Nabi Berijtihad, Bolehkah?

Nabi Berijtihad, Bolehkah?
www.majelistabligh.id -

4. Memberi izin [orang munafik] tidak ikut perang.

Nabi sempat memberikan izin kepada beberapa orang [munafik] untuk tidak ikut Perang Tabuk dengan berbagai alasan yang mereka kemukakan kepada Nabi saw., namun pemberian izin tersebut menyebabkan yang lainnya terpengaruh sehingga tidak ikit perang. Nabi diingatkan oleh Allah atas izin tersebut. Allah mengingatkan bahwa yang minta izin tidak ikut perang, hanya diajukan oleh orang-orang munafik yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam QS. Al-Taubah/9: 42:

اِنْفِرُوْا خِفَافًا وَّثِقَالًا وَّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيْبًا وَّسَفَرًا قَاصِدًا لَّاتَّبَعُوْكَ وَلٰكِنْۢ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُۗ وَسَيَحْلِفُوْنَ بِاللّٰهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْۚ يُهْلِكُوْنَ اَنْفُسَهُمْۚ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ اِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ ࣖ عَفَا اللّٰهُ عَنْكَۚ لِمَ اَذِنْتَ لَهُمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَتَعْلَمَ الْكٰذِبِيْنَ لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ اَنْ يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ بِالْمُتَّقِيْنَ اِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوْبُهُمْ فَهُمْ فِيْ رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُوْنَ

(41. Berangkatlah kamu (untuk berperang), baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

42. Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) adalah keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu. Akan tetapi, (mereka enggan karena) tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Seandainya kami sanggup niscaya kami berangkat bersamamu.” Mereka membinasakan diri sendiri dan Allah mengetahui sesungguhnya mereka benar-benar para pembohong.

43. Allah memaafkanmu (Nabi Muhammad). Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang) sehingga jelas bagimu orang-orang yang benar-benar (berhalangan) dan sehingga engkau mengetahui orang-orang yang berdusta?

44. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.

45. Sesungguhnya yang meminta izin kepadamu (Nabi Muhammad untuk tidak berjihad) hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir, dan hati mereka ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguan.

5. Kasus Zhihar

Dalam kasus “Zhihar” (menyamakan istri dengan “punggung” ibu kandungnya). Rasulullah menjawab berdasar kebiasaan orang Arab menzhihar istrinya: Haram ruju’. Namun Khaulah keberatan karena memiliki banyak anak dan perekonomiannya tidak memungkinkan mencukupi untuk mengasuh anak-anak Khaulah dan suaminya. ‘ala kulli hal, Allah menerima “pengaduan” (tahawura) keberatan Khaulah dengan menurunkan QS. Al-Mujadilah/: 1-4. Kita kutipkan kisah tersebut di bawah ini:

“Satu ketika suaminya Aus bin Shamit dalam keadaan marah telah berkata,” Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Kemudian Aus pun keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan kemudiannya pulang dan berhajat untuk menggauli Khaulah. Atas kesadaran hati dan kehalusan perasaan, Khaulah menolak permintaan Aus hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam itu. Khaulah berkata pada suaminya, Aus, “Tidak…jangan! Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh mengauliku atas apa yang engkau telah ucapkan sehingga Allah dan Rasulnya memutuskan hukum tentang peristiwa yang berlaku ke atas kita.”

Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu duduk di hadapan Nabi saw dan menceritakan apa yang telah berlaku lalu meminta hukum dari Nabi saw. Rasulullah saw bersabda, “Kami belum pernah terjumpa hukum berkenaan hal ini… aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.”

Wanita mukminah ini mengulangi ceritanya kepada Nabi saw serta kesan yang akan menimpa dirinya dan anaknya jika ia bercerai dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, “Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya”.

Selepas daripada itu beliau sentiasa berdoa menadah tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersembunyi kesedihan dan kesusahan. Sambil menangis-nangis beliau berdoa kepada Allah dengan berkata,”Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepadaMu tentang peristiwa yang menimpa diriku”.

Kesan dari doa wanita yang solehah ini akhirnya Allah swt menurunkan wahyunya kepada Nabi saw lalu Nabi pun mengkhabarkan kepada Khaulah dengan katanya,”Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan wahyu tentang masaalah kamu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya (ertinya), “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan masaalanya kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,…sampai firman Allah: “dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang pedih.”(Al-Mujadalah:1-4).

Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar dengan katanya,” Perintahkan kepadanya (suami Khaulah) untuk memerdekan hamba.” Jawab Khaulah ,” Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang hamba yang boleh dimerdekakan.” Kata Nabi lagi,” Kalau begitu suruhlah beliau berpuasa dua bulan berturut-turut.” Namun jawab Khaulah lagi,”Demi Allah wahai Rasulullah beliau seorang yang tak mampu untuk berpuasa.’Jawab Nabi saw kembali,” Kalau begitu suruhlah dia memberi makan kepada 60 orang fakir miskin.”Jawab Khaulah lagi memberia alasan,” Demi Allah ya! Rasulullah beliau tidak berharta untuk berbuat demikian” Akhir sekali kata Nabi saw,” Aku bantunya dengan separuh dan kamu bantu dia dengan separuh lagi. Maka Khaulah pun pergi untuk melaksanakannya.

Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, “Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang megadu masaalahnya kepada Rasulullah saw, dan meminta hukum dari Nabi saw sedangkan aku berada dibalik dinding rumahku dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah…” (Al-Mujadalah: 1).”

 

Tinggalkan Balasan

Search