Rezeki Itu dari Allah Bukan dari Makhluk-Nya

*) Oleh : Ferry Is Mirza
Jurnalis senior dan aktivis Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Allah Wa Ta’ala adalah penjamin dan yang membagikan rezeki di antara hamba-hambaNya, melapangkan rezeki sebagian manusia dan menyempitkan rezeki sebagian yang lain, hal itu dilakukan untuk suatu hikmah yang sempurna.

Ketahuilah! Rezeki bagaikan hujan yang tidak terbagi secara merata. Hujan, terkadang turun di daerah pegunungan, tidak di padang sahara atau sebaliknya. Terkadang turun di pedesaan tidak di perkotaan atau sebaliknya dan begitu seterusnya. Hujan bisa membawa rahmat, tapi terkadang bisa mendatangkan derita.

Maka dari itu bersabarlah dan terus berdoa dan berusaha. Karena  yang mengatur rezeki itu Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan kita. Dan yakinlah jika rezeki kita masih ada, Allah Subhanahu Wa Ta’ala pasti akan segera mengirim yang menjadi rejeki kita

Begitulah harta atau bahkan dunia secara umum! Allah Subhanallah wa Ta’ala tidak membagikannya merata kepada setiap orang. Ada yang kaya, ada yang miskin dan ada yang berkecukupan. Harta, terkadang bermanfaat bagi hamba, terkadang harta bisa menyeretnya ke lembah nista yang berujung derita.

Allah Wa Ta’ala berfirman,

“Dan Allah melebihkan sebagian kalian dari sebagian yang lain dalam hal rezeki” (QS. An-Nahl: 71)

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya di antara hamba- hambaNya dan Dia pula yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS.Al-‘Ankabuut: 62)

Ulama ahli tafsir, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:

“Maka di antara makhluk ada yang kaya dan ada pula yang miskin. Dan Allah Maha Mengetahui tentang apa yang cocok bagi masing-masing di antara mereka dan Maha Mengetahui siapa saja yang cocok berstatus kaya dan siapa saja yang cocok berstatus miskin.”

Karena itu mari kita kita semua selalu ingat bahwa si miskin dan si kaya, keduanya sama saja di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, asal sama- sama bertakwa.

Allah Wa Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kalian” (QS. Al-Hujuraat:13)

Sebagai orang yang beriman, kita tentunya meyakini Allah-lah yang Maha Memberi rezeki. sebagaimana kalamNya;

“Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS.adz-Dzariyat: 58)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, :

”Wahai orang-orang yang beriman ! Makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami Berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar- benar kepadaNya kamu menyembah.” (QS. al-Baqarah: 172)

Carilah rezeki dengan cara yang halal

Mari kita simak bersama hadis nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud berikut ini:

“Sesungguhnya ruh qudus atau malaikat Jibril, telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki.”

Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepadaNya. Maka jangan sampai berputus asa ketika belum mendapatkan rezeki yang halal sehingga menempuh cara dengan maksiat pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Jangan sampai kita berucap,:

“Rezeki yang haram saja susah, apalagi rejeki yang halal ?” Na’udzubillah!

Dalam hadis di atas berarti diperintahkan untuk mencari rezeki yang halal. Janganlah rezeki tadi dicari dengan cara bermaksiat atau dengan menghalalkan segala cara.

Kenapa ada yang menempuh cara yang haram dalam mencari rezeki? Di antaranya karena sudah putus asa dari rezeki Allah sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Intinya karena tidak sabar. Seandainya mau bersabar mencari rezeki, tetap Allah beri karena jatah rezeki yang halal sudah ada.

Mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa mencari rezeki dengan cara yang halal dan baik, kemudian kita dapat memanfaatkannya di jalan yang diridai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah telah menentukan pembagian rezeki di antara hamba-hambaNya, lalu ada yang miskin ada pula yang kaya. Adapun bagi orang yang ditakdirkan miskin, maka di antara hikmahnya, agar hamba yang miskin tersebut merasa senantiasa membutuhkan Allah, sehingga muncullah berbagai macam bentuk peribadatan dari dirinya, baik ibadah yang lahir maupun yang batin.

Demikian juga bagi orang yang kaya, ia akan mengetahui dan merasakan betapa besarnya nikmat Allah atas dirinya. Sehingga akan terdorong untuk mensyukurinya.

Jika demikian sikap si miskin dan si kaya tersebut, maka sesungguhnya kekayaan dan kemiskinan itu sama saja bagi seorang muslim, yaitu sama-sama sebagai ujian dari Allah asalkan seseorang sudah sungguh -sungguh berusaha mengambil yang bermanfaat dalam hidupnya sesuai dengan ajaran Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Wahai saudaraku yang sedang ditakdirkan miskin, tidakkah kita ingin menggapai janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala, berikut ini:

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar :10)

Wahai saudaraku yang sedang diuji dengan kekayaan, tidakkah Anda ingin mencontoh sosok figur panutan dalam mensikapi kekayaan, yaitu Nabi Sulaiman ‘alaihis salam, seperti yang dikisahkan dalam kisah berikut ini:

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari akan nikmatNya. Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia” (QS. An-Naml : 40)

In syaa Allah bermanfaat, silakan dishare untuk meraih pahala amal jariyah. ||  ismirzaf@gmail.com ; fimdalimunthe55@gmail.com

 

Tinggalkan Balasan

Search