Wacana mengenai Indonesia Emas terus menjadi perbincangan hangat menjelang satu abad kemerdekaan Republik Indonesia. Berbagai program mulai dari transformasi pendidikan, pembangunan ekonomi, hingga penguatan sumber daya manusia (SDM) gencar digalakkan. Namun, dai kondang Ustaz Adi Hidayat (UAH) mengingatkan adanya satu fondasi krusial yang kerap luput dari perhatian: ketakwaan para penyelenggara negara.
UAH menegaskan bahwa generasi masa depan tidak bisa dipisahkan dari kualitas moral dan spiritual para pemegang amanah hari ini.
“Tidak mungkin akan lahir generasi emas kalau penyelenggara negaranya tidak bertakwa. Presiden mesti takwa, menteri mesti bertakwa, gubernur, bupati, hingga wali kota juga harus bertakwa,” tegasnya melalui sebuah unggahan video singkat pada Kamis (4/6/2026).
Dalam pandangan UAH, ketakwaan bukan sekadar urusan ibadah personal, melainkan nilai fundamental yang memengaruhi cara seseorang mengambil kebijakan dan mengelola aset negara. Ia memperingatkan bahwa hilangnya moralitas dapat menjadi hulu dari sirnanya berkah sebuah negeri, termasuk kekayaan alam yang menjadi hak generasi mendatang.
“Kalau takwa hilang; mineral hilang, tambang lama-lama habis, emas hilang, nikel hilang. Bagaimana mungkin kita mengharapkan generasi yang kuat di masa depan, sementara apa yang akan mereka makan nanti sudah habis hari ini?” ujar UAH.
Pesan menohok ini selaras dengan peringatan dalam Al-Qur’an mengenai dampak buruk pengingkaran terhadap amanah dan kebenaran.
Dalam Firman Allah Swt:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الضَّالُّونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kufur dan mati sebagai orang-orang kafir tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak ada penolong bagi mereka.” (QS. Ali Imran: 91)
Dunia Pendidikan Juga Harus Berbenah
Selain sektor pemerintahan, UAH juga menyoroti institusi pendidikan yang menurutnya harus mengembalikan ketakwaan sebagai fondasi utama proses belajar-mengajar. Keberhasilan kampus tidak boleh hanya diukur dari menterengnya prestasi akademik semata.
Ia menilai, sebelum menuntut mahasiswa menjadi agen perubahan yang cerdas dan berintegritas, para pendidik dan pimpinan universitas harus memberikan keteladanan terlebih dahulu.
“Sebab saat ini banyak kampus menyelenggarakan pendidikan tanpa menyertakan nilai takwa. Sebelum mengharapkan mahasiswanya sukses dan pintar, gurunya dulu yang harus mengajar dengan takwa. Rektornya bertakwa, dekannya bertakwa, dosennya bertakwa,” tambahnya.
Konsep Pendidikan Islam
Pandangan ini sejalan dengan konsep pendidikan Islam yang menempatkan pembentukan karakter (akhlakul karimah) sebagai tujuan utama di atas penguasaan ilmu pengetahuan. Dalam sosiologi Islam, kesalehan dan keteladanan pemimpin memiliki efek domino yang besar terhadap masyarakat.
Oleh karena itu, cita-cita besar menuju Indonesia Emas harus dimulai dari perbaikan kolektif (core reform) di berbagai level struktural. Ketika nilai spiritual ini hidup dalam sistem pemerintahan, pendidikan, dan sosial, barulah impian melahirkan generasi unggul menjadi target yang realistis.
“Kalau algoritma (ketakwaan) ini kita hadirkan secara kolektif, barulah kita bisa berdoa, berharap, merencanakan, dan mendambakan lahirnya generasi emas yang sesungguhnya,” pungkas UAH. (*/tim)
