Nabi Berijtihad, Bolehkah?

Nabi Berijtihad, Bolehkah?
www.majelistabligh.id -

Contoh Ijtihad Nabi yang lain

1. Tikus dan Biawak sebagai perwujudan kutukan Allah atas Bani Israil.
Rasulullah saw. pernah menyatakan bahwa tikus dan biawak adalah berasal dari Bani Israil yang dilaknat Allah SwT.. kata Rasulullah, “Tikus dan Biawak lebih suka susu Kambing daripada susu Unta. Ini mirip dengan kebiasaan Bani Israil yang lebih suka susu Kambing daripada susu Unta.

فُقِدَتْ أُمَّةٌ مِن بَنِي إسْرائِيلَ، لا يُدْرَى ما فَعَلَتْ، ولا أُراها إلَّا الفَأْرَ، ألا تَرَوْنَها إذا وُضِعَ لها ألْبانُ الإبِلِ لَمْ تَشْرَبْهُ، وإذا وُضِعَ لها ألْبانُ الشَّاءِ شَرِبَتْهُ؟ (رواه مسلم)

Satu kaum dari Bani Israel telah hilang. Tidak diketahui apa yang mereka lakukan. Aku melihat mereka berubah menjadi tikus. Tidakkah kau lihat bahwa ketika susu Unta disajikan di hadapan mereka, mereka tidak meminumnya, dan ketika susu Domba disajikan di hadapan mereka, mereka meminumnya?” (HR. Muslim).

يا أعرابيُّ ! إنَّ اللهَ غَضِبَ على سِبْطَيْنِ من بني إسرائيلَ فمَسَخَهم دَوَابَّ يَدِبُّونَ في الأرضِ ، فلا أَدْرِي لعل هذا منها يعنى الضَّبَّ فلَسْتُ آكُلُها ولا أَنْهَى عنها (رواه مسلم)

“Wahai orang A’rabi! Allah murka kepada sekelompok Bani Israil, sehingga Allah mengubah mereka menjadi binatang melata di bumi. Entahlah, mungkin ini salah satunya, maksudnya Biawak. Aku tidak memakannya, dan aku juga tidak melarangnya.” (HR. Muslim).

Namun ada hadits lain menyebutkan yang sama adalah sisi sifat saja.

عن ابن مسعود ، قال : سألنا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن القردة والخنازير، أهي من نسل اليهود؟ فقال : (لا، إن الله لم يلعن قوما قط فمسخهم، فكان لهم نسل، ولكن هذا خلق كان، فلما غضب الله على اليهود فمسخهم جعلهم مثلهم)

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Kami bertanya kepada Rasulullah, semoga Allah memberkahinya dan memberinya kedamaian, tentang monyet dan babi, apakah mereka termasuk keturunan Yahudi? Beliau menjawab: (Tidak, Allah tidak pernah mengutuk suatu kaum dan mengubah mereka, sehingga mereka memiliki keturunan, tetapi ini adalah ciptaan yang ada, dan ketika Allah murka kepada kaum Yahudi dan mengubah mereka, Dia menjadikan mereka seperti mereka.)

Syaikh Muhammad Abduh ketika menafsirkan firman Allah,
كونوا قردة خاسئين
“Jadilah kalian monyet yang hina”
Abdduh menafsirkan ayat ini hanyalah sebagai makna alegoris, bahwa Bani Israil dengan kera sekedar sama sifat kemonyetannya.

2. Cita-Cita Nabi merubah arah Qiblat.

Nabi dan ummat Islam pernah menghadap qiblat shalat ke arah Baitul Maqdis, Palestina, selama 16 bulan, sebelum akhirnya berubah menghadap ke Ka’bah, Masjidil Haram, Makkah al-Mukarramah. Keinginan Nabi untuk merubah qiblat tersebut dalam kajian fiqih dimasukkan ke dalam bab “ijtihad” Nabi, di mana pada saat-saat setelahnya, keinginan Nabi tersebut dilegalkan oleh Allah dengan menurunkan QS. Al-Baqarah/2: 144.
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
(144. Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit, lalu Kami alihkan engkau ke kiblat yang engkau ridlai. Maka, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab benar-benar mengetahui bahwa kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan).
Jadi, tidak setiap yang diinginkan Nabi, tidak direstui Allah. Adakalanya “ijtihad” yang disetujui Allah ijtihad yang berasal dari Nabi, dan adakalanya ada ijtihad yang disetujui Allah yang berasal dari ijtihad sahabat Nabi saw.

