Sumpah Pemuda: Seremoni atau Momentum Kebangkitan Generasi?

Sumpah Pemuda: Seremoni atau Momentum Kebangkitan Generasi?
*) Oleh : Arif Dwi P.
Mahasiswa STIT Muhammadiyah Kediri.
www.majelistabligh.id -

Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda, momentum bersejarah ketika para pemuda berikrar bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan: bahasa Indonesia. Namun, di tengah perubahan zaman, muncul pertanyaan yang patut kita renungkan: apakah kita hanya mengenang sejarah dan merayakannya, atau benar-benar meneruskan semangatnya lewat tindakan?

Pemuda bukan sekadar pewaris kemerdekaan, melainkan penggerak perubahan sekaligus penentu arah masa depan bangsa. Karena itu, Sumpah Pemuda akan bermakna jika semangatnya hidup dalam pendidikan, karya, kepedulian sosial, persatuan, dan integritas, bukan berhenti pada upacara dan unggahan peringatan.
Ke Mana Perginya Semangat Pemuda?

Di era digital, pemuda memiliki akses luas terhadap informasi dan peluang pengembangan diri. Teknologi membuka kesempatan untuk belajar, berkarya, dan membangun jaringan. Meski begitu, sebagian anak muda lebih banyak menghabiskan waktu di dunia digital daripada terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungannya. Di sisi lain, banyak pula pemuda yang aktif berorganisasi dan memperjuangkan perubahan.

Gambaran ini bisa kita lihat dalam kehidupan bermasyarakat. Di sejumlah lingkungan, kegiatan remaja masjid mulai sepi, karang taruna terkadang lebih banyak digerakkan oleh orang tua, dan majelis-majelis ilmu didominasi kalangan dewasa.

Tentu fenomena ini tidak mewakili seluruh pemuda Indonesia. Namun, pertanyaannya tetap layak diajukan: ke mana para pemuda ketika masyarakat membutuhkan gagasan dan kontribusi mereka?

Persoalannya tidak selalu terletak pada kurangnya kemauan. Bisa jadi, mereka belum menemukan ruang yang sesuai dengan minat dan potensinya. Karena itu, menuntut mereka agar aktif saja tidak cukup. Keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat juga perlu menyediakan kesempatan, pendampingan, serta kepercayaan agar generasi muda berani mengambil peran.

Ketika Perilaku Buruk Dianggap Biasa
Tantangan generasi muda tidak hanya rendahnya partisipasi sosial, tetapi juga pembentukan karakter dan moral. Beragam konten media sosial dapat memengaruhi cara pandang anak dan remaja terhadap pergaulan serta gaya hidup. Ketika popularitas menjadi ukuran utama, perilaku yang kurang baik berpotensi dianggap wajar hanya karena sedang menjadi tren.

Teknologi bukan sesuatu yang harus dijauhi. Media digital justru bisa menjadi sarana pendidikan, dakwah, kreativitas, dan gerakan sosial. Yang menentukan adalah bagaimana teknologi digunakan dan nilai apa yang disebarkan lewat dirinya.

Kita juga perlu memberi perhatian serius pada kekerasan yang melibatkan anak dan remaja. Pemberitaan tentang seorang anak penyandang disabilitas di Surabaya yang meninggal dunia setelah diduga mengalami perundungan menjadi pengingat bahwa empati, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap sesama harus ditanamkan sejak dini. Pembentukan sikap itu dimulai jauh sebelum seseorang disebut pemuda.

Peristiwa seperti ini tidak boleh dijadikan alasan untuk menghakimi seluruh generasi muda. Sebaliknya, kita perlu mengevaluasi lingkungan pendidikan, pola pengasuhan, dan kepedulian masyarakat dalam membentuk perilaku anak. Setiap anak perlu belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk merendahkan orang lain, apalagi melakukan kekerasan.

Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat Harus Berjalan Bersama
Pembentukan karakter tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. Keluarga, sekolah, dan masyarakat harus melangkah bersama dalam mendidik generasi muda.

Keluarga adalah lingkungan pendidikan pertama. Orang tua perlu memberi teladan, membangun komunikasi terbuka, dan berani mengingatkan anak ketika berbuat salah. Kasih sayang bukan berarti membenarkan semua tindakan anak, melainkan membimbingnya agar mampu membedakan yang benar dan yang salah serta bertanggung jawab atas perbuatannya.

Sekolah pun tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik. Pendidikan karakter, penghormatan terhadap perbedaan, dan pencegahan perundungan harus menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Kecerdasan tanpa tanggung jawab moral mudah kehilangan arah, sedangkan pengetahuan yang disertai akhlak memberi manfaat bagi banyak orang.

 

Tinggalkan Balasan

Search