#Umat yang Berhenti Belajar Akan Sulit Bertumbuh
Salah satu tantangan mendasar umat Islam hari ini bukan semata-mata kekurangan orang yang beragama, melainkan belum kokohnya budaya ilmu yang melahirkan kedalaman berpikir, kematangan akhlak, profesionalitas, dan kekuatan amal.
Semangat beragama tidak selalu berjalan seiring dengan kesungguhan menuntut ilmu. Banyak nasihat disampaikan, tetapi belum seluruhnya menjelma menjadi perubahan perilaku, kualitas pendidikan, tata kelola organisasi, dan kesejahteraan umat.
Kita tidak kekurangan orang yang berbicara tentang perubahan, tetapi masih membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia berubah. Kita tidak kekurangan slogan kemajuan, tetapi sering kali lemah dalam menerjemahkannya menjadi disiplin, sistem, dan kerja nyata.
Di ruang digital, informasi menyebar begitu cepat. Namun, tidak semua informasi diperiksa kebenarannya. Perdebatan sering lebih menarik daripada pencarian kebenaran. Popularitas terkadang lebih dihargai daripada kompetensi. Bahkan, kritik yang semestinya menjadi bahan evaluasi justru dianggap sebagai serangan pribadi.
Di tengah keadaan ini, umat Islam perlu menghidupkan tiga etos penting: Keep Learning, Keep Growing, dan Keep Inspiring—terus belajar, terus bertumbuh, dan terus menginspirasi.
Kebangkitan umat tidak cukup dibangun dengan semangat beragama. Ia membutuhkan ilmu yang benar, karakter yang kuat, kompetensi yang unggul, dan amal yang memberikan dampak nyata.
Keep Learning: Jangan Pernah Merasa Cukup dengan Ilmu
Allah SWT berfirman:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” (QS. Thaha [20]: 114).
Ayat ini menegaskan pentingnya terus menambah ilmu.
Belajar tidak selesai ketika seseorang memperoleh gelar akademik, menduduki jabatan, atau memiliki pengalaman panjang. Justru semakin besar amanah seseorang, semakin besar pula kebutuhannya terhadap ilmu.
Orang tua membutuhkan ilmu pengasuhan. Guru membutuhkan pembaruan kompetensi. Dai membutuhkan kedalaman ilmu agama sekaligus pemahaman terhadap realitas masyarakat. Pemimpin membutuhkan pengetahuan, integritas, dan kebijaksanaan agar tidak terjebak dalam keputusan yang keliru.
Abdullah bin Al-Mubarak, seorang ulama besar, memberikan peringatan yang relevan:
لَا يَزَالُ الْمَرْءُ عَالِمًا مَا طَلَبَ الْعِلْمَ، فَإِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ عَلِمَ فَقَدْ جَهِلَ
“Seseorang akan tetap menjadi orang berilmu selama ia terus mencari ilmu. Apabila ia mengira dirinya telah mengetahui segalanya, sungguh ia telah menjadi orang yang tidak memahami.”
Ungkapan ini dinukil dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din karya Imam Al-Ghazali, pada pembahasan tentang ilmu.
Pesannya tegas: kesediaan belajar merupakan tanda kerendahan hati intelektual. Sebaliknya, merasa paling tahu dapat menutup pintu kemajuan.
