Ada sebuah ironi yang sering terpampang nyata di papan pengumuman masjid kita: Saldo Kas: Rp500.000.000. Angka nolnya berderet panjang, ditulis dengan bangga seolah itu adalah skor prestasi. Namun, tepat beberapa meter di luar tembok masjid yang berlapis marmer mahal itu, seorang janda tua bingung mencari uang sekolah anaknya, dan seorang pemuda terjebak pinjol karena urusan perut.
Jika ukuran kemakmuran masjid hanya dilihat dari tumpukan angka di rekening bank atau tinggi menara yang menembus awan, maka kita sedang mengalami pergeseran makna yang fatal. Masjid bukan lagi “Baitullah” (Rumah Allah), melainkan telah berubah menjadi “Museum Arsitektur” yang dingin atau “Cabang Bank” yang kaku.
1. Berhala Kemegahan Fisik
Kita sering terjebak dalam perlombaan membangun kubah emas dan memasang karpet impor dari Turki, namun lupa membangun “manusia” di dalamnya. Apa gunanya AC yang menggigilkan ruangan jika shafnya hanya terisi satu baris orang tua?
Masjid yang “makmur” secara fisik tapi “mati” secara sosial adalah sebuah kegagalan manajemen. Kita lebih takut lantai marmer kotor oleh jejak kaki anak-anak daripada takut kehilangan generasi muda yang merasa masjid bukan tempat yang asyik bagi mereka.
2. Saldo Kas Adalah “Dosa” yang Tertunda
Secara ekstrem, saldo kas masjid yang mengendap terlalu besar adalah bukti kegagalan pengurus (Takmir) dalam mengeksekusi amanah jamaah. Uang kotak amal yang recehan itu diberikan jamaah dengan harapan segera menjadi pahala mengalir, bukan untuk “didepositokan” demi kebanggaan angka.
Kritik: Masjid yang makmur seharusnya memiliki saldo kas yang “sehat” artinya uang masuk dan keluar mengalir deras untuk menyubsidi kehidupan umat. Jika uang hanya parkir di bank, itu bukan makmur; itu adalah penimbunan yang dibalut narasi religius.
3. Masjid yang Terlalu Banyak “Dilarang”
Tanda lain dari masjid yang tidak makmur adalah banyaknya tulisan: “Dilarang Tidur”, “Dilarang Membawa Anak”, “Dilarang Berisik”. Masjid berubah menjadi tempat yang eksklusif dan menyeramkan. Kita menciptakan kasta kesalehan di mana mereka yang penampilannya “kurang religius” atau anak-anak yang belum bisa diam dianggap sebagai pengganggu kesucian. Padahal, masjid yang makmur seharusnya menjadi tempat yang paling “berisik” oleh diskusi solusi umat dan canda tawa generasi penerus.
4. Pintu yang Terkunci Rapat
Banyak masjid yang hanya buka 15 menit sebelum azan dan digembok rapat 15 menit setelah salam. Alasan klasiknya adalah keamanan. Namun, ini adalah tamparan bagi konsep kemakmuran. Masjid yang benar-benar makmur adalah masjid yang pintunya selalu terbuka bagi musafir yang kelelahan, bagi hamba Allah yang ingin menangis di tengah malam, atau bagi mereka yang butuh perlindungan.
Baca juga: Demokratisasi Tabligh: Dari Mimbar Tunggal Menuju Gerakan Kolektif Umat
Renungan: Kemakmuran sebuah masjid tidak diukur dari seberapa megah ia terlihat di foto Instagram, melainkan dari seberapa besar perannya dalam memadamkan api kemiskinan dan mendinginkan hati yang gelisah di lingkungan sekitarnya. (*)
