradaban organisasi tidak bergerak maju karena semua orang berhasil menjadi sama. Ia bergerak maju ketika perbedaan kemampuan tidak segera dibaca sebagai ancaman, ketika keunggulan dapat diterima tanpa pemujaan dan dikritik tanpa penghancuran, serta ketika orang terbaik tidak dipaksa turun agar semua orang merasa nyaman.

Organisasi terbaik bukanlah organisasi yang tidak pernah mengalami ketegangan akibat keunggulan. Organisasi terbaik adalah organisasi yang mampu mengolah ketegangan itu menjadi pembelajaran, memperbaiki manusianya tanpa mematahkan kualitasnya, dan akhirnya mengubah prestasi individual menjadi kemajuan bersama.

 

Tinggalkan Balasan

Search