Penguatan ekonomi umat tidak semata-mata diukur dari besarnya keuntungan materi, melainkan dari seberapa kuat nilai-nilai tauhid dan keimanan melandasinya.
Hal tersebut ditegaskan oleh Nur Aisyah Haifani dari Lembaga Halal Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Kajian di Masjid K.H. Sudja’ Kompleks RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, Ahad (4/10/2026).
Mengangkat tema “Akidah Islam untuk Penguatan Ekonomi Umat”, Nur Aisyah menyoroti tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini. Menurutnya, aktivitas ekonomi—mulai dari berdagang, Bekerja, hingga mengajar—harus dimaknai sebagai sarana ibadah dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Swt, bukan sekadar mengejar profit entitas.
“Setiap harta yang kita miliki sejatinya adalah amanah, bukan sepenuhnya hak pribadi karena ada hak orang lain di dalamnya,” ujar Nur Aisyah.
Sebagai bentuk kepedulian sosial, ia menganjurkan umat untuk konsisten menyisihkan 10 hingga 15 persen dari penghasilannya untuk berinfak.
Ia menambahkan, keyakinan akan sifat Rububiyah Allah sebagai Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) merupakan fondasi utama agar umat terbebas dari rasa takut miskin maupun sifat tamak.
Kejujuran Berdagang dan Bahaya Riba
Dalam paparannya, Nur Aisyah menautkan keberkahan niat dengan perilaku bisnis di lapangan. Mengutip hadis riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, ia mengingatkan bahwa pedagang yang jujur dan amanah akan ditempatkan bersama para nabi, orang-orang shiddiqin, dan para syuhada di akhirat.
“Cukup menjadi pedagang yang jujur saja, itu sudah luar biasa,” tegasnya.
Seiring pesatnya era digital, ia turut memperingatkan maraknya praktik riba melalui layanan pinjaman online (pinjol) ilegal yang kerap menjerat masyarakat. Merujuk hadis riwayat Jabir ra, ia mengingatkan keras larangan Rasulullah saw yang melaknat seluruh pihak yang terlibat dalam transaksi riba, mulai dari pemakan, pemberi, pencatat, hingga para saksinya.
Tak hanya riba, unsur ketidakjelasan (gharar) dan perjudian (maisir) dalam transaksi belanja daring (online) juga perlu diwaspadai. Nur Aisyah memberikan tips praktis bagi masyarakat saat berbelanja di marketplace.
“Cermati ulasan serta rating penjual sebelum bertransaksi. Sebaiknya hindari toko yang memiliki rating di bawah 4,7 untuk meminimalkan risiko kekecewaan,” sarannya. (*/tim)
