Bagaimana dengan Lazismu daerah? Publik tidak menutup mata atas hasil kinerjanya. Cukup banyak kegiatan yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat dan memiliki nilai tambah ekonomi.
Ada ambulans gratis dengan konektivitas antar daerah yang bisa melayani dari ujung timur sampai ujung barat Pulau Jawa. Begitu pula ada Klinik Mobil Keliling Desa yang diprakarsai Lazismu Gresik.
Sedangkan program yang berorientasi pada pemberdayaan yang tujuannya mengubah status mustahik menjadi muzakki, telah dilakukan di Kabupaten Sragen lewat Program Kampung Berkemajuan, di Kabupaten Cilacap dengan menggarap potensi desa lewat Tani Bangkit dan Peternakan Berdaya.
Tidak kalah gregetnya, di kota-kota besar yang memiliki kantong kemiskinan, Lazismu daerah juga hadir. Di Kota Surabaya lewat Rumah Wiramuda dan Ngaji Bisnis untuk anak muda putus kerja. Di Jakarta lewat Wirausaha Mandiri Perkotaan untuk ibu-ibu korban PHK dan Rumah Singgah Pasien, dan di Bandung lewat pemberdayaan ekonomi masjid melalui Kedai Seafood Bakar di Gedebage.
Pertanyaannya kemudian: haruskah berhenti sampai di sini? Jawabannya: tentu saja tidak.
Caranya, sebagai lembaga filantropi yang tidak berorientasi pada target dan profit, Lazismu perlu lebih berikhtiar dalam memperoleh simpati publik dan daya tarik di tengah lembaga amal sejenis dengan melakukan inovasi program yang benar-benar memenuhi kebutuhan masyarakat marginal — kelompok terbesar dari delapan golongan asnaf.
Dengan program yang unik dan menarik, selain jadi “pembeda”, program itu akan jadi buah bibir pembicaraan publik. Dan buah bibir itu sendiri pada akhirnya adalah media iklan gratis yang paling jujur untuk keberadaan Lazismu.
Jika itu terjadi, para donatur dan masyarakat tidak perlu lagi bertanya atau mencari tahu, apa program Lazismu dan seberapa besar manfaat donasi yang disalurkan lewat Lazismu. Mereka melihat sendiri, merasakan sendiri, dan menceritakan sendiri.
Ini sejalan dengan harapan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, yang menegaskan: “… harus menjadi momentum untuk langkah-langkah terobosan baru bagi Lazismu, baik di dalam pembinaan ZIS maupun dalam mengembangkan program-program yang memberikan kemaslahatan dan kemajuan bagi mereka yang memperoleh dana manfaat dari Lazismu.”
Bagi Haedar, Lazismu tidak boleh berhenti hanya sebagai tukang kumpul dan tukang salur zakat, infak, dan sedekah. Ia harus menjadi kekuatan strategis yang nyata untuk mengentaskan kemiskinan. Dengan begitu, para penerima manfaat tidak terus menjadi mustahik, tetapi bisa naik kelas menjadi muzakki.
Di titik inilah dapat menjadi langkah strategis Lazismu untuk membedakan dengan lembaga amal yang lainnya.
Pada aspek akuntabilitas saja, Lazismu sudah dibebani sistem yang tidak memungkinkan terjadinya penyalahgunaan wewenang seperti halnya lembaga amal yang tersandung kasus.
Mengapa? Dana ZIS yang masuk tidak dikelola oleh segelintir orang, melainkan melalui sistem pentasarufan berlapis, diaudit syariah dan audit keuangan eksternal, serta dilaporkan secara terbuka kepada publik.
Lantas dana yang dihimpun diklasifikasi dengan jelas: mana yang untuk kedaruratan karitatif seperti ambulans dan klinik keliling, dan mana yang untuk pemberdayaan produktif yang mengubah mustahik menjadi muzakki.
Akhirnya dengan fakta ini, donatur tidak hanya sebatas melihat ambulans yang lewat atau kaum dhuafa yang mendapat bantuan gerobak, tetapi ia juga melihat dan tahu persis alur dan muara akuntabilitasnya.
Karena itu, kepercayaan kepada Lazismu tidak dibangun dari gebyar spanduk megah di jalan ataupun pencitraan di media, melainkan dari sistem yang menjaga amanah dan program yang hasilnya bisa diverifikasi.
Jika ini terus dijaga, maka menanti dampak nyata Lazismu, tidak perlu lagi dicarikan jawaban. Sebab, donatur sudah melihat jawaban nyatanya di lapangan.
Wallahu a’lam.
Sumber Referensi:
1. Antaranews. “ACT Berangkatkan Kapal Kemanusiaan Jilid 2 ke Palestina”. Antara News, Maret 2019. antaranews.com
2. Detikcom. “ACT Salurkan Bantuan Senilai Rp 5 Miliar untuk Gaza Palestina”. Detik News, Mei 2021. detik.com
3. Kompas.com. “Duduk Perkara Kasus Penyelewengan Dana Donasi ACT hingga Pendirinya Jadi Tersangka”. Kompas Nasional, Juli 2022. kompas.com
4. Muhammadiyah.or.id. “Haedar Nashir: Rakernas Lazismu Jadi Ajang Penting Perkuat Sinergi Kebijakan dan Inovasi Sosial”. Kabar Persyarikatan, November 2024. https://muhammadiyah.or.id/2024/11/haedar-nashir-rakernas-lazismu-jadi-ajang-penting-perkuat-sinergi-kebijakan-dan-inovasi-sosial/
5. Muhammadiyah.or.id. “Haedar Nashir Berharap Lazismu Tidak Sekadar Mengumpulkan-Mendistribusikan ZIS Tapi Juga Ikut Menaikkan Kelas Umat”. Kabar Persyarikatan, November 2023. https://muhammadiyah.or.id/2023/11/haedar-nashir-berharap-lazismu-tidak-sekadar-mengumpulkan-mendistribusikan-zis-tapi-juga-ikut-menaikkan-kelas-umat/
