Krisis Akhlak Hingga Lansia Jadi Bahasan Munas Tarjih Muhammadiyah ke-33

Krisis Akhlak Hingga Lansia Jadi Bahasan Munas Tarjih Muhammadiyah ke-33
www.majelistabligh.id -

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah siap menggelar Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-XXXIII di Surabaya pada 5–7 November 2026. Dalam perhelatan tersebut, Muhammadiyah menaruh perhatian penuh pada lima materi utama keagamaan kontemporer yang bersentuhan langsung dengan dinamika kehidupan umat dan masyarakat.

Ketua PP Muhammadiyah, Syamsul Anwar, mengungkapkan bahwa kelima agenda strategis tersebut mencakup Fikih Lanjut Usia, Fikih Kedaulatan Pangan, Risalah Akidah Islam, Risalah Akhlak Islam Praktis, serta Fikih Ibadah.

“Munas ini membahas persoalan keagamaan aktual yang membutuhkan panduan jernih dan solusi nyata bagi masyarakat,” ujar Syamsul dalam konferensi pers di Aula PP Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (2/11/2026).

Lima Agenda Utama Munas Tarjih ke-33:

  1. Fikih Lanjut Usia

Agenda pertama ini dirancang untuk merespons meningkatnya populasi lansia serta implikasinya terhadap kehidupan keluarga dan sosial. Muhammadiyah memandang penting hadirnya panduan keagamaan yang menguatkan nilai birr al-wālidain (berbakti kepada orang tua).

“Betapa mirisnya ketika kita mendengar fenomena orang tua yang meninggal dunia dalam kesendirian—baru diketahui dua hari kemudian tanpa pendampingan. Muhammadiyah ingin hadir memberikan panduan agar lansia terlindungi dan terlayani dengan layak,” tegas Syamsul.

  1. Fikih Kedaulatan Pangan

Kajian ini mengulas persoalan pangan dari perspektif Islam, mencakup pemenuhan gizi seimbang, ketahanan pangan, hingga kesejahteraan petani. Agenda ini merupakan keberlanjutan dari Fikih Agraria untuk mendorong kehidupan masyarakat yang adil dan makmur.

Syamsul menyoroti krisis pangan dunia dengan mengutip data PBB pada Konferensi Tingkat Menteri di Brasil (2024), di mana lebih dari 775 juta orang atau sepertiga penduduk dunia mengalami kelaparan dan tak mendapat makanan layak.

  1. Risalah Akidah Islam

Penyusunan risalah ini bertujuan menjadi rujukan bersama yang sistematis guna memperjelas pemahaman akidah warga Muhammadiyah sekaligus menjawab tantangan zaman, seperti menguatnya paham agnostisisme.

Mengutip buku The Return of God Hypothesis karya Stephen C. Meyer, Syamsul mengingatkan ancaman fenomena ketidakpedulian terhadap keberadaan Tuhan. “Meski belum menjadi tren utama saat ini, tanda-tandanya sudah terlihat. Penguatan pondasi akidah menjadi sangat krusial,” jelasnya.

  1. Risalah Akhlak Islam Praktis

Materi ini memberikan panduan penerapan etika Islam dalam kehidupan sehari-hari, merespons maraknya ujaran kebencian di ruang digital, korupsi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga krisis lingkungan.

“Suatu bangsa akan bertahan karena akhlaknya yang baik, dan sebaliknya akan runtuh jika akhlaknya musnah. Pondasi akhlak adalah kunci utama membangun masyarakat Islam yang berkemajuan,” ungkap Syamsul.

  1. Fikih Ibadah

Agenda terakhir mengkaji ulang beberapa aspek ibadah praktis, seperti hukum kunut witir dan penggunaan bacaan tatswib (as-shalātu khairun min an-naūm) pada azan Subuh. Kajian ini menjadi bagian dari pengembangan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) guna memberikan kepastian hukum dan penjelasan yang lebih kuat berbasis dalil kepada masyarakat. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search