3. [Enggan] Menikahi Istri Anak Angkat.

Tradisi Arab, pantangan untuk menikahi janda dari anak angkat, dalam kondisi apa pun. Baik janda kaya, miskin, cantik, atau tidak cantik, punya anak banyak, atau belum punya anak, dalam tradisi Arab, menikahi janda anak angkat Adalah sebuah aib.
Nabi diperintah langsung oleh Allah untuk menikahi Zainab binti Jahsyi, janda dari anak angkat Nabi, Zaid ibn Haritsah.
Di bawah akan dikutipkan peristiwa tersebut dalam QS. Al-Ahzab/33: 36-39, serta semangat yang terkandung di dalamnya:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗوَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ وَاِذْ تَقُوْلُ لِلَّذِيْٓ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ وَاَنْعَمْتَ عَلَيْهِ اَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللّٰهَ وَتُخْفِيْ فِيْ نَفْسِكَ مَا اللّٰهُ مُبْدِيْهِ وَتَخْشَى النَّاسَۚ وَاللّٰهُ اَحَقُّ اَنْ تَخْشٰىهُ ۗ فَلَمَّا قَضٰى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًاۗ زَوَّجْنٰكَهَا لِكَيْ لَا يَكُوْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ حَرَجٌ فِيْٓ اَزْوَاجِ اَدْعِيَاۤىِٕهِمْ اِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًاۗ وَكَانَ اَمْرُ اللّٰهِ مَفْعُوْلًا مَا كَانَ عَلَى النَّبِيِّ مِنْ حَرَجٍ فِيْمَا فَرَضَ اللّٰهُ لَهٗ ۗسُنَّةَ اللّٰهِ فِى الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۗوَكَانَ اَمْرُ اللّٰهِ قَدَرًا مَّقْدُوْرًاۙ ۨالَّذِيْنَ يُبَلِّغُوْنَ رِسٰلٰتِ اللّٰهِ وَيَخْشَوْنَهٗ وَلَا يَخْشَوْنَ اَحَدًا اِلَّا اللّٰهَ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ حَسِيْبًا

(36. Tidaklah pantas bagi mukmin dan mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan, ada pilihan yang lain bagi mereka tentang urusan mereka. Siapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.

37. (Ingatlah) ketika engkau (Nabi Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya, “Pertahankan istrimu dan bertakwalah kepada Allah!” sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak untuk engkau takuti. Maka, ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila mereka telah menyelesaikan keperluan terhadap istri-istrinya. Ketetapan Allah itu pasti terjadi.

38. Tidak ada keberatan apa pun pada Nabi tentang apa yang telah diputuskan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunah Allah pada (nabi-nabi) yang telah terdahulu. Ketetapan Allah itu merupakan ketetapan yang pasti berlaku,

39. (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, dan takut kepada-Nya serta tidak merasa takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.)

Nabi akhirnya menikahi Zainab atas perintah Allah untuk mengubah tradisi, persepsi, dan keyakinan orang Arab, bahwa status anak angkat sama persis seperti anak kandung. Allah menegaskan bahwa anak angkat statusnya tidak sama dengan anak yang lahir dari Rahim ibu, anak kandung, anak biologis, yang berasal dari darah daging orang tua aslinya, dengan anak angkat, anak pungut, anak adopsi, atas pungutan dari orang lain, sehingga nasabnya tetap berbeda. Nasabnya tidak boleh dinisbatkan kepada ayah atau ibu angkatnya, namun kepada ayah atau ibu kandungnya. Hukum itulah yang mau dirubah oleh Allah, sehingga jelas posisi dan relasinya dalam silsilah keluarga, baik dalam hal muhrim, kekerabatan, kewarisan, dan hukum lainnya.

 

Tinggalkan Balasan

Search