PCIM – PCIA Malaysia Perluas Program Pemberdayaan untuk Pekerja Migran

PCIM - PCIA Malaysia Perluas Program Pemberdayaan untuk Pekerja Migran
www.majelistabligh.id -

Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PCIM-PCIA) Malaysia memiliki karakter yang berbeda dibandingkan PCIM di sejumlah negara lain. Jika mayoritas PCIM di luar negeri banyak diisi mahasiswa, PCIM-PCIA Malaysia justru berkembang dengan keterlibatan cukup banyak pekerja migran Indonesia (PMI).

Berdiri secara resmi sejak 2007, PCIM Malaysia kini menjadi salah satu PCIM yang berkembang cukup dinamis. Berbagai program dijalankan secara terencana. Bahkan, saat ini telah berdiri sejumlah Pimpinan Ranting Istimewa (PRI) Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah di Malaysia.

Wakil Ketua PCIA Malaysia, Nita Nasyitah, menceritakan bahwa pada awal berdirinya, PCIM Malaysia memang diinisiasi oleh kelompok diaspora Indonesia di Malaysia yang mayoritas berasal dari kalangan mahasiswa.

“Tapi setelah semakin lama alhamdulillah sudah mulai ada satu orang dari pekerja migran yang kerekrut itu ibaratnya, itu membuka perluasan anggota PCIM dan PCIA,” ungkap Nita pada Sabtu (3/10/2026) dalam Channel YouTube PWM Sumut.

Bertambahnya anggota dari kalangan PMI kemudian mendorong PCIM dan PCIA Malaysia untuk memperluas program pemberdayaan masyarakat, khususnya bagi perempuan. Salah satunya dilakukan melalui penyelenggaraan berbagai kursus bagi perempuan PMI di Malaysia.

Tidak berhenti pada pemberdayaan perempuan, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Malaysia juga merespons persoalan pendidikan anak-anak PMI. Melihat kondisi tersebut, PCIM-PCIA Malaysia kemudian menginisiasi pendirian Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Kini, bukan hanya PCIA yang memiliki amal usaha berupa PAUD. Sejumlah Pimpinan Ranting Istimewa ‘Aisyiyah (PRIA) di Malaysia juga telah mendirikan PAUD. Selain itu, PCIA turut mendirikan Sanggar Bimbingan (SB) bagi anak-anak PMI yang tidak memiliki dokumen resmi.

“Alhamdulillah kini Muhammadiyah-Aisyiyah kita mempunyai Sanggar Bimbingan, yaitu sekolah untuk anak-anak PMI yang tidak ada dokumen,” ungkapnya.

Keberadaan PMI yang bekerja di Malaysia tanpa dokumen resmi bukanlah persoalan baru. Namun, kondisi tersebut tidak semestinya menghilangkan kesempatan anak-anak mereka untuk memperoleh pendidikan dan memenuhi hak dasarnya untuk belajar.

Nita menjelaskan, Sanggar Bimbingan atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang diselenggarakan PCIM dan PCIA Malaysia pada dasarnya berjalan layaknya sekolah pada umumnya. Kegiatan pembelajaran berlangsung secara rutin dari Senin hingga Jumat.

“Ibu-ibu banyak yang meluangkan waktu untuk mengajar anak di sana, yang awalnya itu bermulai dari TPA sebetulnya. Dari TPA dulu kemudian baru empat tahun terakhir dibuat Sanggar Bimbingan,” katanya. (*/tim)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search