Badan Koordinasi Masjid Muhammadiyah (BKMM) di bawah naungan LPCRPM PDM Sidoarjo menggelar kegiatan Safari Ahad Subuh (SAS). Kegiatan berlangsung di Masjid At-Taubah Kedurus Kepatihan Tulangan, Sidoarjo, Ahad (27/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo, Ustaz H Burhanudin, menyampaikan tausiyah dengan materi “Jamaah, Jam’iyah, dan Jariyah dalam Muhammadiyah.”
Di hadapan jamaah, Ustaz Burhanudin menegaskan bahwa Muhammadiyah bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan dakwah yang mengajak umat memahami dan mengamalkan Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Menurutnya, dalam menjalankan gerakan tersebut terdapat tiga hal penting yang harus dibangun secara bersama-sama, yakni jamaah, jam’iyah, dan jariyah.“Jamaah melahirkan kebersamaan, jam’iyah mengelola kebersamaan menjadi gerakan, dan jariyah memastikan gerakan meninggalkan manfaat yang berkelanjutan,” jelasnya.
Jamaah Membangun Kebersamaan
Ustaz Burhanudin menjelaskan, jamaah merupakan sekelompok orang yang berkumpul dan bergerak bersama dalam kebaikan. Dalam konteks Muhammadiyah, jamaah harus dibangun dengan ukhuwah, saling percaya, kepedulian, musyawarah, serta kesediaan berbagi peran.
Ia mengingatkan agar warga Muhammadiyah tidak berhenti pada kesamaan identitas, tetapi mampu menghadirkan kerja bersama dan kepedulian nyata terhadap masyarakat.
Hal tersebut sejalan dengan firman Allah SWT:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Jam’iyah Mengubah Kebersamaan Menjadi Gerakan
Selanjutnya, Ustaz Burhanudin menjelaskan bahwa jam’iyah merupakan wadah untuk mengorganisasi kebersamaan agar menjadi gerakan yang terarah, sistematis, dan berkelanjutan. Muhammadiyah, kata dia, memiliki berbagai amal usaha dan organisasi otonom sebagai sarana dakwah dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.
Karena itu, jam’iyah membutuhkan visi yang jelas, kader yang siap bergerak, manajemen yang baik, pembagian tugas, serta regenerasi.
“Jamaah tanpa jam’iyah bisa kehilangan arah, sedangkan jam’iyah tanpa ruh jamaah bisa kehilangan jiwa,” ungkapnya.
Jariyah, Warisan Kebaikan yang Terus Mengalir
Bagian penting lainnya adalah bagaimana perjuangan yang dilakukan hari ini dapat memberikan manfaat setelah seseorang tidak lagi aktif. Ustaz Burhanudin mengajak jamaah melakukan refleksi: Apa yang kita tinggalkan setelah kita tidak lagi aktif?
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara, yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. (HR. Muslim).
Menurutnya, jariyah dalam kehidupan Muhammadiyah tidak hanya berupa uang atau bangunan. Jariyah dapat berupa sekolah yang terus mendidik generasi, rumah sakit yang terus memberikan pelayanan, tanah wakaf, masjid, ilmu yang disebarluaskan, kader yang meneruskan dakwah, hingga sistem organisasi yang tetap berjalan setelah seseorang selesai menjalankan amanah.
“Ukuran keberhasilan seorang aktivis bukan hanya seberapa banyak yang ia kerjakan, tetapi juga seberapa banyak kebaikan yang tetap berjalan setelah ia tidak lagi berada di sana,” tuturnya.
Jamaah, Jam’iyah, dan Jariyah Harus Berkesinambungan
Ustaz Burhanudin kemudian menggambarkan hubungan ketiganya secara sederhana.
Jamaah membangun manusia dan ukhuwah. Jam’iyah mengorganisasi potensi dan menggerakkannya secara sistematis. Jariyah memastikan manfaat perjuangan terus berlanjut.
Karena itu, warga Muhammadiyah diharapkan tidak sekadar hadir sebagai anggota persyarikatan, tetapi ikut berkontribusi menghidupkan organisasi dan menyiapkan generasi penerus.
Di tingkat keluarga, semangat tersebut dapat diwujudkan dengan membiasakan ibadah dan belajar agama bersama, mengenalkan Muhammadiyah kepada generasi muda, serta menanamkan semangat sedekah, wakaf, berorganisasi, dan berkhidmat.
Sementara di tingkat ranting, cabang, dan daerah, gerakan dapat diperkuat melalui pengajian, silaturahmi, pelayanan warga, pembinaan kader, pengembangan amal usaha, penguatan ekonomi, kolaborasi, dan regenerasi kepemimpinan.
Pada bagian akhir tausiyah, Ustaz Burhanudin mengajak jamaah melakukan tiga muhasabah.
Pertama, tentang jamaah: apakah kehadiran kita membuat jamaah semakin kuat atau justru terpecah?
Kedua, tentang jam’iyah: apakah kita hanya menjadi anggota organisasi atau benar-benar memberikan kontribusi untuk menghidupkannya?
Ketiga, tentang jariyah: jika suatu saat kita tidak lagi aktif, kebaikan apa yang masih berjalan karena pernah kita kerjakan?
Ia menutup tausiyah dengan pesan bahwa Muhammadiyah membutuhkan warga yang tidak hanya hadir, tetapi juga bergerak dan meninggalkan warisan kebaikan.
“Mari kita bangun jamaah yang rukun, jam’iyah yang kuat, dan jariyah yang panjang manfaatnya,” pungkasnya.
Kegiatan ini ditutup dengan doa dan bakti sosisl penyerahan paket sembako dari Lazismu Sidoarjo dan Komunitas Peduli Sosial (KPS) Gedangan. (ridwan manan)
