Ranting dan Masjid, Kunci Kehidupan Dakwah Umat

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman.
www.majelistabligh.id -

Ranting memegang peranan yang sangat substansial dalam persyarikatan Muhammadiyah. Sebagai basis di tingkat akar rumput (grassroots), Ranting menjadi kunci utama hidup dan berkembangnya gerakan dakwah.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, dalam Pengajian Akbar Triwulan PDM Jepara sekaligus Penutupan Cabang Ranting Masjid (CRM) Unggulan 2026 di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Blimbingrejo, Nalumsari, Jepara, Jawa Tengah, Ahad (9/8/2026).

“Ranting itu ibarat akar. Sebab, yang namanya akar adalah kunci kehidupan,” ujar Agus.

Agus menjelaskan bahwa Ranting merupakan pihak yang paling memahami kondisi riil masyarakat bawah, termasuk data warga yang membutuhkan bantuan sosial. Oleh karena itu, Ranting tidak hanya menjadi garda terdepan dalam memetakan masalah, tetapi juga hadir memberikan solusi nyata atas persoalan di masyarakat.

“Spiritnya adalah fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Yang terpenting terus berikhtiar memberikan keteladanan tanpa menghilangkan rasa ikhlas dan tulus berjuang untuk umat,” tegasnya.

Selain penguatan Ranting, Agus juga menyoroti pentingnya tata kelola masjid. Sesuai amanat Muktamar ke-48 di Surakarta, Muhammadiyah memberikan perhatian besar pada pembinaan dan pengelolaan masjid. Ia prihatin dengan fenomena melandainya jumlah jemaah masjid saat ini dibandingkan masa lalu.

“Dulu masjid kecil bisa penuh jemaah, sekarang masjidnya besar tetapi justru sepi. Bahkan saat Ramadan, perbedaannya sangat terasa,” ungkap Agus.

Menurutnya, beberapa penyebab penurunan jemaah tersebut antara lain kebiasaan mengunci masjid seusai salat, bacaan imam yang kurang merdu, serta minimnya fasilitas pendukung bagi kenyamanan jemaah.

Guna meramaikan kembali masjid-masjid Muhammadiyah, Agus mendorong pengelola untuk menghadirkan imam berkualitas, penceramah yang mumpuni, serta membuka ruang masjid secara lebih ramah bagi jemaah.

Tak berhenti pada fungsi spiritual, masjid Muhammadiyah juga dituntut untuk memperkuat peran sosial-kemasyarakatan melalui program pemberdayaan dan kepedulian sosial.

“Masjid harus menjadi titik sentral yang menggerakkan pembenahan kehidupan umat. Apa pun masalahnya, masjid harus bisa hadir menjadi solusinya,” pungkas Agus. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search