Salat adalah fondasi utama penopang keislaman seseorang. Jika salat ditegakkan, bangunan agama akan kokoh; jika salat ditinggalkan, maka bangunan agama akan roboh.
Tentang salat sebagai tiang agama, Rasulullah saw bersabda:
رَأْسُ الْاَمْرِ الْاِسْلاَمُ ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ
“Pokok perkara adalah Islam, tiangnya salat dan puncaknya jihad fii sabiilillah.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Salat merupakan amal saleh yang paling dicintai Allah. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Hadis ini tercatat secara sahih di dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim
Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apa yang paling dicintai Allah Ta’ala?” Beliau menjawab, “Salat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Berjihad fii sabiilillah.”
Salat adalah amal saleh yang pertama kali dihisab pada hari kiamat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ
“Pertama kali yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Jika baik salatnya, maka baiklah seluruh amalnya dan jika buruk, maka buruklah seluruh amalnya.” (HR. Thabrani, lih. Shahihul Jami’ no. 2573)
Salat adalah wasiat terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, Beliau bersabda:
اَلصَّلاَةَ الصَّلاَةَ ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
“Jagalah salat, jagalah salat, dan berbuat baiklah kepada budak yang kalian miliki.” (HR. Thabrani, lih. Shahihul Jami’ no. 3873)
Allah Swt memerintahkan kita menjaga salat, baik ketika hadhar (tidak safar) maupun ketika safar, ketika suasana aman maupun suasana mencekam. Dia berfirman: QS. 2:238:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
- 2:239:
فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا ۖ فَإِذَا أَمِنتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
“Peliharalah semua salat(mu), dan (peliharalah) salat wusthaa (Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam salatmu) dengan khusyu’.—Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka salatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (salatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 238-239)
Kandungan Utama Ayat Perintah Menjaga Salat:
- Menekankan kewajiban memelihara salat lima waktu secara tepat waktu dan memenuhi syarat serta rukunnya.
- Keutamaan Salat Wustha: Jumhur ulama menafsirkan salat wustha sebagai Salat Ashar karena posisinya yang berada di tengah.
- Salat dalam Kondisi Darurat (Khauf): Keringanan (rukhsah) tetap diberikan untuk mendirikan salat meski dalam situasi perang atau bahaya, dengan cara berjalan kaki atau berkendaraan menghadap ke mana saja.
Ibadah salat adalah waktu istirahat yang ditunggu-tunggu orang Islam. Namun, tak jarang yang menyepelekannya. Ibadah salat menjadi beban, sehingga berat untuk melaksanakannya. Tidak sedikit yang lantas meninggalkan ibadah salat. Suatu ketika Rasulullah saw berkata kepada Bilal bin Rabah, budak yang dibebaskan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dari majikannya Abu Jahal,
يَا بِلَالُ، أَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ
(atau dalam riwayat lain menggunakan kata ganti tunggal: أَرِحْنِي بِالصَّلَاةِ)
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (no. 4985) dan Imam Ahmad (no. 23088) dari sahabat Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu, yang menunjukkan bagaimana Rasulullah saw menjadikan salat sebagai sarana utama untuk meraih ketenangan dan istirahat yang hakiki.
Ibadah salat merupakan mukjizat yang paling berharga yang disampaikan Allah secara langsung kepada Nabi Muhammad saw tanpa perantara Malaikat Jibril. Karena itu Rasulullah saw bersabda, “Ash-salatu mi’rajul mu’minin”(Salat merupakan mi’raj (komunikasi langsung) seorang mukmin kepada Tuhannya).”
Mukjizat salat yang telah disampaikan pada peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa kemudian di Sidratul Muntaha, merupakan sebuah pencerahan bagi umat Islam. Salat menjadi pertanda saat seorang hamba ingin mendekat kepada Khaliknya. Dengan salat, seorang hamba mengadu pada Tuhan-Nya. Hatinya akan senantiasa tertambat di jalan Allah. Sehingga yang ada pencerahan rohani lewat salat dengan catatan pelaksanaan salat bukan sebuah beban yang sangat berat akan tetapi sebuah faktor kebutuhan.
Nah, jila salat sudah menjadi kebutuhan, maka seorang Muslim akan senantiasa melakukan salat secara suka rela dan khusyuk. Kualitas hubungan dengan Tuhannya menjadi mesra dan baik. Itu adalah hal yang paling utama. Salat bukan lagi sekadar pelepas kewajiban demi perintah Allah dan memenuhi anjuran Nabi saw. Akan tetapi salat akan menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seorang muslim dalam kehidupan sehari-harinya. (*)
