Wamen Dikdasmen: PTMA Harus Jadi Rumah Intelektual

Wamen Dikdasmen: PTMA Harus Jadi Rumah Intelektual
www.majelistabligh.id -

Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) didorong untuk terus memperkokoh posisinya sebagai rumah intelektual dan laboratorium pemikiran yang inklusif. Kebebasan akademik dan tata kelola tradisi keilmuan yang matang menjadi kunci utama agar Muhammadiyah senantiasa hadir sebagai “Tenda Bangsa” bagi seluruh elemen masyarakat.

Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dikdasmen) RI, Fajar Riza Ul Haq, saat menyampaikan orasi ilmiah dalam puncak peringatan Milad ke-68 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Edutorium KH Ahmad Dahlan, Sabtu (24/10/2026).

Dalam orasinya, Fajar yang juga merupakan alumnus UMS angkatan 1998 menyoroti capaian membanggakan UMS yang kini mengukuhkan posisi sebagai PTS terbaik di Indonesia. Menurutnya, keberhasilan UMS dan PTMA lainnya dalam bergerak menuju kampus unggul dan berkemajuan berakar pada budaya akademik serta sistem kaderisasi yang teruji.

Ia menekankan bahwa pilar utama kekuatan PTMA terletak pada konsistensinya merawat kebebasan akademik di lingkungan perguruan tinggi.

“Kebebasan akademik inilah yang meniscayakan tumbuhnya ruang-ruang berpikir yang beragam serta dialektika pemikiran yang demokratis. Kampus ini memiliki tradisi intelektual yang kuat karena ditopang budaya akademik yang kokoh, kepemilikan kampus yang inklusif, serta tata kelola yang terbuka,” ujar Fajar.

Mengenang masa studinya, Fajar menyaksikan secara langsung bagaimana UMS memberikan perhatian besar terhadap proses pembinaan kader. Komitmen tersebut terbukti sejalan dengan pembangunan fisik dan sarana-prasarana kampus yang dirancang khusus untuk menunjang aktivitas akademik civitas akademika.

“Hal yang sangat penting bagi sebuah institusi adalah memiliki memori kolektif, dan memori kolektif itu dapat dibaca serta dirasakan dari masa ke masa,” lanjutnya.

Mengakhiri refleksinya, Fajar mengajak seluruh insan akademisi Muhammadiyah untuk terus menjaga tradisi keilmuan tersebut. Cita-cita ini sejalan dengan pandangan para tokoh Muhammadiyah, seperti Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafi’i) dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, yang mendambakan Muhammadiyah sebagai rumah besar bagi semua golongan.

“Kita ingin Muhammadiyah menjadi rumah besar, menjadi tenda bangsa. Maka secara mikro, institusi kampus harus menjadi rumah intelektual dan laboratorium pemikiran. Dinamika pemikiran di dalamnya tidak boleh dibiarkan terpolarisasi, melainkan dikelola dengan baik oleh pimpinan dan seluruh civitas akademika,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search