Penting Bersabar atas Gangguan Tetangga

Penting Bersabar atas Gangguan Tetangga
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

​”Patience in facing difficult neighbors does not mean defeat, but rather victory over one’s ego in order to maintain harmony between heaven and earth.”
“(Kesabaran dalam menghadapi tetangga yang sulit bukan berarti kalah, melainkan kemenangan atas ego diri demi menjaga keharmonisan langit dan bumi).”

​Dinamika hidup bermasyarakat merupakan cermin dari kedalaman iman seseorang. Terkadang, ujian keimanan itu hadir tepat di sebelah tembok rumah kita sendiri. mulai dari kebisingan yang mengusik ketenangan hingga urusan parkir yang menguji kelapangan dada.

Di sinilah kesabaran bertransformasi menjadi bentuk ketaatan bernilai tinggi. Allah SWT menempatkan adab bertetangga sebagai bagian dari manifestasi ketauhidan, sebagaimana firman-Nya:
​وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا وَبِذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْجَارِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْجَارِ ٱلْجُنُبِ …
​Artinya:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh…” (QS. An-Nisa: 36)

​Penyebutan “tetangga” yang disandingkan langsung setelah perintah tauhid menunjukkan betapa tingginya kedudukan mereka dalam Islam. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga tidak hanya mencakup pemberian materi, tetapi juga kemampuan menahan diri dari menyakiti serta kelapangan hati untuk bersabar atas perilaku yang kurang menyenangkan. Hal ini dipertegas oleh Rasulullah SAW sebagai salah satu amal yang dicintai oleh Allah:
​….وَالرَّجُلُ يَكُونُ لَهُ الْجَارُ يُؤْذِيهِ جِوَارُهُ، فَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُ حَتَّى يُفَرِّقَ بَيْنَهُمَا مَوْتٌ أَوْ ظَعْنٌ
​Artinya:
“…(Salah satu yang dicintai Allah adalah) seseorang yang memiliki tetangga yang menyakitinya, namun ia bersabar atas gangguannya hingga kematian atau perpisahan memisahkan mereka.” (HR. Ahmad No. 20377)

​Sebaliknya, Islam memberikan peringatan keras bagi mereka yang menjadi sumber keresahan bagi sekitarnya. Iman seseorang tidak dianggap sempurna jika ia menjadi ancaman bagi kenyamanan tetangganya. Rasulullah SAW bersabda:
​وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ … الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بوَائِقَهُ
​Artinya:
Demi Allah, tidak beriman! … Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”(HR. Bukhari No. 6016)

​Oleh karena itu, sikap sabar dalam bertetangga adalah investasi akhirat, sebuah dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan), dan kunci utama ketenangan jiwa. Membalas keburukan dengan keburukan hanya akan menciptakan lingkaran permusuhan yang tak berujung.

Mari kita jadikan setiap gangguan sebagai sarana penggugur dosa dan ladang pahala. Namun, jika gangguan tersebut telah melampaui batas, sampaikanlah keberatan tersebut dengan cara yang paling santun (ahsan), karena tujuan utama kita adalah hidup berdampingan dalam keberkahan dan keridaan-Nya.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Search