Sumpah Pemuda: Seremoni atau Momentum Kebangkitan Generasi?

Sumpah Pemuda: Seremoni atau Momentum Kebangkitan Generasi?
*) Oleh : Arif Dwi P.
Mahasiswa STIT Muhammadiyah Kediri.
www.majelistabligh.id -

Adapun masyarakat perlu menghidupkan ruang-ruang positif seperti remaja masjid, karang taruna, komunitas literasi, dan organisasi kemahasiswaan. Wadah-wadah ini dapat menjadi tempat pemuda belajar memimpin, memperluas wawasan, mengembangkan kreativitas, dan menumbuhkan kepedulian sosial.

Pemuda juga perlu diberi kesempatan menyampaikan gagasan dan mengambil peran. Jangan sampai kita menginginkan generasi yang aktif, tetapi menutup ruang ketika mereka ingin mencoba. Pendidikan yang baik membutuhkan keteladanan, pendampingan, dan kepercayaan.

Pemuda Beriman, Berakhlak, dan Berintegritas
Dalam Islam, masa muda adalah kesempatan berharga untuk memperkuat iman, membangun akhlak, dan memberi manfaat bagi sesama. Rasulullah saw. bersabda dalam hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.
Artinya:
“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya: pemimpin yang adil; seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah; seseorang yang hatinya terpaut pada masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah karena-Nya; seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’; seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya; dan seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian, lalu kedua matanya meneteskan air mata.”
(HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031, dari Abu Hurairah ra.; lafaz Bukhari).

Hadis ini mengingatkan kita pentingnya membangun generasi muda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah. Iman perlu tercermin dalam kejujuran, tanggung jawab, pengendalian diri, dan kepedulian terhadap sesama.

Menariknya, hadis yang sama juga menyebut pemimpin yang adil dan dua orang yang saling mencintai karena Allah. Keduanya menunjukkan bahwa kebaikan pribadi tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi berbuah pada kepemimpinan yang adil dan persaudaraan yang kokoh, dua hal yang menjadi fondasi persatuan bangsa.

Pemuda yang berakhlak tidak mudah mengikuti tren yang bertentangan dengan nilai kebaikan, dan tidak membenarkan kesalahan demi popularitas. Mereka perlu berani bersikap benar, sekalipun tidak selalu sejalan dengan arus lingkungan.

Bangsa ini membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan moral. Dengan bekal itu, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kreativitas dapat digunakan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Sumpah Pemuda Harus Menjadi Gerakan Nyata
Sumpah Pemuda bukan sekadar catatan sejarah tentang ikrar persatuan pada 28 Oktober 1928. Peristiwa itu menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang tidak menghalangi pemuda untuk membangun cita-cita bersama.
Nilai persatuan tersebut tetap relevan hingga hari ini. Di tengah perbedaan suku, agama, budaya, dan pandangan, pemuda perlu menjadi bagian dari solusi, bukan sumber perpecahan. Persatuan tidak berarti menghapus perbedaan, melainkan membangun kesediaan untuk saling menghormati dan bekerja demi kepentingan bersama.

Peringatan Sumpah Pemuda seharusnya mendorong kita mengevaluasi peran masing-masing. Sudahkah kita menyediakan ruang bagi pemuda untuk belajar dan berkarya? Sudahkah kita memberi teladan yang baik? Beranikah kita menegur perilaku yang keliru meskipun sedang menjadi tren?

Jawabannya harus kita wujudkan dalam langkah konkret: menghidupkan kegiatan kepemudaan, membangun budaya membaca, memperkuat kegiatan sosial dan keagamaan, mencegah perundungan, serta menggunakan media digital secara produktif.

Kepada para pemuda Indonesia, masa depan bangsa memang berada di pundak kalian, tetapi kalian tidak harus berjalan sendirian. Teruslah belajar, beranilah berkarya, tumbuhkan kepedulian, dan jagalah integritas. Jadilah generasi yang bijak menggunakan teknologi, berani menyuarakan kebenaran, menghargai perbedaan, dan membuktikan gagasan lewat tindakan.

Pada akhirnya, makna Sumpah Pemuda tidak diukur dari kemeriahan peringatannya, melainkan dari seberapa nyata semangat persatuan dan tanggung jawab itu hidup dalam keseharian kita.
Pemuda bergerak, Indonesia berkemajuan!

 

 

Tinggalkan Balasan

Search