Ada orang yang tubuhnya masih muda, tetapi semangatnya telah menua. Ada yang usianya baru separuh baya, tetapi langkah perjuangannya sudah berhenti. Sebaliknya, ada orang yang rambutnya telah memutih, tetapi jiwanya tetap menyala. Tubuhnya mungkin tak lagi sekuat dahulu, tetapi pikiran, pengalaman, dan semangatnya masih mampu menggerakkan banyak orang.
Persoalan terbesar bukanlah bertambahnya usia, melainkan memudarnya cita-cita dan berhentinya pengabdian. Sebab, usia yang semakin tua semestinya melahirkan iman yang semakin matang, kebijaksanaan yang semakin dalam, dan kontribusi yang semakin luas.
Allah Ta’ala berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqīn (kematian).” (QS. Al-Hijr [15]: 99).
Ayat ini mengingatkan bahwa pengabdian kepada Allah tidak mengenal batas usia. Selama kehidupan masih diberikan, pintu ketaatan dan amal saleh tetap terbuka.
Sejarah Islam mengenal Musa bin Nushair rahimahullah, tokoh yang berperan penting dalam ekspansi Islam ke Andalusia. Kiprahnya mengingatkan kita bahwa perubahan besar membutuhkan visi, keberanian, dan keteguhan.
Namun, pelajaran terpenting bukanlah berapa usia seseorang ketika berjuang, melainkan bagaimana ia menggunakan hidupnya untuk tujuan yang lebih besar daripada kepentingan dirinya sendiri.
Jangan Menua Sebelum Waktunya
Tanpa disadari, sebagian orang mulai kehilangan semangat jauh sebelum usia senja. Dahulu, mereka bersemangat belajar, berdakwah, membina generasi, dan memperjuangkan kepentingan umat.
Mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kenyamanan demi kebaikan bersama.
Namun, setelah menikah, bekerja, dan memiliki tanggung jawab keluarga, lingkaran perhatian perlahan menyempit. Kita mulai merasa bahwa yang penting pekerjaan selesai, kebutuhan keluarga terpenuhi, dan kehidupan pribadi terasa nyaman.
Tentu, mencari nafkah dan membangun keluarga merupakan bagian dari ibadah.
Persoalannya muncul ketika kesibukan pribadi menghapus kepedulian terhadap tanggung jawab sosial.
Apakah hidup kita hanya untuk itu? Apakah setelah kebutuhan keluarga terpenuhi, tidak ada lagi generasi yang perlu dibina, ilmu yang perlu diwariskan, dan persoalan umat yang perlu diperjuangkan?
Jangan sampai kita berhasil membangun kenyamanan keluarga, tetapi kehilangan kepedulian terhadap masa depan masyarakat. Jangan sampai kita memiliki pengalaman puluhan tahun, tetapi semuanya berhenti sebagai kenangan. Jangan sampai kita membesarkan anak-anak sendiri, tetapi tidak peduli terhadap generasi yang kelak akan meneruskan kehidupan bangsa dan umat.
Umat tidak hanya membutuhkan orang-orang yang berhasil dalam kehidupan pribadi, tetapi juga mereka yang bersedia mengubah keberhasilannya menjadi manfaat bagi sesama.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).” (QS. An-Najm [53]: 39–40).
Karena itu, bertambahnya usia seharusnya membuat kita semakin selektif dalam menggunakan waktu, semakin serius menentukan prioritas, dan semakin kuat tekad untuk meninggalkan warisan kebaikan.
