Serikat Usaha Muhammadiyah, Filosofi dan Sikap Masyarakat Yiwu China

Serikat Usaha Muhammadiyah, Filosofi dan Sikap Masyarakat Yiwu China
*) Oleh : Anwar Abbas
Ketua PP Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Kota Yiwu berlokasi di bagian tengah Provinsi Zhejiang, Tiongkok Timur. Tetapi meskipun kota ini secara administratif hanya “setingkat kabupaten”, tetapi secara global memiliki pengaruh ekonomi yang sangat besar karena dikenal sebagai pusat pasar grosir komoditas industri ringan terbesar di dunia.

Di kota ini terutama di kawasan seperti Exotic Street, atmosfer internasional sangat menonjol, tampak dari banyaknya papan nama berbahasa Arab dan Korea, serta restoran halal internasional dan kantor logistik berskala global.

Hal itu tentu saja membuat para ahli sejarah dan pengamat pembangunan geleng-geleng kepala karena Kota Yiwu sebelumnya dikenal sebagai sebuah kawasan berbasis pertanian yang terisolasi karena dikelilingi oleh pegunungan dan tidak berbatasan dengan lautan.

Tanahnya dikenal tidak subur sehingga banyak masyarakatnya yang hidup dalam kemiskinan dan keterkebelakangan. Sekedar gambaran singkat sampai tahun 1980an, Yiwu belumlah apa-apa. Dia hanya merupakan deretan lapak jalanan darurat yang kumuh. Perubahan besar baru terjadi setelah Xie Gaohua ditunjuk sebagai sekretaris Yiwu bulan April 1982.

Salah satu hal yang dia lakukan yaitu mengizinkan rakyatnya untuk berdagang secara legal di Yiwu dengan membuka pasar komoditas kecil gratis pertama di Tiongkok. Hal itu bisa dilakukan Xie Gauhua karena sejalan dengan ide dan gagasan Reformasi Ekonomi China yang dijalankan oleh Deng Xiaoping. Xie Gauhua membuat sebuah strategi yang jitu yaitu mengembangkan perdagangan untuk membangun kota.

Artinya untuk memajukan Yiwu sebagai kota, maka pemerintah dan masyarakat harus secara bersama-sama memajukan perdagangan sehingga akhirnya kita lihat hari ini. Yiwu telah bertransformasi total menjadi kota yang maju dan modern serta memiliki kompleks pasar grosir terbesar di dunia dengan luas mencapai lebih dari 4–5 juta meter persegi. Lebih dari 75.000 kios yang menjual lebih dari 2,1 juta jenis komoditas kecil serta memiliki jaringan perdagangan global yang mengekspor barang ke lebih dari 200an negara dan wilayah.

Karena kemajuan Yiwu cukup pesat maka para pendatang dan pertumbuhan jumlah penduduknya juga cukup pesat sehingga penduduk kota Yiwu sekarang diperkirakan sekitar 1,9 juta jiwa. Di samping itu sebagai kota yang maju dan modern, Yiwu juga memiliki banyak gedung-gedung tinggi.

Diantaranya yang tertinggi yaitu Gedung Yiwu World Trade Center, ketinggiannya sekitar 215 meter, terdiri dari 62 lantai. Ini merupakan kompleks serbaguna yang mencakup ruang komersial, apartemen, pusat perbelanjaan, serta hotel mewah.

Di samping itu, kota Yiwu juga telah berkembang menjadi salah satu kota paling internasional di Tiongkok. Setiap tahun ratusan ribu pedagang asing mengunjungi kota ini, dan puluhan ribu di antaranya telah menetap secara permanen.

Kira-kira apa yang membuat Yiwu bisa berkembang cepat seperti itu ? Salah satunya yaitu filosofi dan sikap dari masyarakatnya sendiri yang telah membuat para pengusaha dari Yiwu menjadi sukses. Sekurang-kurangnya ada empat hal yang telah berperan besar dalam membuat Yiwu menjadi maju dan modern.

Pertama, filosofi dan semangat Ji Mao Huan Tang yaitu semangat bulu ayam yang mereka tukar atau barter dengan permen. Dahulu wilayah Yiwu ini dikenal sangat miskin karena mereka tidak memiliki lahan pertanian yang subur.

Akhirnya mereka memutar otak dan membuat permen untuk mereka jual dan tukarkan dengan bulu ayam. Bulu ayam itu mereka pilah-pilah lalu mereka buat kemoceng atau kerajinan tangan untuk mereka jual kembali. Kalau masih ada bulu ayam yang tersisa dan tidak terpakai, itu mereka buat menjadi pupuk organik untuk memperbaiki kondisi tanah pertanian di Yiwu yang dikenal gersang.

Jadi kebiasaan berdagang yang dijalankan dari pintu ke pintu oleh masyarakat Yiwu tersebut telah membuat mereka menjadi pengusaha handal yang telaten dan tangguh walaupun mereka hanya memiliki modal sangat terbatas. Tetapi keadaan itu pulalah tampaknya yang telah membentuk mentalitas dari para pedagang Yiwu sehingga akhirnya mereka bisa membangun dan mengembangkan pasar internasional Yiwu modern seperti yang ada sekarang ini.

Kedua, orang Yiwu tidak selalu mengejar profit. Mereka memegang prinsip, sebuah usaha akan tetap berarti dan bermakna selama usaha tersebut masih bisa menghasilkan uang dan uang yang mereka dapat itu mereka investasikan dan putar kembali ke dalam dunia bisnis dan perdagangan .

Ketiga, para pedagang Yiwu sangat peka terhadap dinamika pasar global dan reaksi mereka dikenal sangat cepat untuk beradaptasi dengan perkembangan yang ada. Hal itu bisa terjadi karena mereka sangat didukung oleh ekosistem rantai pasok manufaktur yang lengkap, sehingga mereka bisa langsung memproduksi barang-barang apa pun yang sedang viral dan dibutuhkan oleh masyarakat termasuk masyarakat dari belahan bumi lain.

Keempat, pengusaha Yiwu dikenal sangat realistis dan fokus pada potensi ekonomi yang ada di depannya. Mereka tampak sangat mendahulukan kepentingan konsumen dari pada kepentingan ego dan atau idealisme pribadi. Oleh karena itu jika ada permintaan maka mereka akan membuat dan mensuplainya, misalnya ada permintaan terhadap pernak-pernik natal dan juga terkait peralatan ibadah orang Islam terutama ibadah haji atau lainnya.

Jadi bagi orang Yiwu memproduksi atribut religi dan simbol-simbol budaya global tidak menjadi masalah. Para pengusaha Yiwu melihat hal demikian sebagai sesuatu yang murni merupakan respon mereka terhadap persoalan pemenuhan pesanan konsumen semata yang itu mereka kerjakan sesuai dengan standar profesionalitas yang tinggi.

Ketika filosofi, sikap dan cara pandang para pengusaha Yiwu ini saya tanyakan kepada Ghufron Mustaqim, Sekjen Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) dia dengan tegas mengatakan kita akan tiru filosofi, semangat dan kerja keras dari para pengusaha Yiwu ini dengan kritisisme. Artinya jika baik, kita ambil dan jika tidak baik kita tinggalkan karena yang kita cari dalam kehidupan ekonomi dan bisnis ini, kata Ghufron tegas, tidak hanya profit saja tapi juga berkah dari Allah Swt. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search