Nasionalisme yang Bisa Dikorupsi

Nasionalisme yang Bisa Dikorupsi
*) Oleh : Syahrudin Darwis
Anggota Muhammadiyah NBM.495.547
www.majelistabligh.id -

Kita punya cara yang murah untuk mencintai Indonesia: berdiri tegak ketika lagu kebangsaan diputar, memakai batik pada hari tertentu, mengibarkan bendera, lalu berpidato tentang NKRI.  Yang mahal adalah tidak mencuri ketika memegang uang negara.

Dalam Pidato Kebangsaan di Gedung Arsip Nasional, 18 Agustus, Ketua PP.Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan kalimat yang sederhana tetapi kurang nyaman bagi sebagian orang: cinta kepada Indonesia adalah memberi, bukan menuntut, apalagi mencuri. .

Kalimat itu seperti pisau kecil. Tidak berdarah, tetapi tepat mengenai urat.
Sebab negeri ini penuh dengan orang yang mencintai Indonesia—terutama ketika Indonesia sedang menyediakan jabatan, proyek, fasilitas, atau anggaran. .
Kita mengenal nasionalisme yang rajin berkibar di podium, tetapi mudah terlipat ketika berhadapan dengan amplop. .
Kita mengenal patriotisme yang suaranya menggelegar di depan kamera, tetapi mendadak lirih ketika auditor datang.

Mungkin itulah bentuk baru nasionalisme: cinta tanah air, sepanjang tanahnya bisa dipetak-petak menjadi proyek. .
Padahal kemerdekaan tidak dibangun oleh orang-orang yang sibuk menghitung apa yang bisa mereka ambil. .
Kemerdekaan dibayar dengan pengorbanan.

Jauh sebelum Republik mempunyai kementerian, parlemen, APBN dan gedung-gedung megah, orang-orang sudah bekerja menyiapkan manusia Indonesia.

Muhammadiyah, sejak Ahmad Dahlan mendirikannya pada 1912, memilih jalan yang sederhana: sekolah, rumah sakit, media, kepanduan, pemberdayaan perempuan. Bukan karena semua itu terdengar heroik, tetapi karena bangsa yang ingin merdeka membutuhkan manusia yang sehat, terdidik dan berakal.

Itulah nasionalisme yang tidak banyak bicara.
Ia membangun. .

Kita sekarang mungkin lebih maju dalam satu hal: nasionalisme sudah mempunyai industri pertunjukan.
Ada panggungnya. Ada kameranya. Ada seragamnya. Ada slogannya. Bahkan ada pasarnya. .
Yang belum tentu tersedia adalah integritas. .
Sebab mencintai Indonesia sambil mengambil uang negara bukan cinta.
Itu bisnis. .

Menggunakan jabatan untuk memperkaya diri bukan pengabdian. .
Itu investasi pribadi dengan modal publik.

Menyalahgunakan kekuasaan sambil mengutip Pancasila bukan patriotisme.
Itu mungkin hanya cara yang lebih sopan untuk menutupi kerakusan. .

Maka ukuran nasionalisme sebenarnya tidak perlu rumit.
Jangan tanya siapa paling keras meneriakkan “Indonesia”.
Tanyakan siapa yang tetap jujur ketika tidak ada kamera.

Jangan tanya siapa paling sering mengibarkan bendera. .
Tanyakan siapa yang tidak mengibarkan kepentingan pribadinya di atas kepentingan rakyat. ..

Jangan tanya siapa yang paling fasih berbicara tentang pengorbanan para pahlawan.
Tanyakan siapa yang bersedia mengorbankan kesempatan untuk mengambil yang bukan haknya. .

Sebab Indonesia barangkali tidak sedang kekurangan patriot.
Kita hanya kekurangan patriot yang ketika melihat uang negara tidak melihatnya sebagai uang kesempatan. .

Delapan puluh satu tahun merdeka, mungkin sudah waktunya nasionalisme berhenti menjadi dekorasi. Bendera jangan hanya berkibar di tiang.
Ia harus berkibar di dalam hati—dan kalau bisa, juga mengikat tangan agar tidak masuk ke kas negara. . .

Sebab cinta yang meminta terus-menerus bukan cinta.
Cinta yang mengambil diam-diam lebih buruk lagi. .

Ia bukan nasionalisme.
Ia korupsi yang kebetulan memakai bendera. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search