Masjid Pantai Bali, Wajah Teduh Islam di Pulau Dewata

Masjid Raudlatul Jannah atau yang populer dikenal sebagai Masjid Pantai Bali. (ist)
www.majelistabligh.id -

Deburan ombak di pesisir Desa Cupel, Jembrana, menjadi saksi lahirnya model baru dakwah Islam yang melampaui sekat-sekat ruang ibadah. Masjid Raudlatul Jannah—atau yang populer dikenal sebagai Masjid Pantai Bali—kini bertransformasi menjadi simbol perdamaian dan harmoni antarumat beragama di tengah pluralisme masyarakat Bali.

Wajah teduh Islam tersebut tecermin nyata dalam aksi gotong royong Gerakan Bersih-Bersih Masjid (GEBER MAS) yang digelar pekan lalu. Menariknya, aksi menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dalam rangkaian Gerakan Nasional Peaceful Muharam ini tidak hanya melibatkan internal umat Muslim, tetapi juga menggandeng Penyelenggara Buddha dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jembrana.

Kolaborasi lintas iman tersebut membuktikan bahwa urusan kemanusiaan dan kelestarian lingkungan dapat menjadi ruang titik temu bagi semua kelompok agama.

“Melalui gerakan ini, kami ingin mengajak masyarakat menjadikan momentum Tahun Baru Islam sebagai awal untuk berhijrah sosial menuju kehidupan yang lebih bersih. Kita ingin menampilkan wajah Islam yang teduh, peduli, harmonis, dan penuh kemaslahatan bagi seluruh alam,” ujar Firmansyah Dimmy, Ketua Yayasan Masjid Pantai Nusantara (YMPN), dalam keterangannya, Ahad (12/7/2026).

Masjid Sebagai ‘Place of Peace’

Sebagai salah satu ikon wisata religi di Bali Barat yang kerap dikunjungi wisatawan domestik hingga mancanegara, Masjid Pantai Bali sengaja didesain dengan visi sebagai Place of Peace (Ruang Kedamaian).

Pengelola ingin menggeser paradigma lama dan membuktikan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ritual ibadah, melainkan juga pusat peradaban yang ramah bagi masyarakat majemuk.

“Pengembangan Masjid Pantai Bali kami arahkan melalui konsep SMART MASJID berbasis 5E, yaitu Edukasi, Ekonomi, Ekologi, Empati, dan Entertain. Melalui formula ini, masjid diproyeksikan menjadi pusat penguatan ekonomi umat, pelestarian ekologi pesisir, pelayanan sosial, hingga destinasi wisata religi yang inklusif,” jelas Firmansyah.

Aksi GEBER MAS yang melibatkan ASN Kemenag Jembrana, pegawai KUA, penyuluh agama, pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), hingga relawan lokal ini menjadi bukti bahwa dakwah saat ini harus berbasis solusi dan kontribusi nyata.

“Semangat kolaborasi lintas unsur dan keyakinan yang ditunjukkan hari ini diharapkan menjadi inspirasi universal. Mari terus memperkuat budaya gotong royong, menjaga kesucian rumah ibadah, dan mempererat persaudaraan di tengah keberagaman,” pungkasnya.

Kini, Masjid Pantai Bali tidak lagi sekadar berdiri sebagai bangunan fisik di tepi pantai. Ia telah menjelma menjadi jembatan kemanusiaan yang merawat persaudaraan dan menjaga alam dalam bingkai kedamaian yang inklusif. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search