Menjaga Semangat Juang Walau Usia Menjelang

Menjaga Semangat Juang Walau Usia Menjelang
*) Oleh : Abudin Robbani
Direktur UMMUL QURO INSTITUTE
www.majelistabligh.id -

Berubah Peran, Bukan Berhenti Berjuang

Perjuangan memang tidak selalu membutuhkan tubuh yang perkasa. Ketika tenaga berkurang, kita bisa memperkuat orang lain melalui ilmu dan pengalaman. Ketika langkah tidak lagi secepat dahulu, kita dapat membimbing generasi muda agar melangkah lebih jauh. Ketika tak lagi mampu berada di garis depan, kita masih bisa menjadi guru, mentor, penasihat, dan teladan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling konsisten, meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhari, no. 6464; lihat juga HR. Muslim, no. 783).

Hadis ini mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu diukur dari besarnya aktivitas, tetapi juga dari konsistensi dan ketulusan. Kita tidak harus melakukan semuanya, tetapi jangan berhenti melakukan sesuatu yang bermanfaat.

Imam An-Nawawi rahimahullah, ketika menjelaskan hadis-hadis tentang konsistensi amal dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, menerangkan keutamaan menjaga amal secara berkesinambungan.

Pesan ini relevan bagi siapa pun yang memasuki usia matang: lebih baik terus membina beberapa orang dengan sungguh-sungguh daripada memiliki banyak rencana besar yang tidak pernah dituntaskan.

Maka, jika dahulu kita aktif mengajar, teruslah berbagi ilmu. Jika pernah memimpin lembaga, siapkanlah penerus yang lebih baik. Jika memiliki pengalaman organisasi, wariskanlah nilai dan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Jika memiliki kemampuan ekonomi, gunakanlah sebagian untuk mendukung pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim, no. 1631).

Hadis ini mengingatkan kita untuk tidak sekadar mengejar pencapaian pribadi, tetapi membangun amal yang manfaatnya melampaui usia kita.

Wariskan ilmu, kuatkan lembaga, bina kader, dan siapkan generasi penerus.
Jangan hanya mewariskan nama, tetapi juga visi, nilai, dan tanggung jawab.

Jangan Menunggu Kesempatan Habis

Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dalam memanfaatkannya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari, no. 6412).

Jangan menunggu pensiun untuk mulai mengabdi. Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu kehilangan kesempatan untuk menyadari betapa berharganya waktu.

Kita semua sedang berjalan menuju kematian. Jabatan tidak dapat menahannya, kekayaan tidak dapat menolaknya, dan panjangnya angan-angan tidak dapat memperpanjang kesempatan beramal.

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ۝ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ

“Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS. Al-Insyirah [94]: 7–8).

Ayat ini mengajarkan agar kita tidak kehilangan arah setelah menyelesaikan satu urusan. Selalu ada ruang untuk berbuat baik, meskipun bentuk dan kemampuan kita berubah.

Pada akhirnya, keberhasilan hidup bukan sekadar tentang berapa lama kita hidup, berapa tinggi jabatan yang pernah kita duduki, atau berapa banyak harta yang kita kumpulkan.

Lebih penting daripada itu adalah apakah kehadiran kita membawa manfaat dan apakah ada kebaikan yang terus tumbuh setelah kita tiada.

Selama napas masih berembus, teruslah berkarya. Selama ilmu masih bisa dibagikan, teruslah mengajar. Selama pengalaman masih bisa diwariskan, teruslah membimbing. Dan selama Allah masih memberikan waktu, jangan berhenti memperjuangkan kebaikan sesuai kemampuan dan peran kita masing-masing.

Jangan tenggelam dalam kenyamanan diri. Bangkitlah untuk memberi arti. Kita hidup bukan sekadar menunggu mati, tetapi untuk mengisi kehidupan dengan pengabdian yang diridai Ilahi.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Bekasi, 23 Oktober 2026

 

*

Tinggalkan Balasan

Search