Dakwah bukan sekadar lisan yang menyampaikan tuturan, melainkan sebuah ikhtiar agung untuk merubah situasi menuju arah yang lebih baik dan sempurna, baik bagi pribadi maupun masyarakat.
Prof. Dr. Haedar Nashir menegaskan bahwa esensi dakwah adalah mengajak dan memberi petunjuk sesuai ajaran Islam dengan penuh kerendahan hati, kebijaksanaan, dan sopan santun. Peran mulia ini selaras dengan firman Allah Swt dalam Surah Fussilat ayat 33, yang mengagungkan perkataan orang-orang yang menyeru kepada Allah, beramal saleh, dan menyatakan diri sebagai bagian dari hamba yang berserah diri.
Namun, dakwah yang berdampak luas dan mendalam seperti ini tentu hanya dapat dilaksanakan secara optimal oleh pribadi-pribadi yang berkualitas dan memiliki komitmen spiritual yang kokoh.
Dalam lintasan sejarah Islam, misi utama para nabi dan rasul di setiap zaman selalu berporos pada pelurusan akidah tauhid. Tauhid adalah meng-Esakan Allah Swt dalam beribadah, yang menjadi fondasi utama sekaligus tujuan puncak dari penciptaan manusia. Para nabi senantiasa membimbing tata cara ibadah yang murni serta menanamkan keikhlasan mendalam dalam menjalankan agama.
Sayangnya, perjalanan tauhid di tengah kehidupan manusia kerap menghadapi ancaman kerusakan akidah. Kerusakan ini dipicu oleh berbagai faktor, di antaranya kebodohan akibat enggan mempelajari akidah yang benar, sikap fanatik buta terhadap tradisi nenek moyang meskipun batil, serta ikatan taqlid tanpa mengetahui dalil shahih.
Selain itu, sikap berlebihan (ghuluw) dalam mencintai para wali dan orang saleh hingga mengangkat derajat mereka di luar batas semestinya, serta kelalaian dalam merenungkan ayat-ayat kauniyah yang terhampar di alam semesta dan ayat-ayat quraniyah, turut memperkeruh kemurnian iman Umat.
Muhammadiyah dan Islam Berkemajuan
Untuk menjawab berbagai tantangan zaman tersebut, Muhammadiyah hadir membawa napas Islam Berkemajuan. Bagi Muhammadiyah, Islam bukanlah agama yang pasif atau sekadar jalan di tempat (ngono-ngono kui wae), melainkan agama yang senantiasa mendorong dan mengajak pemeluknya untuk terus maju.
Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam yang sesungguhnya harus menjadi kekuatan aktual yang menggerakkan umat untuk memberi kesaksian nyata atas keunggulan dan kemuliaan agamanya.
Dalam sudut pandang Islam Berkemajuan, konsep tauhid memiliki dimensi transformatif yang sangat luas. Tauhid yang murni berarti pembebasan manusia dari belenggu kesyirikan dan paham banyak tuhan. Tauhid juga menegaskan keyakinan bahwa seluruh manusia pada hakikatnya adalah satu kesatuan makhluk yang mulia, sehingga wajib dihormati, dicerahkan, dan diberdayakan.
Lebih jauh lagi, tauhid memanggil umat untuk aktif berjuang menyemaikan benih-benih kebenaran, kemaslahatan, dan kesejahteraan, sekaligus menumbuhkan sikap kritis ketika menyaksikan ketimpangan, ketidakwajaran, maupun ketidakadilan dalam masyarakat.
Karakteristik Islam Berkemajuan ini berakar kuat pada akidah tauhid, sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 36 untuk menyembah Allah dan menjauhi thaghut. Gerakan ini bersumber langsung pada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pesan Rasulullah saw agar umat tidak tersesat, seraya terus menghidupkan spirit ijtihad dan tajdid, mengembangkan paham wasathiyah, serta mengaktualisasikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Prinsip wasathiyah (moderasi)
Prinsip wasathiyah (moderasi) menjadi jalan strategis dakwah Islam di tengah realitas masyarakat yang plural. Secara etimologis, para ahli tafsir seperti Ibnu ‘Asyur dan Wahbah al-Zuhaili menjelaskan bahwa al-wasath berarti posisi di tengah-tengah yang seimbang dan mencerminkan sifat atau perbuatan terpuji. Sementara Imam at-Thabari memaknai al-wasath sebagai al-‘adlu (keadilan), sebab hanya pribadi yang adillah yang mampu bersikap seimbang dan layak menjadi manusia pilihan.
Prinsip moderasi ini terwujud secara konkrit dalam tujuh aspek utama kehidupan:
- Al-I’tidal: Menempuh posisi lurus dan tegak di tengah-tengah, layaknya posisi lurus dalam shalat.
- Tawazun: Menjaga keseimbangan antara urusan agama, bangsa, dan negara, serta harmoni antara kehidupan dunia dan akhirat.
- Tasamuh: Mengembangkan rasa saling menghargai dan menghormati antarsesama demi mencegah perpecahan.
- Asy-Syura: Mengedepankan tradisi musyawarah dalam menyelesaikan persoalan bersama.
- Al-Islah: Senantiasa melakukan perbaikan berkesinambungan atas setiap kerusakan dalam tatanan kehidupan.
- Al-Qudwah: Menjadi pelopor dan mengambil inisiatif dalam berbagai kebajikan.
- Al-Muwathonah: Memiliki kesadaran berkewarganegaraan yang utuh serta berkomitmen aktif membangun negara.
Pemahaman dan pengamalan prinsip wasathiyah merupakan kunci utama dakwah Islam masa kini. Dengan membumikan nilai-nilai tengahan ini, umat Islam tidak hanya mampu merawat persatuan di tengah kemajemukan, tetapi juga sanggup mewujudkan masyarakat yang mencerahkan, adil, sejahtera, dan berkemajuan. || Disampaikan dalam pengajian Ahad Pagi Majelis Tabligh PDM Gresik pada 1 November 2026.
