Banyak orang di antara kita buru-buru berdecak kagum dan cenderung memberikan penilaian positif hanya melihat ada bangunan megah dengan plang nama lembaga amal yang bonafide terpampang di depan gedung.
Ini baru namanya lembaga amal. Begitu yang ada dalam benak kita. Apalagi jika melihat mobil ambulansnya yang berseliweran di jalanan. Semakin tertanam di hati agar lembaga amal ini patut dijadikan teladan bagi yang lain.
Tidak ada yang salah memberikan penilaian seperti itu. Hal yang wajar, karena ini sebagai bentuk apresiasi kepada pihak di balik keberhasilan dalam pengelolaan dana umat.
Sudah bukan rahasia lagi, tolok ukur masyarakat dalam menilai sesuatu acapkali dengan melihat penampilan fisiknya. Dikatakan berhasil jika ada bukti di depan mata. Sebaliknya, dikatakan gagal jika tidak ada sesuatu pun yang bisa dinilai secara fisik.
Di sinilah masalahnya. Masih belum lepas dari ingatan kita, sebuah lembaga amal yang mampu menghimpun dana miliaran rupiah untuk penyaluran bantuan ke rakyat Palestina.
Ini berawal dari liputan siaran televisi yang memberitakan perjalanan beberapa truk kontainer yang beriringan dengan spanduk besar menempel di sisi kanan-kiri kontainer bertuliskan: bantuan rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Di bawahnya tertulis nama lembaga amal yang jadi motor penggeraknya.
Momen ini memantik simpati publik. Semangat untuk membantu saudara seiman yang hidup dalam penindasan seakan mendapatkan tempat. Menurut mereka, lembaga ini amanah dan dapat dipercaya untuk menyalurkan bantuan.
Maka, saat ada permintaan donasi untuk sebuah kegiatan amal, publik langsung percaya begitu saja dengan menyerahkan sebagian rezekinya berupa zakat, infak, dan sedekah. Dalam waktu sekejap, lembaga ini mampu mengumpulkan dana dengan jumlah yang sangat fantastis.
Namun apa yang terjadi, di balik aktivitas sosialnya, tiba-tiba pada bulan Juli 2022, muncul berita yang menyesakkan dada dan membuat prihatin. Sejumlah pimpinan lembaga amal tersebut tersangkut masalah pidana dengan dugaan penyalahgunaan dana publik yang dihimpunnya.
Alhasil, gara-gara kasus hukum yang menimpa pucuk pimpinannya, ujungnya nama besar lembaga tersebut seketika runtuh, dan kepercayaan publik berangsur luntur.
Kejadian ini nyata. Beritanya sempat menghiasi halaman utama di berbagai media massa nasional. Lantas, apa hubungannya dengan Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu)?
Justru di sinilah relevansinya. Potret psikologi umat yang berorientasi pada apa yang terlihat (visual-oriented) itu bisa menjadi pintu masuk Lazismu untuk mengembangkan sayapnya. Ini bukan masalah aji mumpung atau memanfaatkan peluang dalam kesulitan pihak lain.
Kita menyadari bahwa kepercayaan publik itu tidak tumbuh dari angka-angka di atas kertas: laporan rutin penggunaan dana, hasil pemeriksaan akuntan publik, atau dokumentasi kegiatan pentasarufan. Kepercayaan tumbuh dari manfaat yang bisa dilihat dan dirasakan. Karenanya, di titik ini, seharusnya menjadi momentum bagi Lazismu untuk merespons secara positif.
Tentu saja bukan dengan membangun gedung megah atau pencitraan di televisi, melainkan dengan melahirkan program-program yang wujudnya nyata dan langsung dirasakan manfaatnya di tengah masyarakat.
Dalam hal ini, Lazismu Pusat telah menemukan passion-nya. Ada contoh nyata kegiatan yang bisa diduplikasi dan disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing. Salah satunya Klinik Apung Said Tuhuleley, yang berwujud kapal berbasis yacht, dibangun dengan dana sekitar Rp2 miliaran dari sumbangsih infak masyarakat.
Program nyata ini adalah jawaban atas paradoks negeri seribu pulau. Di Jawa, rumah sakit bisa ditempuh dalam hitungan menit. Di Maluku, yang memiliki 1.340 pulau, jarak menuju dokter tidak diukur dengan kilometer, melainkan dengan ombak dan biaya.
Maka Muhammadiyah melalui Lazismu tidak membangun rumah sakit agar pasien yang datang, melainkan membangun rumah sakit yang mendatangi pasien. Semuanya melayani secara cuma-cuma, tanpa membedakan suku, agama, dan golongan. Satu program seribu manfaat.
