Saatnya Perguruan Tinggi dan Sekolah dalam Satu Ekosistem Pendidikan

Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII Tahun 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center. (ist)
www.majelistabligh.id -

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan nasional tidak bisa dilakukan secara parsial.

Perguruan tinggi—khususnya Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK)—serta satuan pendidikan dasar dan menengah harus membangun ekosistem yang solid dan saling terhubung guna mencetak guru berkualitas.

Himbauan tersebut disampaikan Mendikdasmen saat membuka Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) XII Tahun 2026 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali, Jumat (2/10/2026).

Mendikdasmen Abdul Mu'ti.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

“Bicara soal ekosistem berarti bicara tentang saling ketergantungan, saling mengisi, dan saling memperkuat,” ujar Abdul Mu’ti, dalam siaran pers Sabtu (3/10/2026).

Menurutnya, mutu guru berbanding lurus dengan kualitas perguruan tinggi yang mencetaknya. Guru yang kompeten kelak akan melahirkan generasi murid yang berkualitas pula.

Guna mencapai target tersebut, Mendikdasmen mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menghentikan budaya saling menyalahkan dan mulai bergotong royong. Berbagai tantangan pendidikan saat ini harus dijadikan momentum bersama untuk mempererat kolaborasi.

Pandangan ini sejalan dengan pernyataan Rektor Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), I Wayan Lasmawan. Ia menegaskan bahwa LPTK memegang peran vital sebagai jantung ekosistem pendidikan yang harus responsif mencari solusi atas dinamika profesi guru.

“LPTK tidak hanya hadir untuk mengeluhkan masalah, tetapi wajib menjadi bagian dari solusi secara bersama-sama,” tegas Lasmawan.

5 Kebijakan Prioritas

Dalam forum tersebut, Mendikdasmen memaparkan lima kebijakan strategis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang membutuhkan dorongan kuat dari perguruan tinggi dan LPTK:

  1. Pembelajaran Mendalam (Deep Learning): Pendekatan akademik yang dirancang untuk mengatasi persoalan mendasar pembelajaran, seperti fenomena schooling without learning serta menurunnya rentang perhatian (attention span) siswa.
  2. Penguatan Pendidikan Karakter: Optimalisasi peran Bimbingan dan Konseling (BK) dengan pendekatan yang lebih humanis dan berfokus pada pendampingan siswa.
  3. Penguatan Pembelajaran STEM: Mendorong penguasaan Science, Technology, Engineering, and Mathematics agar SDM Indonesia mampu mengolah sumber daya alam menjadi produk bernilai tinggi. Kemendikdasmen mengusung konsep STEM 5M (mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful).
  4. Bahasa Inggris sebagai Mapel Wajib: Dimulai dari kelas 3 SD pada tahun akademik 2027–2028. Guru kelas akan dibekali pelatihan dasar bahasa Inggris berbasis pendekatan komunikatif yang interaktif.
  5. Pengenalan Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI): Penerapan materi koding dan AI sebagai opsi pembelajaran mulai dari kelas 5 SD hingga jenjang SLTA.

Mendikdasmen menekankan bahwa keberhasilan kelima program tersebut memerlukan peningkatan kapasitas dan kompetensi guru secara berkelanjutan melalui keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam menyelenggarakan pelatihan.

Dukungan senada disampaikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto. Ia menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan Kemendikdasmen demi menciptakan talenta unggul Indonesia.

“Kami ingin pendidikan, riset, dan inovasi yang dihasilkan pendidikan tinggi memberikan dampak nyata yang luas bagi masyarakat,” tutup Brian. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search