Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menegaskan bahwa penanganan lansia tidak boleh sekadar berfokus pada aspek medis, melainkan harus mencakup pendampingan mental, sosial, dan spiritual secara utuh agar mereka tetap mandiri dan bermartabat.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua PP Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, dalam Pengajian Tarjih edisi spesial rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih XXXIII di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Rabu (4/11/2026).
Agus memaparkan, proses menua merupakan keniscayaan biologis yang ditandai dengan penurunan fungsi organ, daya tahan, serta kekuatan fisik, sehingga kelompok lansia menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit. Memasuki usia 60 tahun, seseorang dituntut untuk semakin mawas diri terhadap kondisi tubuh, memperbaiki pola hidup, sekaligus meningkatkan kualitas ibadah.
Dalam pemaparannya, Agus merinci sejumlah penyakit degeneratif yang kerap mengintai lansia, mulai dari hipertensi, diabetes, gangguan otot dan sendi, penyakit jantung, stroke, gangguan sensorik (penglihatan dan pendengaran), penyakit paru, demensia, hingga gagal ginjal.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, ia menekankan pentingnya pengendalian faktor kesehatan sejak dini. Pemantauan rutin terhadap tekanan darah dan kadar gula darah wajib dilakukan, diimbangi dengan pengaturan pola makan, penghentian kebiasaan merokok, menjaga aktivitas fisik, kualitas tidur, serta manajemen emosi yang baik.
Secara khusus, Agus menyoroti bahaya hipertensi tak terkontrol yang memicu komplikasi serius, termasuk stroke. Ia juga mengajak masyarakat untuk mengendalikan amarah. Berbagai riset, menurutnya, membuktikan adanya korelasi kuat antara emosi negatif dengan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular.
Terkait asupan gizi, Agus mengingatkan pentingnya memadukan prinsip halalan thayyiban. Jika kehalalan makanan diatur secara syariat, aspek thayyib (kebaikan dan dampak kesehatan) harus merujuk pada ilmu pengetahuan medis.
“Halal itu secara ilmu agama jelas. Thayyib nanti harus ilmu pengetahuan yang menjelaskan,” terangnya.
Sebagai contoh, makanan yang sah secara hukum agama belum tentu aman bagi semua orang. Penderita diabetes wajib membatasi asupan gula, sementara pasien gangguan ginjal harus selektif mengonsumsi jenis dan takaran makanan tertentu.
Selain kesehatan fisik, Agus menyoroti pentingnya dimensi sosial bagi kaum lansia. Aktivitas rutin seperti berkumpul, mengikuti pengajian, kegiatan jamaah, dan berorganisasi terbukti efektif menjaga fungsi kognitif serta menekan risiko kesepian. Lansia yang terisolasi dari keluarga dan lingkungan sosial rentan mengalami tekanan psikologis.
Oleh karena itu, Muhammadiyah mendorong keluarga dan masyarakat untuk proaktif menciptakan ekosistem yang ramah lansia. Sebagai bentuk nyata komitmen ini, PP Muhammadiyah melalui Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) mengembangkan program Muhammadiyah Senior Care.
“Semangat kita jangan sampai orang tua itu tercerabut dari akar keluarga. Kecuali memang dia tidak punya siapa pun, maka Muhammadiyah tetap punya tanggung jawab,” tegasnya. (*/tim)
